<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Herdinrusli's Weblog</title>
	<atom:link href="http://herdinrusli.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herdinrusli.wordpress.com</link>
	<description>BERBAGI INFORMASI SEPUTAR KESEHATAN.TERAPI ALTERNATIF.TIBBUN NABAWI/PENGOBATAN MENURUT PETUNJUK NABI.DAN ISLAM.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Nov 2011 02:22:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='herdinrusli.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Herdinrusli's Weblog</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://herdinrusli.wordpress.com/osd.xml" title="Herdinrusli&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://herdinrusli.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Physiotherapy pada Penyandang Autism</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/07/04/88/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/07/04/88/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 10:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fisioterapi/physiotherapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : H. Herdin S.Ft, Physio ( Mahasiswa pendidikan Profesi ) Patologi Autism 1.Pengertian Autism atau autis atau autisma berasal dari kata Auto (yunani) yang berarti berdiri sendiri. Ditemukan pertama kali oleh Dr. Leo Kanner di tahun 1943 yang melihat anak-anak ini cenderung acuh, menyendiri dan seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri. Autisme atau biasa disebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=88&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : H. Herdin S.Ft, Physio ( Mahasiswa pendidikan Profesi )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Patologi Autism</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.Pengertian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Autism atau autis atau autisma berasal dari kata Auto (yunani) yang berarti berdiri sendiri. Ditemukan pertama kali oleh Dr. Leo Kanner di tahun 1943 yang melihat anak-anak ini cenderung acuh, menyendiri dan seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Autisme atau biasa disebut <em>Autistic Spectrum Disorder</em> (ASD) merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, ber-interaksi sosial dan kemampuan ber-imajinasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Penyebab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), teori kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin<span id="more-88"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan metabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhadap metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti tenbaga, perak atau zinc</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin</p>
<p style="text-align:justify;">Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderita autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.      Anatomy Physiology</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><img src="/Users/herdin/AppData/Local/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.  Patofisiolologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan perkembangan motorik anak autisme disebabkan gangguan pada otak, yaitu adanya kelainan anatomis pada <em>lobus parietalis</em>,c<em>erebellum </em>dan <em>sistem limbiknya.</em> Kelainan pada <em>lobus parietalis.</em>menyebabkan anak tidak peduli terhadap lingkungannya, kelainan pada otak<em> </em>kecil (<em>cerebellum</em>) terutama pada <em>lobus </em>VI dan VII menyebabkan proses<em> </em>sensoris, daya ingat, berpikir, belajar berbahasa dan proses atensi (perhatian)<em> </em>terganggu. Selain itu didapatkan jumlah <em>sel Purkinye </em>di otak kecil yang sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan keseimbangan <em>serotonin </em>dan <em>dopamin</em>, yang mengakibatkan gangguan atau kekacauan lalu-lalang di otak.</p>
<p style="text-align:justify;">Daerah <em>sistem limbik </em>yang disebut <em>hippocampus </em>dan <em>amygdala </em>ditemukan juga kelainan khas yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi control terhadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya,seringkali terlalu agresif atau sangat pasif.<em> Amygdala </em>juga bertanggung jawab terhadap berbagai rangsang sensoris seperti pendengaran, penglihatan,penciuman, perabaan, rasa dan rasa takut.<em> Hippocampus </em>bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat sehingga mengakibatkan kesulitan menyimpan informasi baru, perilaku yang diulang-ulang, yang aneh dan hiperaktif (Handojo, 2004)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Epidemologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">4:1 laki dibanding perempuan</p>
<p style="text-align:justify;">Approximately 80% exhibit signs of intellectual impairment as well</p>
<p style="text-align:justify;">Approximately 6.5 per 1000 children diagnosed with ASDs</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.     Gejala</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyandang Autisma mempunyai karakteristik antara lain :</p>
<p style="text-align:justify;">Selektif berlebihan terhadap rangsang</p>
<p style="text-align:justify;">Kurangnya motivasi untuk memjelajahi lingkungan baru</p>
<p style="text-align:justify;">Respon stimulasi diri sehingga mengganggu integrasi sosial</p>
<p style="text-align:justify;">Respon unik terhadap imbalan (reinforcement),khususnya imbalan dari stimulasi diri</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku autistik digolongkan dalam 2 jenis ,yaitu</p>
<p style="text-align:justify;">Excessive (berlebihan) berupa tantrum, memukul, menggigit, mencakar, menyakiti diri sendiri/self abuse</p>
<p style="text-align:justify;">Deficit (Berkekurangan) berupa terlambat bicara, emosi tidak tepat, bermain tidak sesuai dengan permainan, perilaku sosial kurang, sering dianggap kurang mendengar</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Diagnosa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dapat melibatkan:</p>
<p style="text-align:justify;">Special educators/General educators</p>
<p style="text-align:justify;">Child Psychiatrists/Psychologists</p>
<p style="text-align:justify;">Speech pathologists</p>
<p style="text-align:justify;">Occupational therapists</p>
<p style="text-align:justify;">Physiotherapists</p>
<p style="text-align:justify;">Physicians</p>
<p style="text-align:justify;">Developmental and Behavioral Pediatricians</p>
<p style="text-align:justify;">Geneticists and Pediatric neurologists</p>
<p style="text-align:justify;"><em> Symptoms are often measurable by 18 months of age </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>The main differentiating characteristics from other developmental disorders appear in the 20-month to 36-month age range </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Depends on involvement of cognitive impairment</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.</strong><strong> </strong><strong><em>Role of therapists and medical team</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Early recognition and evaluation</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Chronic management </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Primary goals of treatment;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maximize the child’s ultimate functional independence </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maximize quality of life </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Minimizing the core ASD features</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Facilitating development and learning</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Promoting socialization</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Reducing maladaptive behaviors</em></p>
<p style="text-align:justify;">n  <em>Educating and supporting families </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>7. Intervension</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Multidisciplinary approach essential<strong> </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Special educators/General educators</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Child Psychiatrists/Psychologists</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Speech pathologists</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Occupational therapists </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Physiotherapists</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Physicians</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Developmental and Behavioral Pediatricians</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Geneticists</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pediatric neurologists </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8.Indikator Autisma</strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="573">
<tbody>
<tr>
<td width="310" valign="top">Bhasa/Komunikasi</td>
<td width="263" valign="top">Hubungan   dengan Orang</td>
</tr>
<tr>
<td width="310" valign="top">1.  Ekspresi wajah datar2.  Tidak menggunakan   bahasa/isyarat tubuh</p>
<p>3.  Jarang memulai komunikasi</p>
<p>4.  Tidak meniru suara/aksi</p>
<p>5.  Tidak bicara atau sedikit   bicara</p>
<p>6. Membeo</p>
<p>7. Intonasi bicara aneh</p>
<p>8. Tampak tidak mengerti kata-kata</p>
<p>9. Menggunakan kata secara terbatas</td>
<td width="263" valign="top">1.      Tak   responsif2.      Tak ada   senyum social</p>
<p>3.      Tidak   berkomunikasi dengan</p>
<p>mata</p>
<p>4.      Kontak   mata terbatas</p>
<p>5.      Tampak   asyik bila sendiri</p>
<p>6.      Tidak   melakukan permainan</p>
<p>giliran</p>
<p>7.     Menggunakan   tangan orang dewasa sebagai alat</td>
</tr>
<tr>
<td width="310" valign="top">Hubungan dengan   Lingkungan</td>
<td width="263" valign="top">Respon terhadap   Indera/sensoris</td>
</tr>
<tr>
<td width="310" valign="top">1.  Bermain diulang-ulang2.  Marah atau tidak menghendaki   perubahan</p>
<p>3.  Berkembangnya rutinitas yang   kaku</p>
<p>4.  Memperlihatkan ketertarikan   yang sangat dan tidak fleksibel</td>
<td width="263" valign="top">1.  Kadang seperti tuli2.  Panik atau sensitif terhadap   suara</p>
<p>3.  Bermain-main dengan   cahaya/pantulan</p>
<p>4.  Memainkan jari-jari didepan   mata</p>
<p>5.  Menolak untuk disentuh</p>
<p>6.  Sangat tidak suka terhadap   pakaian dan makanan tertentu</p>
<p>7.  Sangat hiperaktif atau   inaktif</p>
<p>8.  Berputar, memutar atau   membenturkan kepala serta menggigit pergelangan</p>
<p>9.  Melompat-lompat atau   mengepak-ngepakkan tangan</p>
<p>10.Tahan atau berespon aneh terhadap nyeri   sakit</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="573" valign="top">Perkembangan   Perilaku</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="573" valign="top">1.        Kemampuan sangat baik atau sangat terlambat2.        Mempelajari ketrampilan diluar urutan normal seperti membaca tapi</p>
<p>tidak mengerti arti</p>
<p>3.        Menggambar secara rinci, tapi tidak mampu mengancing baju</p>
<p>4.        Pintar mengerjakan puzzle tapi sulit mengikuti perintah</p>
<p>5.        Berjalan pada usia normal tetapi tidak mampu berkomunikasi</p>
<p>6.        Lancar membeo tapi sulit memulai berbicara dari diri sendiri</p>
<p>7.        Suatu waktu dapat melakukan sesuatu tetapi dilain waktu tidak</p>
<p>a  mampu</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="573" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Manajemen Autis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua cara penanganan Autis yaitu dengan medika (dengan obat-obatan) atau non medika.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara non medika, bisa dengan terapi yang konsisten dengan menggunakan Terapi perilaku <em>( ABA Method</em>) ,<em>Structured teaching model</em> (TEACCH),dan <em>Developmental model</em> atau metode lain yang diharapkan dapat membantu anak dalam perkembangan perilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">ABA Method yang dikembangkan oleh Prof. Ivar Lovaas adalah merupakan metode yang terstruktur dan terukur sehingga dapat digunakan baik untuk anak normal maupun untuk anak-anak kebutuhan khusus. Metode ini sebenarnya merupakan home base program yang digunakan oleh Catherine Maurice yang telah berhasil melepaskan kedua anaknya dari Autis dengan materi yang tercantum dalam buku tersebut. Buku ini berjudul Behavioural Intervention for Young Children with Autism. Disamping itu, ABA Method termasuk mudah dilaksanakan juga mudah dalam penilaian. Hanya saja program terapi ini bukanlah program yang singkat karena membutuhkan waktu tahunan sehingga dibutuhkan pula keterlibatan seluruh anggota keluarga untuk membantu anak-anak ini menjadi anak-anak yang “normal” seperti anak-anak pada umumnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> 10.   Clinical Reasoning Physio</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai gangguan pada  menyebabkan anak autisme sulit sekali mempelajari keterampilan baru, contohnya keterampilan motorik. Keterampilan motorik sangat penting bagi anak autis untuk tetap eksis dalam menjalani tantangan hidup</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak disiplin profesi yang perlu dilibatkan untuk meningkatkan kemampuan anak autis salah satunya fisioterapi untuk mengoptimalkan kemampuan motorik kasar anak (Praptono, 2005)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8.Evidence Base Physiotherapy</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Effects of Exercise Interventions on Stereotypic Behavioursin Children with Autism Spectrum Disorder</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Purpose: The purpose of this systematic review was to synthesize evidence from studies examining the effect of exercise interventions on stereotypic</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>behaviours in children with autism spectrum disorder (ASD).</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Methods: Only exercise-related physical therapy (PT) interventions were included. A multifaceted search strategy identified studies published between</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>1980 and 2007. Quality was assessed using the American Academy of Cerebral Palsy and Developmental Medicine (AACPDM) Study Quality Scale, the</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Clinical Relevance Tool for Case Studies, and the Quality, Rigour or Evaluative Criteria tool.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Results: Seven studies (1982–2003) met our inclusion criteria; four of these used single-subject research designs, two were group studies, and one was a</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>case study. Ages and behavioural characteristics of the children (N¼25) varied among the studies. Levels of evidence ranged from II to V (of a possible</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>I–V). Study quality scores ranged from 2 to 5 (range: 0 to 7); mean ¼ 3.9, mode ¼ 5. Few studies in this area of PT practice have been published, and</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>those identified scored low levels of rigour on the AACPDM criteria.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Conclusions: Research suggests that exercise provides short-term reductions of stereotypic behaviours in children with ASD. Future research with stronger evidence levels, greater rigour, and longer-term outcome assessment is required to determine specific exercise parameters</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rekomendasi Physiotherapy berbasis evidence Base</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jogging diawali 5 menit ditingkatkan sampai 20 menit</li>
<li>Hidrotherapy session 30 menit selama 8 minggu dapat mengurangi gerakan-gerakan stereotype</li>
<li>Melempar dan menangkap bola serta walking exercise tidak mengurangi gejala autism</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengkajian Kasus</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.Pemeriksaan Physiotherapy<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> 1. Anamnesis Umum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nama                   : Ilhm</p>
<p style="text-align:justify;">Umur                    : 3,7 tahun</p>
<p style="text-align:justify;">Alamat                 : Jl.Mustafa perumahan Graha suranda no 10</p>
<p style="text-align:justify;">Jenis Kelamin      : Laki-laki</p>
<p style="text-align:justify;">Agama                 : Islam</p>
<p style="text-align:justify;">Hobby                  : Jenis barang elektronik</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.Anamnesis Khusus ( Heteroanamnesis )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keluhan utama     : Keterlambatan bicara dan kelainan perilaku dalam tidak seperti anak</p>
<p style="text-align:justify;">Sebayanya,gangguan konsentrasi ,Hiperaktif,Dressing (- ),Toiletting(-)</p>
<p style="text-align:justify;">Sifat keluhan       :  bersifat konstan</p>
<p style="text-align:justify;">Rpp                      : Sejak usia 2 tahun anak hanya bisa menyebut kata “mama”,”papa”dan</p>
<p style="text-align:justify;">Perkembangan fisik anak biasa seperti anak sebayanya,melewat fase</p>
<p style="text-align:justify;">Merangkak</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat kehamilan:Usia ibu 28 tahun,periksa teratur,di bidan,ibu selama hamil tidak pernah</p>
<p style="text-align:justify;">Sakit-sakitan,tidak pernah minum obat-obatan.kecuali penambah darah</p>
<p style="text-align:justify;">Dan vitamin.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Persalinan : cukup bulan,spontan,BBL 3000 gr,langsung menangis</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Antenatal  : Normal,kejang (-) demam pernah  1x.tidak sering muntah</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat pernikahan keluarga: (-)</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat Imunisasi :   BCG 1 kali,DPT 2 kali,Hepatitis 2 kali,Campak (-),Polio 4 kali</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat trauma     :   Pernah jatuh di tempat tidur usia 2 tahun dengan tinggi tempat tidur 50</p>
<p style="text-align:justify;">cm sebanyak 2 kali.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.Inspeksi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anak terlihat acuh tak acuh saat memasuki ruangan terapi</p>
<p style="text-align:justify;">Anak tidak menoleh ketika di panggil namanya</p>
<p style="text-align:justify;">Anak tidak megeluarkan kata-kata atau bahasa yang dapat dimengerti</p>
<p style="text-align:justify;">Anak tampak akan mengamuk jika pola atau kebiasaannya dirubah</p>
<p style="text-align:justify;">,Anak tampak menangis tanpa alasan dan penyebab yang jelas kadang berteriak</p>
<p style="text-align:justify;">Tampak anak berjalan tanpa kesulitan dan alat bantu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampak anak mempunyai kesukaan aneh pada barang barang elektronik</p>
<p style="text-align:justify;">Anak tidak meyukai kalau disentuh pada bagian mulutnya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.Pemerksaaan Fungsi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Motorik kasar</p>
<p style="text-align:justify;">Mampu duduk ,berdiri dan berjalan serta berlari</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat duduk anak mempunyai kecendrungan untuk mencari sandaran</p>
<p style="text-align:justify;">Anak tidak mampu menjaga keseimbangan selama 3 detik</p>
<p style="text-align:justify;">Anak belum mampu melakukan gerakan meloncat dengan baik</p>
<p style="text-align:justify;">Motor Planning</p>
<p style="text-align:justify;">Sulit memulai suatu gerakan yang fungsional</p>
<p style="text-align:justify;">Motorik Halus</p>
<p style="text-align:justify;">Belum memiliki koodinasi gerakan halus yang  baik sehingga anak nampak memiliki kesulitan dalam menulis,menggambar,mewarnai</p>
<p style="text-align:justify;">Anak memiliki kemampuan yang baik dalam hal meronce</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil tulisan acak-acakan karena spasi dan huruf yang belum konsisten</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan kekuatan otot</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya kelemahan pada otot –otot pada kelompok  ekstesoren dengan nilai 5-</p>
<p style="text-align:justify;">Secara umum anak memiliki kekuatan otot oktremitas atas dan bawah dengan nilai 5.tapi hasil ini relatif karena pasien sulit berkonsentrasi pada saat dilakukan tes gerak dan inkonsisten</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan Tonus</p>
<p style="text-align:justify;">Kesan hipotonus yang minimal pada otot-otot UE dan LE</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan Keseimbangan</p>
<p style="text-align:justify;">Anak kadang-kadang mempertahankan keseimbangan duduk dan berdiri namun kadang acuh tanpa ada upaya untuk mempertahankan posisi</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan koordinasi</p>
<p style="text-align:justify;">Anak kesulitan untuk memegang benda kecil terutama pulpen,belum mampu menulis lingkaran,persegi 3</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaaan ADL</p>
<p style="text-align:justify;">sulit Dressing {+},Menulis( + ) Toiletting (- + )</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan sensoris</p>
<p style="text-align:justify;">Anak hipersensitif  jika disentuh pada bagian mulut</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan refleks</p>
<p style="text-align:justify;">KPR dan APR bilateral normal dan BPR /TCR bilateral normal</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan refleks patologis</p>
<p style="text-align:justify;">Negatif</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan DDST</p>
<p style="text-align:justify;">Speech Delay dan terdapat hasil yang fail pada beberapa item motorik dan kasar serta perilaku</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan lingkar kepala dalam rentang normocephalous</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan Spesifik  DSM IV</p>
<p style="text-align:justify;">Handojo (2003) juga mengemukakan beberapa gejala autisme masa kanak berdasarkan kriteria DSM-IV, yaitu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">A.Harus ada sedikitnya 6 dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing gejala dari (2) dan (3).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>1.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala di bawah ini</em></p>
<p style="text-align:justify;">a)Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup  memadai; kontak mata sangat</p>
<p style="text-align:justify;">kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju</p>
<p style="text-align:justify;">b)Tidak bisa bermain dengan teman sebaya</p>
<p style="text-align:justify;">c)Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain</p>
<p style="text-align:justify;">d)Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal   balik</p>
<p style="text-align:justify;">2.Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">a)Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (dan tidak ada usaha untuk</p>
<p style="text-align:justify;">mengimbangi komunikasi dengan cara lain   tanpa bicara.</p>
<p style="text-align:justify;">b)Jika bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">c)Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-diulang.</p>
<p style="text-align:justify;">d)Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.</p>
<p style="text-align:justify;">3.Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">a)Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan</p>
<p style="text-align:justify;">b)Terpaku pada suatu gerakan yang ritualistik yang tidak ada gunanya</p>
<p style="text-align:justify;">c)Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang</p>
<p style="text-align:justify;">d)Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pada anak tersebut memenuhi kriteria Autis dengan didapatkan 7 item perilaku yang positif</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Diagnosa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan fungsional aktivitas akibat Autis Spectrum Disorder</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Problematik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kekuatan otot yang belum optimal</p>
<p style="text-align:justify;">Motor kontrol yang inkonsisten</p>
<p style="text-align:justify;">Aktivitas kehidupan sehari-hari</p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan perilaku</p>
<p style="text-align:justify;">Gangguan wicara</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penataksanaaa terapi</strong></p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>Nomor</strong></td>
<td width="138" valign="top"><strong>Problematik</strong></td>
<td width="132" valign="top"><strong>Modalitas</strong></td>
<td width="228" valign="top"><strong>Dosis</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">1</td>
<td width="138" valign="top">Hypotonus</td>
<td width="132" valign="top">Manual   Therapy</td>
<td width="228" valign="top">F : setiap hariI  :   Mild pressure 8xpengulangan</p>
<p>T :    MMBTS</p>
<p>T : 5   Menit</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">2</td>
<td width="138" valign="top">Muscle   power yang belum optimal</td>
<td width="132" valign="top">Strenthening   Exercise</td>
<td width="228" valign="top">F  : 1kali sehariI   :  5   kali /fokus</p>
<p>T    :  Aktivitas physic      ball</p>
<p>Trowing</p>
<p>Caching.Skipping,Hopping</p>
<p>Running</p>
<p>T :    20 menit</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">3</td>
<td width="138" valign="top">Gangguan   Perilaku(Motor   Behaviour</td>
<td width="132" valign="top">Terapi   ABA ModifiKASI</td>
<td width="228" valign="top">F   : 1 kali sehariI    :    3-6 kali pengulangan</p>
<p>T   :    Modifikasi ABA &amp;</p>
<p>PMA,Brain Gym</p>
<p>T   :    45 menit</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">4</td>
<td width="138" valign="top">Sensor   Integrasi</td>
<td width="132" valign="top">Sensor   Integrasi Program</td>
<td width="228" valign="top">F     :   1 sehariI      :    Masing-masing 8 x</p>
<p>pengulangan</p>
<p>T     :    Tactil stimulasi</p>
<p>Joint</p>
<p>Aproximasi,Vestibular</p>
<p>Propriosensor.Puzzle</p>
<p>game</p>
<p>T      :    20 menit</td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top">5</td>
<td width="138" valign="top">Ganggual   Adl compleks</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="228" valign="top">F      : 1 kali sehariI       :  Fokus dan Task Activity</p>
<p>T      :   Dressing,Drawing,</p>
<p>Writing Toiletting</p>
<p>Training (- )</p>
<p>T    :   20 menit</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">ADL : menulis,menggambar, dressing.</p>
<p style="text-align:justify;">Kreativitas</p>
<p style="text-align:justify;">ABA</p>
<p style="text-align:justify;">Terapi bermain</p>
<p style="text-align:justify;">Sensor integrasi</p>
<p style="text-align:justify;">Brain Gym</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Evaluasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sesaat </span></p>
<p style="text-align:justify;">Evaluasi saat pelaksanaan terapi,dan setelah terapi berupa kepatuhan dan kontak matadan <span style="text-decoration:underline;">berkala</span></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap 3 bulan pelaksanaan terapi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Modifiksi Physiotherapy dari segi AFR<br />
</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Aquatic Physio therapy</li>
<li>Terapi Musik</li>
<li>Dolphyn Therapy</li>
<li>Perceptual Motor Activity</li>
<li>Parenting dan Outbond</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">( Please Jangan Copi Paste untuk tujuan publikasi )</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=88&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/07/04/88/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Physiotherapy pada Cardiac Heart Failure</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/06/physiotherapy-pada-cardiac-heart-failure/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/06/physiotherapy-pada-cardiac-heart-failure/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 23:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Herdin S.Ft ( Physio Unhas ) Sejak tahun 1940-1950-an bed rest yang lama sebagai standart pelayanan medis pada pasien post miocard infark berdampak buruk bukan hanya pada fisik tapi juga  psikis (Levine &#38; Lawn.1952) Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan.Rehabilitasi jantung atau yang dikenal dengan cardiac rehabilitation termasuk didalamnya   program pencegahan efek [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=76&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh : Herdin S.Ft ( Physio Unhas )</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak tahun 1940-1950-an bed rest yang lama sebagai standart pelayanan medis pada pasien post miocard infark berdampak buruk bukan hanya pada fisik tapi juga  psikis (Levine &amp; Lawn.1952) Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan.Rehabilitasi jantung atau yang dikenal dengan cardiac rehabilitation termasuk didalamnya   program pencegahan efek sekunder telah menjadi bagian yang sangat penting dalam manajemen pasien post <em>Miocard Infark</em> dan <em>post coronary artery bypass surgery</em> ( Mcburney.2001).Menurut Beazley (1975 ) penatalaksanaan Physioterapy sebagai bagian dari team cardiac rehabilitation pada kondisi <em>Congestuve cardiac failure</em> dan <em>Pulmonary congestion</em> telah lama diterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Peran Physiotherapy pada kondisi  jantung difokuskan pada aspek pemulihan fisik, khususnya meminimalkan dekondisioning akibat bed rest,peningkatan fungsi cardiovascular dan perbaikan fungsi musculuskeletal.dimulai dengan <em>assesment,breathing exercise, assisted </em>atau <em>aktiv exercise</em> untuk pasien tertentu.mengawasi proses ambulasi atau perpindahan tempat,menaiki tangga dan aktivitas lainnya.memprogramkan <em>home exercise</em> dan modifikasi aktivitas.Selanjutnya Physiotherapist tetap melaporkan kemajuan yang terkait dengan kondisi fisik pasien serta tetap berkonsultasi dengan team</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.Pengertian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium ; gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulai dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ (Ni Luh Gede Yasmin, 1993)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Defenisi ini mencakup segala kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai, termasuk perubahan dalam volume darah, tonus vaskuler dan jantung.  Gagal jantung kongetif adalah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Gagal sirkulasi, yang hanya berarti kelebihan beban sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung, seperti transfusi yang berlebihan atau anuria</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.Etiologi dan Patofisiologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis  yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta  dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel.</p>
<p style="text-align:justify;">Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, dimana akhirnya akan terjdi kongesti sistemik dan edema.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katub-katub trikuspidalis atau mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katub atrioventrikularis atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga mekanisme primer yang dapat dilihat; meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik, meningkatnya beban awal  akibat aktivasi  rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, pada keadaan istirahat. Tetapi kelainan pada kerja ventrikel  dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. Dengn berlanjutnya gagal jantung  maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Penanganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penyakit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Gejala</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup.<br />
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan. Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut. Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (<em>edema pulmoner</em>), yang menyebabkan sesak nafas.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitasng hebat. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal jantung tidur dengan posisi setengah duduk.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D.Diagnosa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang biasanya menunjukkan:<br />
- denyut nadi yang lemah dan cepat<br />
- tekanan darah menurun<br />
- bunyi jantung abnormal<br />
- pembesaran jantung<br />
- pembengkakan <em>vena</em> leher<br />
- cairan di dalam paru-paru<br />
- pembesaran hati<br />
- penambahan berat badan yang cepat<br />
- pembengkakan perut atau tungkai</p>
<p style="text-align:justify;">Foto rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung dan pengumpulan cairan di dalam paru-paru.</p>
<p style="text-align:justify;">Kinerja jantung seringkali dinilai melalui pemeriksaan <em>ekokardiografi</em> (menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan jantung) dan <em>elektrokardiografi</em> (menilai aktivitas listrik dari jantung)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>E. Pengobatan </strong></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Tujuan pengobatan adalah :<br />
- Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.<br />
- Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat farmakologi, dan<br />
- Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik, diet dan istirahat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terapi Farmakologis :</strong><br />
<em>Glikosida jantung</em>.<br />
Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung.Efek yang dihasilkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema<br />
<em>Terapi diuretik</em>.<br />
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui ginjal.Penggunaan hrs hati – hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia<br />
<em>Terapi vasodilator.</em><br />
Obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadansi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan<br />
<em>Dukungan die</em>t:<br />
Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Prinsip Penanganan Fisioterapi</strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Prinsip terapi pada penderita cardiac failure adalah : untuk menghilangkan  atau mengurangi penyebap failure dengan :</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Mengurangi  kebutuhan jantung selama failure (serangan )</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Memperbaiki fungsi myocardium.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Mengurangi cairan extraceluler dan volume plasma.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;">Menghilangkan penyebap mungkin dapat dilakukan dengan cara operasi atau hypertensi dengan obat hipertensi, infeksi paru dengan antibiotik dan fisioterapi dan lain – lain.</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Mengurangi kebutuhan Myocardium : memerlukan istirahat dengan kursi yang memakai lengan,cardiac bed dengan kedua tungkai bebas ( tergantung ) atau halflying serta mengurangi ketakutan atau kecemasan dengan banyak tidur .istirahat  biasanya diberikan dalam satu periode kira – kira 3 minggu atau sampai udem berkurang..</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Relaksasi diajarkan pada pasien yang sangat tegang untuk memperbaiki kemampuannya istirahat.</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Diet juga secara hati – hati diatur antara lain : porsi dan cairan pertama kali harus dikurangi Memperbaiki fungsi myocardium : pertama kali dengan memberikan oksigen,agar jaringan otot tidak degenerasi karena kurangnya oksigen.</p>
<ul style="text-align:justify;"></ul>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Latihan akhir yang diberikan adalah aktifitas seperti : keluar bed,berjalan yang mulai jarak pendek dengan langkah lambat lalu ditingkatkan.derajat laytihan klasifikasi jantung mungkin dapat digunakan setelah pulang untuk mencoba meninggkatkan toleransi miocardium dan mencegah pasien menjadi cardiac infalid ( cacat jantung ).</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Chest Infeksi dan collaps paru dapat dicegah dengan memberikan breathing exercise setiap saat dengan pasien dengan pola dan irama nafas normal.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Batuk efektif harus diberikan yang bersamaan dengan pemberian perubahan posisi dari samping kesamping.Jika otot abdomen lemah, maka batuk yang tidak efektif dibantu dari luar oleh terapis dengan bantuan dorongan tangan.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Postural Drainage; tidak boleh digunakan bila ada orthopnoe,dyspnoe saat istirahat atau syanosis.Hal ini mungkin dapat diberikan dengan cara modifikasi untuk membantu drainage (  mengalirkan ) sputum pada segmen basal jika ini menyebabkan penyempitan atau sumbatan ,tapi hal ini harus ada persetujuan dari dokter yang merawatnya.,tidak boleh oleh Physiotherapist</li>
<li style="text-align:justify;">Leg exersise ; diajarkan segera setelah dokter mengijinkannya untuk membantu  mencegah Deep Vena thrombosis terjadi</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=76&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/06/physiotherapy-pada-cardiac-heart-failure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Physiotherapy pada Gagal Jantung Kongestive</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/04/78/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/04/78/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 12:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[H.Herdin,S.Ft ( Physiotherapist ) Sejak tahun 1940-1950-an bed rest yang lama sebagai standart pelayanan medis pada pasien post miocard infark berdampak buruk bukan hanya pada fisik tapi juga  psikis (Levine &#38; Lawn.1952) Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan.Rehabilitasi jantung atau yang dikenal dengan cardiac rehabilitation termasuk didalamnya   program pencegahan efek sekunder telah menjadi bagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=78&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>H.Herdin,S.Ft ( Physiotherapist )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak tahun 1940-1950-an bed rest yang lama sebagai standart pelayanan medis pada pasien post miocard infark berdampak buruk bukan hanya pada fisik tapi juga  psikis (Levine &amp; Lawn.1952) Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan.Rehabilitasi jantung atau yang dikenal dengan cardiac rehabilitation termasuk didalamnya   program pencegahan efek sekunder telah menjadi bagian yang sangat penting dalam manajemen pasien post <em>Miocard Infark</em> dan <em>post coronary artery bypass surgery</em> ( Mcburney.2001).Menurut Beazley (1975 ) penatalaksanaan Physioterapy sebagai bagian dari team cardiac rehabilitation pada kondisi <em>Congestuve cardiac failure</em> dan <em>Pulmonary congestion</em> telah lama diterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Peran Physiotherapy pada kondisi  jantung difokuskan pada aspek pemulihan fisik, khususnya meminimalkan dekondisioning akibat bed rest,peningkatan fungsi cardiovascular dan perbaikan fungsi musculuskeletal.dimulai dengan <em>assesment,breathing exercise, assisted </em>atau <em>aktiv exercise</em> untuk pasien tertentu.mengawasi proses ambulasi atau perpindahan tempat,menaiki tangga dan aktivitas lainnya.memprogramkan <em>home exercise</em> dan modifikasi aktivitas.Selanjutnya Physiotherapist tetap melaporkan kemajuan yang terkait dengan kondisi fisik pasien serta tetap berkonsultasi dengan team<span id="more-78"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A.Pengertian</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium ; gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulai dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ <!--more-->(Ni Luh Gede Yasmin, 1993)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Defenisi ini mencakup segala kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai, termasuk perubahan dalam volume darah, tonus vaskuler dan jantung.  Gagal jantung kongetif adalah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Gagal sirkulasi, yang hanya berarti kelebihan beban sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung, seperti transfusi yang berlebihan atau anuria</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B.Etiologi dan Patofisiologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis  yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta  dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel.</p>
<p style="text-align:justify;">Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, dimana akhirnya akan terjdi kongesti sistemik dan edema.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katub-katub trikuspidalis atau mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katub atrioventrikularis atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga mekanisme primer yang dapat dilihat; meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik, meningkatnya beban awal  akibat aktivasi  rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, pada keadaan istirahat. Tetapi kelainan pada kerja ventrikel  dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. Dengn berlanjutnya gagal jantung  maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Penanganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penyakit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Gejala</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup.<br />
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan. Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut. Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (<em>edema pulmoner</em>), yang menyebabkan sesak nafas.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitasng hebat. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal jantung tidur dengan posisi setengah duduk.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D.Diagnosa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang biasanya menunjukkan:<br />
- denyut nadi yang lemah dan cepat<br />
- tekanan darah menurun<br />
- bunyi jantung abnormal<br />
- pembesaran jantung<br />
- pembengkakan <em>vena</em> leher<br />
- cairan di dalam paru-paru<br />
- pembesaran hati<br />
- penambahan berat badan yang cepat<br />
- pembengkakan perut atau tungkai</p>
<p style="text-align:justify;">Foto rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung dan pengumpulan cairan di dalam paru-paru.</p>
<p style="text-align:justify;">Kinerja jantung seringkali dinilai melalui pemeriksaan <em>ekokardiografi</em> (menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan jantung) dan <em>elektrokardiografi</em> (menilai aktivitas listrik dari jantung)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>E. Pengobatan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan pengobatan adalah :<br />
- Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.<br />
- Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat farmakologi, dan<br />
- Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik, diet dan istirahat.</p>
<p><strong>Terapi Farmakologis :</strong><br />
- Glikosida jantung.<br />
Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung.Efek yang dihasilkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema<br />
- Terapi diuretik.<br />
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui ginjal.Penggunaan hrs hati – hati karena efek samping</p>
<p style="text-align:justify;">hiponatremia dan hipokalemia<br />
- Terapi vasodilator.<br />
Obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadansi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan<br />
- Dukungan diet:<br />
Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.</p>
<p><em><strong>Prinsip Penanganan Fisioterapi</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Prinsip terapi pada penderita cardiac failure adalah : untuk menghilangkan  atau mengurangi penyebap failure dengan :</p>
<p style="text-align:justify;">Mengurangi  kebutuhan jantung selama failure (serangan )</p>
<p style="text-align:justify;">Memperbaiki fungsi myocardium.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengurangi cairan extraceluler dan volume plasma.</p>
<ul>
<li>Menghilangkan penyebap mungkin dapat dilakukan dengan cara operasi atau hypertensi dengan obat hipertensi, infeksi paru dengan antibiotik dan fisioterapi dan lain – lain.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengurangi kebutuhan Myocardium : memerlukan istirahat dengan kursi yang memakai lengan,cardiac bed dengan kedua tungkai bebas ( tergantung ) atau halflying serta mengurangi ketakutan atau kecemasan dengan banyak tidur .istirahat  biasanya diberikan dalam satu periode kira – kira 3 minggu atau sampai udem berkurang..</li>
</ul>
<ul>
<li>Relaksasi diajarkan pada pasien yang sangat tegang untuk memperbaiki kemampuannya istirahat.</li>
<li>Diet juga secara hati – hati diatur antara lain : porsi dan cairan pertama kali harus dikurangi</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Memperbaiki fungsi myocardium : pertama kali dengan memberikan oksigen,agar jaringan otot tidak degenerasi karena kurangnya oksigen.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pada kasus berat : IPPB mungkin digunakan untuk mengurangi venous return ke Jantung. kemudian ditingkatkan menjadi aktif breathing exercise dan exercise pada otot kecil pada kaki dan kedua tungkai sampai otot besar trunk juga termasuk diberikan latihan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Latihan akhir yang diberikan adalah aktifitas seperti : keluar bed,berjalan yang mulai jarak pendek dengan langkah lambat lalu ditingkatkan.derajat laytihan klasifikasi jantung mungkin dapat digunakan setelah pulang untuk mencoba meninggkatkan toleransi miocardium dan mencegah pasien menjadi cardiac infalid ( cacat jantung ).</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Chest Infeksi dan collaps paru dapat dicegah dengan memberikan breathing exercise setiap saat dengan pasien dengan pola dan irama nafas normal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><em>Batuk efektif</em> harus diberikan yang bersamaan dengan pemberian perubahan posisi dari samping kesamping.Jika otot abdomen lemah, maka batuk yang tidak efektif dibantu dari luar oleh terapis dengan bantuan dorongan tangan.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Postural Drainag</em>e; tidak boleh digunakan bila ada orthopnoe,dyspnoe saat istirahat atau syanosis.Hal ini mungkin dapat diberikan dengan cara modifikasi untuk membantu drainage (  mengalirkan ) sputum pada segmen basal jika ini menyebabkan penyempitan atau sumbatan ,tapi hal ini harus ada persetujuan dari dokter yang merawatnya.,tidak boleh oleh Physiotherapist</li>
<li style="text-align:justify;"><em>Leg exersise</em> ; diajarkan segera setelah dokter mengijinkannya untuk membantu  mencegah Deep Vena thrombosis terjadi</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=78&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/06/04/78/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lowongan kerja Fisioterapi</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/02/23/lowongan-kerja-fisioterapi/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/02/23/lowongan-kerja-fisioterapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 05:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Dibutuhkan segera 3 orang tenaga Fisioterapi untuk Privat Klinik Physiotherapi Center di Jeddah Arab Saudi dengan Syarat: Memiliki Pengalaman kerja selama 2 tahun setelah lulus Memiliki minat dalam bidang manual therapy dan Spa (akan di Training) Info Lanjut :Hub 081355071753 email :herdin08@yahoo.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=70&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dibutuhkan segera 3 orang tenaga Fisioterapi untuk Privat Klinik Physiotherapi Center di Jeddah Arab Saudi dengan Syarat:</p>
<p>Memiliki Pengalaman kerja selama 2 tahun setelah lulus</p>
<p>Memiliki minat dalam bidang manual therapy dan Spa (akan di Training)</p>
<p>Info Lanjut :Hub 081355071753 email :herdin08@yahoo.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=70&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2010/02/23/lowongan-kerja-fisioterapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Physiotherapy pada penyakit kulit</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/09/29/physiotherapy-pada-penyakit-kulit/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/09/29/physiotherapy-pada-penyakit-kulit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 01:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Fisioterapi pada penyakit kulit tidaklah sepopuler kondisi Neuromusculoskeletal.Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. 10.1 The structure of the skin 10.2 Functions of the skin 10.3 Introduction to disorders and disease 10.4 Psoriasis 10.5 Acne vulgaris 10.6 Mycosis fungoides 10.7 Polymorphic light eruption (PLE) 10.8 Vitiligo 10.9 Pityriasis rosea 10.10 Alopecia 10.11 Hyperhidrosis 10.1 The structure of the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=66&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Fisioterapi pada penyakit kulit tidaklah sepopuler kondisi Neuromusculoskeletal.Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat.<span id="more-66"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10.1 The structure of the skin<br />
10.2 Functions of the skin<br />
10.3 Introduction to disorders and disease<br />
10.4 Psoriasis<br />
10.5 Acne vulgaris<br />
10.6 Mycosis fungoides<br />
10.7 Polymorphic light eruption (PLE)<br />
10.8 Vitiligo<br />
10.9 Pityriasis rosea<br />
10.10 Alopecia<br />
10.11 Hyperhidrosis</p>
<p></strong><strong><br />
10.1 The structure of the skin</p>
<p>The epidermis</p>
<p>This is the superficial part of the skin. It consists of five layers which are:</p>
<p>1. Stratum germinativum &#8211; growing layer.<br />
2. Stratum spinosum &#8211; layer with bridges.<br />
3. Stratum granulosum &#8211; cells and nuclei disintegrating.<br />
4. Stratum lucidum &#8211; clear cells.<br />
5. Stratum corneum &#8211; keratin flakes.</p>
<p>The keratin flakes are constantly rubbed off and replaced from cells below.</p>
<p>Melanin is a pigment produced by melanocytes which are present in the stratum germinativum.</p>
<p>The dermis</p>
<p>This is thicker and deep to the epidermis.</p>
<p>It consists of fibrous tissue and contains blood capillaries, sweat glands, sebaceous glands, hair follicles and nerve ending.</p>
<p>10.2 Functions of the skin</p>
<p>The functions of the skin are:</p>
<p>1. Protection &#8211; The skin prevents water, bacteria and harmful objects from entering the body.</p>
<p>2. Absorption &#8211; substances applied to the skin are absorbed.</p>
<p>3. Temperature regulation &#8211; To lose heat, the sweat glands produce sweat which evaporates from the surface and the blood vessels dilate. To conserve heat, the blood vessels contract and the arrector pili muscles produce ’goose pimples’.</p>
<p>4. Fluid and electrolyte balance &#8211; Water, sodium chloride and urea are lost in sweat. The skin also prevents excess loss of body fluid, thereby contributing to homoeostasis.</p>
<p>5. Sensory &#8211; Nerve endings provide information on the environment, body position, impending damage (by pain, thermal and pressure receptors) and constitute an essential component of the body’s defence mechanism.</p>
<p>6. Self concept &#8211; The skin is very important psychologically. Appearance is important to self-image and therefore self-confidence. It identifies us as who we are and to some extent where we belong (family likeness, race and culture). The facial skin particularly expresses state of health and contributes to non-verbal communication, as does hand skin. Destruction, disease or disment involving skin causes severe difficulties for the patient and for the people he cr she meets in society.</p>
<p>10.3 Introduction to disorders and diseases</p>
<p>The patient with skin disease needs a great deal of sympathy and support from the physiotherapist. Unsightly skin lesions do not attract sympathy and support from the public; indeed there tends to be rejection or revulsion of psoriatic patients, and acne can be the subject of very hurtful taunting. People stare a bad skin and children can be heard to say ’Why has that lady got spots, Mummy?’ A 5 year old with psoriasis on her palms and soles cannot find a partner at school &#8211; no one wants to hold her hand because ’it feels horrid’. When a young woman’s psoriasis breaks out her husband moves into the spare room and she has to be treated immediately in the physiotherapy department. The distress suffered by these patients is equal to the disability of arthritis or paralysis but is not often seen as such.</p>
<p>Conditions treated by physiotherapy</p>
<p>By ultraviolet radiation (UVR):</p>
<p>1. Psoriasis.<br />
2. Acne vulgaris.<br />
3. Mycosis fungoides.<br />
4. Polymorphic light eruption.<br />
5. Vitiligo.<br />
6. Pityriasis rosea.<br />
7. Alopecia.</p>
<p>By iontophoresis: hyperhidrosis.</p>
<p>Examination of patients with skin conditions</p>
<p>Subjective</p>
<p>The history is taken before the patient undresses. Questions asked are:</p>
<p>1. Duration of lesions.<br />
2. Recurring &#8211; intervals.<br />
3. Severity &#8211; variable.<br />
4. Medication:</p>
<p>(a) Systemic.<br />
(b) Topical.<br />
(c) Effects of these.</p>
<p>5. General health.<br />
6. Occupation, hobbies, lifestyle.<br />
7. Family history of skin diseases.<br />
8. Patient’s views/expectations/previous treatment by physiotherapy.<br />
9. Skin reaction to UVR.<br />
10. Skin type.<br />
11. Rule out contraindications.</p>
<p>Objective</p>
<p>Observation</p>
<p>1. Chart lesions on body chart.<br />
2. Use different colours or numbers for large patches.<br />
3. Show these to the patient so that both patient and physiotherapist can recognize progress or regression.</p>
<p>Palpation</p>
<p>If appropriate, note swelling, heat, skin texture. Psoriatic lesions are proud of the skin at first and flatten on first signs of improvement.</p>
<p>Before treatment</p>
<p>1. All ointment, make-up and perfume should be removed.<br />
2. Alcohol should be avoided as it can alter skin sensitivity.<br />
3. A skin test with UVR is appropriate if the Theraktin or mercury vapour air-cooled burner are used.</p>
<p>Record keeping</p>
<p>This is essential for safety and repetition of treatment. The following records should be kept:</p>
<p>1. Distance of patient from UVR source.<br />
2. Time given.<br />
3. Screening if any.<br />
4. Joules per cm2 of body surface (for PUVA treatment).<br />
5. Reaction obtained.<br />
6. Patient’s reports, e.g. itching/burning.<br />
7. Equipment used (the same source of UVR should be used at each attendance).</p>
<p>Ultraviolet rays</p>
<p>These are electromagnetic rays with a wavelength between 400 and 100 nm. Conventionally they are divided into three bands:</p>
<p>1. Long, UVA (320-400nm).<br />
2. Medium, UVB (290-320nm).<br />
3. Short, UVC (180-290nm).</p>
<p>Sources</p>
<p>UVA: fluorescent tubes in a special cabinet.<br />
UVB: Theraktin &#8211; fluorescent tubes. High-pressure ultraviolet mercury vapour burner (HP UV burner), air cooled.<br />
UVC: HP UV burner, air cooled; and water cooled (Kromayer).</p>
<p>Dosage with UVR</p>
<p>Reaction to UVR depends on:</p>
<p>1. Skin type.<br />
2. Skin distance from source (shorter distance, greater reaction).<br />
3. Time of exposure.<br />
4. Age of source &#8211; output diminishes with use.</p>
<p>Recording of individual treatment is therefore essential together with reaction obtained if any. Times/dosages suggested in the text must be taken as a guide only.</p>
<p>Minimal erythema dose (MED) is the time taken at a set distance to produce a faint pinking of average skin which fades in a few hours. MED is related to the equipment used. A first-degree erythema (El) is a reaction of a patient’s skin where there is faint pinking which fades within 24 hours of exposure. MED and El are essentially the same thing. A suberythema dose does not produce pinking of the skin except on prominent parts (e.g. buttocks), and this fades in a few hours.</p>
<p>An E2 is a deep pink clearly defined area, which lasts for 2-3 days and is followed by mild peeling.</p>
<p>An E3 is a red, clearly defined area which may be slightly oedematous. It lasts for 5-7 days and is followed by free peeling.</p>
<p>Mode of action of UVR</p>
<p>UVR stimulates synthesis of epithelial cells in the stratum germinativum of the epidermis. In acne this is desirable. An E2 produces accelerated growth of the skin through to the keratin layer, which peels off and clears acne. In PUVA the UVA activates psoralen, which slows down the rate of growth of skin which is desirable in psoriasis. The use of UVR from the Theraktin for psoriasis is an apparent contradiction because it stimulates growth where the problem is that of accelerated growth. Patients undoubtedly get better with UVR given at suberythema dosages, and although this cannot be explained at present this is no reason for denying patients Theraktin treatment where no UVA equipment is available.</p>
<p>10.4 Psoriasis</p>
<p>This is one of the commonest and most intractable disorders of the skin.</p>
<p>Definition</p>
<p>Psoriasis is a chronic inflammatory disease of the skin characterized by clearly definded dry, rounded red patches with silvery scales on the surface.</p>
<p>Aetiology</p>
<p>Age:</p>
<p>1. Common age of first occurrence is 15-30 years.<br />
2. Can occur as young as 2 years.<br />
3. Can start as late as 80 years.</p>
<p>*** &#8211; Both ***es are equally affected.</p>
<p>Climate &#8211; The condition is worse in damp, cold climates. It has been known to clear if a patient who ”suffers quite badly in the UK goes to a sunny climate.</p>
<p>Predisposing/precipitating factors</p>
<p>A number of factors appear to predispose or precipitate an exacerbation of the condition. These are as follows:</p>
<p>1. Heredity. There is an inherited defect in the skin which results in psoriasis developing in certain circumstances; 30% of patients have blood relatives with the condition.</p>
<p>2. Infection. Psoriasis has been known to develop after, for example, an upper respiratory tract infection.</p>
<p>3. Trauma &#8211; Lesions tend to develop at sites of potential or actual trauma, e.g. mechanical friction, cuts, stings.</p>
<p>4. Anxiety. Psoriasis often appears in relation to mental stress, e.g. bereavement, exams.</p>
<p>5. Drugs &#8211; Some drugs, e.g. chloroquine, may precipitate the condition.</p>
<p>6. Diabetes &#8211; Some patients with diabetes develop this condition.</p>
<p>Cause</p>
<p>The membrane of the skin cells in patients who develop psoriasis contain abnormal proteins which manifest as abnormal surface antigens. Antibodies form in response to these ’foreign’ bodies and are carried by B-lymphocyte cells. When these antibodies lock onto the antigens, a complex reaction takes place at the dermo-epidermal junction and psoriatic lesions are produced.</p>
<p>In normal skin the maturing of epidermal cells takes 21-29 days. In psoriasis this is accelerated to 4 days. What causes the abnormal protein to form and what triggers the antibody-antigen reaction is not known but it is probably related to the predisposing factors already listed.</p>
<p>Pathological changes</p>
<p>Epidermis</p>
<p>1. There is increased reproduction in the stratum germinativum.</p>
<p>2. The stratum spinosum is thicker due to an increased number of cells plus oedema.</p>
<p>3. The stratum granulosum is absent.</p>
<p>4. The strata lucidum and corneum are replaced by several layers of nucleated, incompletely keratinized, soft cells (para-keratotic cells).</p>
<p>There is no time for the normal changes to take place through the skin layers. The cells at the surface are sticky and do not fall off like normal keratin. Accumulation of these cells forms scales which over 2-3 weeks dry out and fall off in big flakes.</p>
<p>Dermis</p>
<p>1. Capillaries are dilated with increased blood flow.<br />
2. Papillae are elongated.<br />
3. There are changes of inflammation.</p>
<p>Healing</p>
<p>The centre of the patch heals first causing circular lesions. Normal skin recovery takes place without scarring.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>1. Sharply defined red and pink areas termed plaques.</p>
<p>2. Silvery scales due to light reflecting from the swollen stratum spinosum.</p>
<p>3. Distribution;</p>
<p>(a) Elbows, knees, scalp and sacrum are covered in thickly scaled patches<br />
(b) Plaques of varying sizes appear anywhere on the body.<br />
(c) Nails become pitted, ridged or separated from the nail bed. This can be the only evidence of the disorder in some people.<br />
(d) Skin contact areas can be badly affected between fingers, axillae, groin, between toes, under breast, behind ears.<br />
(e) The face is rarely affected<br />
(f) The size of plaques and distribution varies so that different types are described. These are:</p>
<p>(1) Guttate.<br />
(2) Pustular.<br />
(3) Erythrodermic.</p>
<p>Guttate</p>
<p>Commonest and least severe, with good prognosis. Responds well to UVR. Features:</p>
<p>1. Small multiple plaques are scattered evenly over trunk and limbs.<br />
2. Often appears suddenly.</p>
<p>Pustular</p>
<p>This principally affects scalp and body folds, although palms and soles can be badly affected. There is more severe inflammation and pustles are formed. The fluid contained in the pustules is sterile and must not be confused with the infected pustules of acne. UVR has limited success in this type.</p>
<p>Erythrodermic</p>
<p>The plaques join up and there is extensive erythema. The excessive distribution of blood to the skin can cause cardiac failure and loss of temperature regulation. This type does not usually respond to UVR.</p>
<p>Prognosis</p>
<p>Psoriasis clears completely with no marks but unfortunately can recur. There can be no sign in the evening and next morning it has started. It tends to be better in summer, worse in winter and recurs if the patient is worried.</p>
<p>Treatment</p>
<p>This may be considered under:</p>
<p>1. General management.<br />
2. Topical (application of creams/lotions to the skin).<br />
3. Systemic.<br />
4. Physiotherapy.</p>
<p>General management</p>
<p>1. A sympathetic, considerate approach is required together with reassurance.</p>
<p>2. Any anxiety or worry should be identified and the patient encouraged to relax or seek appropriate help.</p>
<p>3. Reassurance that it is not infectious or disfiguring must be given to both patient and family. Also an ’open door’ system should operate so that the patient can get to a dermatologist or physiotherapist immediately there is an eruption.</p>
<p>4. Dieting may be tried if there appears to be any allergy factor.</p>
<p>Topical treatment</p>
<p>Many patients do well on topical treatment. Treatment may be:</p>
<p>1. Simple bland aqueous cream<br />
2. Coal tar applications with salysilic acid abd zinc oxide in soft paraffin may be used alone or with UVR. The patient is usually admitted to hospital. The ointment is applied every day to the whole body except face and scalp. Every 24 hours it is washed off in a bath containing coal tar solution. If UVR is given, it must be after a bath because the yellow soft paraffin absorbs UVR. A suberythema general treatment is given daily using the Theraktin. This is the Goeckerman regimen.</p>
<p>3. Dithranol-in Lassar’s paste is used for resistant psoriasis. It is highly effective but can burn the normal skin. The patient may be admitted to hospital or treated as an outpatient. If the patient is applying the paste the physiotherapist should look out for blisters or reddish-purple stains on the skin and warn the patient of the danger. UVR with the Theraktin may be given in conjunction with dithranol as a daily suberythema dose. The paste is removed in a coal-tar bath before the UVR and is then reapplied afterwards.</p>
<p>4. Corticosteroid cream produces good results at first but when treatment stops the disease can be return worse than before. It is useful in an acute eruption and on the face and hands because there is greater absorption in moist areas. The dangers of side effects makes long term use inadvisable.</p>
<p>Systemic</p>
<p>Retinoids, a variant of vitamin A &#8211; taken in tablet form produces marked improvement. Retinoic acid or etretinate is marketed as Tigason. Unfortunately, this produces unpleasant side effects such as dryness and cracking of the mouth, alopecia and pruritis. It is teratogenic (produces malfunction in a fetus), therefore must be avoided in pregnancy.</p>
<p>2.Cytotoxic drugs such as methotrexate are some times used in severe cases. These have dangers such as damage to bone marrow, intestinal and liver tissue.</p>
<p>Physiotherapy</p>
<p>Psoriasis can be treated very successfully with UVR. Two sources are used: the Theraktin and PUVA.</p>
<p>The Theraktin</p>
<p>This is usually in the form of a tunnel with four fluorescent tubes. The patient lies flat for the treatment, therefore in order to treat the whole body the patient is generally naked and lies supine for half of the treatment session and prone for the other half. The spectrum of UVR emitted is 390-280 nm and peak emission is around 313 nm, therefore this constitutes UVB treatment. It may be used alone or in conjunction with coal tar or dithranol.</p>
<p>Treatment</p>
<p>A sub-erythema dose is given daily or three times a week. The prominent parts of the body have a mild erythema which fades before the next treatment is due. The time is increased to maintain the reaction (e.g. 12 ½ % every 1-2 treatments). When the lesions start to flatten and heal the same time is repeated and the frequency of treatment reduced to twice weekly, once weekly and then once a fortnight.</p>
<p>The course of treatment may be spread over 8-12 weeks. These patients tend to deteriorate during the autumn and need treatment in the winter or spring. About 75% of patients with guttate psoriasis respond to UVB.</p>
<p>PUVA</p>
<p>This is psoralen pluys UVA and is used for resistant psoriasis. Psoralens are photosensitizing substances eruption and on the face and hands because there which occur in plants such as parsley, parsnips celery. The one used for psoriasis is 8-methoxy psoralen (8-MOP). UVA is produced from fluorescent tubes, mounted upright in a hexagonal shaped cabinet inside which the patient stands throughout the treatment. The spectrum of UVR emitted is 330-390nm and peaks at 360nm &#8211; hence it is UVA.</p>
<p>Infra-red rays are also emitted and it is essential to have a cooling fan so that the patient can tolerate up to ½ hour in the cabinet.</p>
<p>Method</p>
<p>The patient takes 3-6 tablets of psoralen preferably with milk 2 hours before exposure.</p>
<p>Duration of treatment</p>
<p>This may be 5 minutes at first for skin types 1 and 2 and progressed by 1 minute up to 15 minutes. It may start at 6 minutes and progress by 2 minutes up to 20 minutes for skin types 3 and 4. It may start at 7 minutes and progress by 3 minutes up to 25 minutes for skin types 5 and 6.</p>
<p>A record is kept of the total joule count. This is essential because there is an undeniable risk of malignant melanoma in patients who have been exposed to between 1500 J and 2000 J.</p>
<p>The patient attends three times a week until healing starts, then frequency of treatment is reduced to twice weekly, once weekly, once per fortnight or monthly ’holding sessions’.</p>
<p>Precautions, dangers, advice to patients on PUVA</p>
<p>1. Do not take psoralens on an empty stomach.</p>
<p>2. There is a real danger of cataract, therefore protective goggles are essential during exposure. Polaroid sunglasses must be worn from the time of taking the psoralen to at least 12 hours after. The psoralen is excreted in 8 hours but the effect of photosensitizing continues. The physiotherapist should test the glasses with a Blackray metre; 90% of UVA must be screened by the glasses. Patients are advised to wear protective glasses out of doors for at least 24 hours after taking the psoralen and also whilst watching television, a VDU screen or in fluroscent lighting.</p>
<p>3. The skin must be covered in bright sunlight and a hat worn for 2 hours after treatment.</p>
<p>5. If the skin is dry simple oil or lubricating lotions may be used.</p>
<p>6. Do not become pregnant or father a child contraceptive measures are essential during PUVA treatment.</p>
<p>7. A check-up is essential every month after completion of treatment.</p>
<p>8. During treatment if the patient feels faint the physiotherapist must be called immediately.</p>
<p>Mechanism of action</p>
<p>8-Methoxypsoralen binds to DNA and is activated by UVA. The psoralen binds to DNA thiamine bases, producing cross-linking which inhibits epithelial synthesis and cell division. In essence, therefore, the accelerated reproduction of epidermis in psoriasis is reduced, hence the beneficial results.</p>
<p>Long-term management</p>
<p>It may take up to 10 weeks to clear the skin and a further 4-6 weeks of maintenance doses may be given depending on individual response. Thereafter 2-6 monthly review is necessary. Once discharged, the patient should have access to treatment as soon as there is a recurrence.</p>
<p>Pustular psoriasis</p>
<p>This may be successfully treated by PUVA when the condition is on the soles and hands. They can be treated with a special piece of equipment in which the fluorescent tubes are horizontal and the hands or feet are placed on a grid over them.</p>
<p>10.5 Acne vulgaris</p>
<p>Definition</p>
<p>This is a chronic inflammatory disease of the sebaceous glands.</p>
<p>Aetiology</p>
<p>Age &#8211; It starts between 9 and 17 years, is associated with puberty and is generally clear by 30 years.</p>
<p>*** &#8211; Males are affected more than females although it may cause more distress to females in the age group affected.</p>
<p>Incidence &#8211; 80% of all adolescents have acne to some degree.</p>
<p>Predisposing factors</p>
<p>I. Puberty &#8211; Changes in the skin during puberty take place, the sebaceous glands secrete sebum, the hairs become coarser and sweat gland openings are wider. Some people have greater changes than others and are more likely to develop acne.</p>
<p>2. Lack of fitness, exercise or fresh air, poor health, constipation.</p>
<p>3. Diet high in butter, cream, sugar, chocolate or alcohol may have an effect.</p>
<p>4. Sweating, e.g. under long hair or a band around r/the forehead. Poor skin hygiene.</p>
<p>5. Endocrine abnormalities involving testosterone.</p>
<p>6. Anxiety.</p>
<p>7. Skin type &#8211; dark complexion, heredity.</p>
<p>Cause</p>
<p>Bacteria, especially Propionibacterium acnes, infect the sebaceous glands and the glands increase in activity so that more sebum is released on to the skin.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>1. Comedones &#8211; blackheads in the surface of the skin<br />
2. sebaceous white worm-like material can be squeezed out of the comedone.<br />
3. Papules:<br />
(a) Reddened round raised areas with comedone in the centre.<br />
(b) Slight itching.</p>
<p>(c) Slight discomfort.<br />
(d) Tenderness.</p>
<p>4. Pustules:</p>
<p>(a) Yellow raised areas with a comedone on the summit.<br />
(b) Surrounded by reddish purple area.</p>
<p>5. Cysts:</p>
<p>(a) Purple coloured area which fluctuates on palpation.<br />
(b) Pain.</p>
<p>6. Scars:</p>
<p>(a) Small pitted areas; the extent varies according to the severity of the condition.<br />
(b) Keloid, if the patient is unfortunate enough to have this type of tissue.</p>
<p>7. Distribution &#8211; face, upper chest and back.</p>
<p>Prognosis</p>
<p>Usually acne clears by 30 years of age. There are good results with treatment, although the disease tends to fluctuate. The lesions can be unsightly, resulting in loss of confidence and depression. It is very important to encourage optimism and prevent scarring.</p>
<p>General management</p>
<p>An understanding approach is necessary because the patient who seeks medical help is undoubtedly suffering considerable distress and probably social isolation. Treatment may be:</p>
<p>1. Topical.<br />
2. General.<br />
3. Physiotherapy.</p>
<p>Topical treatment</p>
<p>1. Sulphur-based ointments.<br />
2. Salicylic-acid based ointments.<br />
3. Resorcinol paste.<br />
4. Vitamin A acid gel.<br />
5. Benzoyl peroxide gel.</p>
<p>These substances are applied directly to the affected areas. That there is a variety reflects the way in which different patients respond to different preparations. Benzoyl peroxide gel is more cosmetically kinder than sulphur-based ointments, which produce an erythema and peeling.</p>
<p>General treatment</p>
<p>1. Antibiotics &#8211; These are used in pustular and cystic acne to clear infection and prevent scar formation.</p>
<p>2. Oestrogen therapy &#8211; This can help women whose acne is exacerbated just before menstruation.</p>
<p>Physiotherapy</p>
<p>This involves application of UVR and advice on fitness.</p>
<p>UVR</p>
<p>The source generally used is a high-pressure air-cooled mercury vapour burner (although success with a low-pressure burner using special shutters has been reported). This is housed in a reflector which can be angled to obtain maximum absorption of UVR with the patient supported in a comfortable position (usually modified sitting). The spectrum of UVR is 190-390 nm. The skin-burner distance is usually 45cm.</p>
<p>Treatment</p>
<p>Two main schools of thought exist in the treatment of acne. In one the aim is to improve skin health and in the other the aim is to promote peeling.</p>
<p>Improvement of skin health</p>
<p>A first-degree erythema (El) is given 2-3 times a week for 3-4 weeks. The theory is that the maintained increase of arterial circulation provides extra amino acids, oxygen and other nutritive substances to enable the synthesis of healthy skin. Given that epidermal cells pass from basal layer to the surface in 3 weeks, the principle is that the treatment is given over a longer period. It is safe to give an El to the face, chest and upper back in the one treatment session. The patient with all areas affected feels that something is being done for the whole condition.</p>
<p>Promotion of peeling</p>
<p>A second- or third-degree erythema (E2, E3) is given and repeated only when peeling has stopped.</p>
<p>The theory is that affected skin is removed more quickly and healthy skin will replace it. The E2 or E3 will open up the pilo-sebaceous openings causing the infected material to be discharged rather than retained within the skin. It is not very pleasant to have a peeling face so an E2 is generally the maximum reaction aimed for. An E3 may be tolerated on the chest or upper back. An E2 can be tolerated to the face, upper back and chest but if all areas are red and sore at the same time the patient has difficulty lying down to sleep. Therefore, attendances are spaced to take account of this. The condition clears with this treatment in 6-8 weeks. If there is no improvement in 12 weeks it is probably wise to abandon treatment given that there is a danger of skin cancer with excessive UVR, and unlike the PUVA method there is no means of measuring the electromagnetic energy to which the patient has been exposed.</p>
<p>In both approaches some benefit is probably derived from the surface bacteria being destroyed by UVR and’spread of the condition is reduced. Also the patient responds to a humanitarian approach by the physiotherapist.</p>
<p>Fitness</p>
<p>The physiotherapist may give advice to the patient as follows:</p>
<p>1. Follow faithfully any instructions from the doctor or dietitian regarding lifestyle, drugs and diet.</p>
<p>2. Take part in outdoor sport and shower scrupulously afterwards to remove sweat &#8211; sweat provides a medium in which bacteria thrive.</p>
<p>3. Wash the affected areas at least twice a day with oil-free soap and be sure to rinse well with cool water.</p>
<p>4. Remember that people tend to accept you as you are &#8211; face the world with a smile and no one (who matters) will notice the spots.</p>
<p>10.6 Mycosis fungoides</p>
<p>Definition</p>
<p>This is a condition in which there is a slowly developing T-cell infiltration of the skin with malignant lymphoma. There is chronic antigenie stimulation.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>1. Lesions appear on the skin which are similar to those of psoriasis.</p>
<p>2. Distribution is different from psoriasis &#8211; often the face, particularly around the eyes is affected.<br />
3. Tumours may form.</p>
<p>4. The disease may progress to the lymph nodes and vital organs.</p>
<p>Treatment</p>
<p>Physiotherapy</p>
<p>The skin lesions respond well to PUVA treatment. The method is as for psoriasis. Patients wear goggles to protect the eyes so that the UVR can reach the facial lesions.</p>
<p>10.7 Polymorphic light eruption (PLE)</p>
<p>Definition</p>
<p>A condition in which patients have extreme sensitivity to UVR and visible light.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>1. Itch.</p>
<p>2. Erythema.</p>
<p>3. Papules and possibly blisters.</p>
<p>These appear after exposure to only very mild sunlight. The patient may have to live in curtained rooms or have special filter window glass installed.</p>
<p>Treatment: physiotherapy</p>
<p>The aim is to raise the sensitivity of the skin to UVR. PUVA greatly helps these patients. A course of treatment starts in February or March at low doses of 0.25-0.5 J. This is progressed slowly over 2-3 months to 6J. Patients who have followed this regimen have been able to enjoy Mediterranean holidays for the first time in their lives.</p>
<p>10.8 Vitiligo</p>
<p>Definition</p>
<p>This is a condition in which areas of the skin are depigmented owing to loss of normal melanocyte function.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>Irregular patches of skin become depigmented and appear white against normal skin.</p>
<p>Treatment: physiotherapy</p>
<p>The aim is to produce pigmenting of the abnormal areas. PUVA is very successful. Psoralens may be taken by mouth or painted on to the affected areas topically. The psoralen used may be tri-methylpsoralen (TMP) although 8-MOP was used for vitiligo before it was used for psoriasis. Exposure is as for polymorphic light eruption.</p>
<p>If a UVA source is not available, UVB from the Theraktin can be successful. A suberythema dose should be tried one or two times per week for 6-8 weeks. Note: if red spots or itching/burning sensations arise during treament of PLE or vitiligo the skin should be rested. When it has settled treatment should start again at one-half the dose and progress slowly. It is worth trying this several times because treatment can be ultimately successful even with these apparent setbacks.</p>
<p>10.9 Pityriasis rosea</p>
<p>Definition</p>
<p>This disease presents a rash of red or pink scaling macules on the skin of the trunk, often following viral infection.</p>
<p>Treatment</p>
<p>Usually the disease is self-limiting but if it persists the patient may be referred for UVR.</p>
<p>Physiotherapy</p>
<p>Suberythema doses of UVB with the Theraktin two or three times a week for 2-3 weeks usually obtains good results.</p>
<p>10.10 Alopecia</p>
<p>Definition</p>
<p>Absence or premature loss of hair.</p>
<p>Classification</p>
<p>Alopecia areata &#8211; loss of scalp hair in patches.</p>
<p>Alopecia totalis &#8211; loss of all scalp hair and eyebrows.</p>
<p>Alopecia universalis &#8211; total loss of body hair.</p>
<p>Aetiology</p>
<p>1. Age &#8211; under 30 years.</p>
<p>2. *** &#8211; both ***es equally affected.</p>
<p>3. Predisposing factors:</p>
<p>(a) General anxiety.<br />
(b) Fatigue.<br />
(c) Poor health.<br />
(d) Heredity (universalis is often congenital).</p>
<p>Cause</p>
<p>Alopecia areata or totalis may be treated by physiotherapy.</p>
<p>Pathological changes</p>
<p>1. Hair becomes thin and falls out of follicles.<br />
2. Hair follicles atrophy.<br />
3.Sebaceous glands are less active.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>1. Onset is usually insidious.</p>
<p>2. Clumps of hair come away in the comb.</p>
<p>3. Bald patches appear in which the skin is very white.</p>
<p>4. The patient can be very distressed, especially when new patches appear as others are recovering.</p>
<p>Prognosis</p>
<p>Fine downy growth may reappear in 2 months. The majority of patients recover in a year. Some patrents may not recover. The new hair may not be pigmented and feature as a white streak in otherwise normally coloured hair.</p>
<p>Physiotherapy<br />
The aims are:</p>
<p>1. To improve general health.<br />
2. To improve nutrition to hair follicles.</p>
<p>General health</p>
<p>UVR given with the Theraktin may be givtn as a general body treatment. A suberythema or El dosage is given daily for 6-8 treatments. This is appropriate only if there is evidence of poor health being a factor in the precipitation of the disorder.</p>
<p>Promotion of nutrition</p>
<p>UVR given with the Kromayer may be given to individual patches. Dosage used may be an E2 or an E3.</p>
<p>Two or threes patches may be treated in one session and the patient may attend one or two times a week. It is important to remember that the patient has to sleep and an area of the head must be able to take pressure, therefore there has to be a plan or order for treatment of the patches.</p>
<p>The patient may attend for 2-3 months. If there is no sign of recovery after this time then treatment should be stopped and the condition reviewed in 2-3 months.</p>
<p>As soon as hair starts to grow in a patch UVR must be stopped to that area. As with all skin conditions, sympathy and understanding are important as it is very distressing for a young person to lose hair. This must not be confused with balding where there is receding at the temples and gradual loss from anterior to posterior which may well occur in young men whose father had exactly the same problem.</p>
<p>10.11 Hyperhidrosis</p>
<p>Definition</p>
<p>This is a condition in which the exocrine sweat glands are hyperactive.</p>
<p>Clinical features</p>
<p>Sweat pours out of the glands even during relative inactivity and in moderate atmospheric temperatures.</p>
<p>Distribution &#8211; palms of hands, soles of feet, axillae and trunk are affected.</p>
<p>It can be embarrasing and disabling, in that work with hands (sewing, baking, handling money or paper) is difficult.</p>
<p>Age group affected is 14-35 years.</p>
<p>Physiotherapy</p>
<p>If a patient is referred for physiotherapy, the treament requested is iontophoresis.</p>
<p>The principle is that the sympathetic nervous system activitates sweat glands, and the main transmitter substance is acetylcholine. Therefore introduction of an anticholinergic compound reduces the activity of the glands. Such compounds may simply be applied to the skin but their effectiveness is dependent on the amount of absorption, through the epidermis to the dermis in which the glands are situated. If a low-intensity direct current (l-2mA/in2 of electrode) is applied so that the anode is over a pad soaked in the compound (or in a bowl of water with the compound) then the positive charge of the anode repels the positive ions in the compound into the skin and they are effective at the glands. The cathode is placed proximal to the anode to complete the circuit. The current is applied for 15-20 minutes. Morgan (1980) recommends Glycopyronium bromide as a longer-lasting anticholinergic compound. Inevitably, there is scepticism about this treament and it may have limited effect on axillary hyperhidrosis. However, a croupier who had to handle chips at a casino was able to work by having 6-8 treatments every 9 months, until the condition cleared. In his case, the hands were placed one at a time in a water-filled plastic tray containing the anode and compound and his feet were placed one at a time in a water-filled foot bath with the cathode.</p>
<p>Side-effects</p>
<p>Patients report dryness of the mouth. If this is troublesome, the dosage should be reduced but patients tend to tolerate this for the benefit gained by the treatment. Sips of water during the treatment may help.</strong></p>
<p align="right">
__________________</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=66&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/09/29/physiotherapy-pada-penyakit-kulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PNF Bagian 2</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/06/22/pnf-bagian-2/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/06/22/pnf-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 13:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fisioterapi/physiotherapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[By: Herdin/ Mahasiswa Fisioterapi S1 Profesi FK Unhas PNF berlatar belakang atas konsep , sbb : Bahwa kehidupan ini (dalam arti terbatas) adalah sederetan aksi atas sederetan rangsang rangsang yang diterimanya. Kita (manusia) dengan cara demikian ini akan dapat mencapai bermacam-macam kemampuan motorik. Bila ada gangguan mekanisme neuromuscular tsb. Berarti seseorang tidak dalam kondisi untuk siap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=57&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">By: Herdin/ Mahasiswa Fisioterapi S1 Profesi FK Unhas</p>
<p style="text-align:justify;">PNF berlatar belakang atas konsep , sbb : Bahwa kehidupan ini (dalam arti terbatas) adalah sederetan aksi atas sederetan rangsang rangsang yang diterimanya. Kita (manusia) dengan cara demikian ini akan dapat mencapai bermacam-macam kemampuan motorik. Bila ada gangguan mekanisme neuromuscular tsb. Berarti seseorang tidak dalam kondisi untuk siap bereaksi terhadap rangsangan2 yang datang sehingga dia tidak mampu/berhasil untuk bereaksi kearah yang tepat seperti dikehendaki. Methode PNF berusaha/mencoba memberikan rangsangan2 yang sesuai dengan reaksi yang dikehendaki, yang pada akhirnya akan dicapai kemampuan atau gerakan yang terkoordinasi. Lewat rangsangan2 tadi kita berusaha untuk mengaktifkan lagi (membangunkan) mekanisme yang latent dan cadangannya dengan tujuan utama untuk meningkatkan kemampuan fungsionil. Methode PNF dengan demikian bukan hanya sekedar tehnik latihan akan tetapi lebih lanjut sebagai sebuah konsep pengobatan/tindakan yang filosofis yaitu (primair) :<br />
Menangani pasien secara total yang berdasarkan prinsip-prinsip :<br />
• Ilmu proses Tumbuhkembang.<br />
• Neurofisiologis.<br />
• Ilmu Gerak.<span id="more-57"></span></p>
<p>1.Ilmu Proses Tumbuh Kembang.<br />
Perkembangan motoris berkembang dari cranial ke caudal dan dari proximal dan kedistal. Gerakan terkoordinasi (dewasa) berlangsung dari distal keproximal. Gerakan selalu didahului dengan kontrol sikap (stabilisasi),dimana stabilitas akan menentukan kwalitas dari gerakan. Reflex2 mendominir fungsi motorik primer sedang fungsi motorik dewasa dipengaruhi oleh reflex2 sikap. Perkembangan motorik bisa distimulasi oleh al: Stress dan inzet (dengan tahanan), rangsangan2 terhadap sensoris, auditif, visuel.</p>
<p>Menurut Pavlov, stimulasi yang berulang-ulang terhadap reflex2 akan menambah patron2 gerakan atau dengan kata lain reflex2 primitif membuka jalan kearah sikap dan gerakan2 yang terkoordinasi. Evolusi perkembangan motoris adalah dari pola gerakan massal kearah gerakan individuel. Perkembangan motoris berjalan sesuai dengan proses kedewasaan (maturatie process); mulai dengan rolling, merayap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, naik trap, lari, lompat, jinjit dan melompat. Methode PNF selalu memperhatikan dan memperhitungkan proses tersebut. Pendekatan PNF mengacu ke reflex2/sikap primitif.</p>
<p>2.Prinsip Neurofisiologis.<br />
• Overflow principe; motor impuls dapat diperkuat oleh motoris impuls yang lain dari</p>
<p>   group otot yang lebih kuat yang dalam waktu bersamaan berkontraksi, dimana </p>
<p>  otot2 tersebut kira2 mempunyai fungsi yang sama (otot2 synergis). Overflow</p>
<p> principe ini menimbulkan apa yang disebut irradiatie atau summatie. Rangsang </p>
<p> syaraf motoris mempunyai nilai ambang tertentu (semuanya atau tidak sama sekali).<br />
• Inervasi reciprocal : Aktifitas reflex / kontraksi otot agonist akan membuat relax  </p>
<p> otot antagonisnya.<br />
• Inductie succesieve ( sherington ) : Agonis akan terfasilitasi ketika antagonisnya</p>
<p>  berkontraksi atau agonis akan lebih mudah berkontraksi apabila sebelumnya</p>
<p> dilakukan kontraksi pada antagonisnya.</p>
<p>3. Prinsip Ilmu Gerak.<br />
 Latihan isometrik ditujukan untuk memperbaiki sikap sedang latihan isotonis</p>
<p>     ditujukan untuk memperbaiki gerakan.<br />
 Gerakan tunggal murni terisolasi tidak ada dalam kehidupan ini. Otak kita tidak</p>
<p>     mengenal aktifitas otot secara individual, yang dikenal oleh otak hanyalah gerakan</p>
<p>     gerakan dan setiap gerakan terjadi dalam arah tiga dimensi, seperti kita lihat otot</p>
<p>     juga berbentuk spiral dan juga arah perlekatannya. Gerakan akan sangat kuat</p>
<p>     bertenaga bila terjadi bersama dengan gerakan total yang lain, misalnya : flexi</p>
<p>    anggota atas akan memperkuat extensi tubuh bagian atas (Th), flexi anggota bawah</p>
<p>    (Hip) akan memperkuat flexi lumbal.<br />
 Dengan dasar dasar tersebut methode PNF menyusun latihan latihan dalam patron</p>
<p>     patron gerakan yang selalu melibatkan lebih dari satu sendi dan mempunyai 3</p>
<p>     komponen gerakan.<br />
 Latihan gerakan akan lebih cepat berhasil apabila pasien secara full/penuh mampu</p>
<p>     melakukan satu gerakan daripada bila ia hanya mampu melakukan sebagian saja.</p>
<p>     Hindarkan faktor2 yang menghambat latihan, mis. Latihan seharusnya tanpa</p>
<p>     menimbulkan rasa sakit. Pengulangan pengulangan yang banyak dan variasi variasi</p>
<p>    patron serta sikap posisi awal akan memberikan hasil yang lebih baik. Aktifitas yang</p>
<p>    lama adalah penting untuk meningkatkan kekuatan, kondisi, koordinasi dari system</p>
<p>   neuromuscular (ulanglah sebanyak mungkin).</p>
<p>Selintas filosofi PNF :<br />
Manusia adalah sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan hanya satu tungkai atau satu lengan saja. Seorang pasien yang tidak bisa mengangkat lengannya adalah kurang penting bila dibandingkan dengan pasien yang tidak bisa rotasi tubuh/badannya.<br />
Penanganan secara total berdasarkan prinsip2 neurofisiologis : Mulailah dengan gerakan gerakan primitif. Misalnya: Berguling—total flexi extensi (gerakan masal).Tidak dimulai dengan patron untuk lengan/tungkai. Tengkurep adalah sikap yang tersederhana.<br />
 Cadangan cadangan mesti diaktifkan.<br />
 Positif instelling baik terapis maupun pasien.<br />
 Irradiatie/overflow.<br />
 Intensif training programa</p>
<p>    (individuel,group,zelftraining,matrass,pulley,halters,paralel bars,dlsb).<br />
 Fungsional training.<br />
 Ulangan yang sering.<br />
 Variasi patron dan posisi awal.<br />
 Tanpa rasa sakit.<br />
 Rangsangan specific diterapkan untuk mencapai reaksi yang specific dari system neuromuscular dengan cara meningkatkan jumlah dan kwalitet stimulus yang diberikan. Membuat receptor kurang peka atau lebih peka terhadap rangsang (fasilitasi atau inhibisi).<br />
 Rangsangan rangsangan yang disesuaikan untuk meningkatkan kemampuan fungsional pasien : Pasien bereaksi dengan kemampuan maximal, pasien disadarkan tentang apa yang mampu dan tidak mampu dilakukan serta apa yang masih sulit dilakukan</p>
<p>Normal Timing (euchronisme van Schrep).<br />
A.Definisi : Urutan dari kontraksi otot yang menimbulkan suatu gerakan yang terkoordinasi dengan baik sehingga gerakan terarah bisa dengan baik dilakukan.<br />
B.Perkembangan :<br />
Proximal kontrol akan berkembang terlebih dahulu sebelum distal kontrol.Pada orang dewasa gerakan dimulai dari distal keproximal.<br />
C.Penanganan :<br />
Normal timing dapat menjadi tujuan dari penanganan/latihan. Koreksi masalah masalah dibagian proximal.<br />
Tehnik : Terapis diharapkan untuk selalu menyesuaikan semua stimulus yang diterapkan pada waktu yang tepat. Misalnya : Strecth, Komando, Resistance, dst.<br />
Pada proses tumbuh kembang yang normal maka kontrol proximal lebih awal daripada kontrol distal, sebaliknya pada orang dewasa perkembangan gerakan terkoordinasi timbul dari distal keproximal, misalnya : Rolling bayi dimulai dari gerakan masal badan. Rolling dewasa dimulai dari gerakan anggota tubuh (tungkai/lengan ).<br />
Bagian distal dari anggota badan adalah bagian yang paling banyak menerima rangsangan motoris.<br />
Gerakan terarah dimulai dengan rotasi kemudian berlangsung dari distal kearah proximal.</p>
<p>Timing For Emphasis.<br />
Berdasarkan axioma Bevor bahwa otak kita tidak mengenal aksi otot secara individuel, tetapi hanya mengenal gerakan. Timing for emphasis diberikan dengan menerapkan optimal resistance pada group otot yang kuat sehingga menimbulkan irradiatie atau overflow kepada group otot yang lemah. Bila bagian distal lebih lemah dari bagian proximal maka gerakan terhambat sampai bagian distal mulai bergerak. Bila bagian distal lebih kuat maka bila bagian distal bergerak dengan penuh maka bagian proximalpun mulai bergerak.<br />
Pada timing for emphasis maka optimal resistance diberikan dalam fasilitasi patron dengan memperhitungkan normal timing sehingga overflow dapat mengalir dari group otot kuat ke group otot lemah.</p>
<p>IV.Pemeriksaan dan rencana Terapi.<br />
Methode PNF tidak mengenal analisa yang specific hanya terhadap mobiliteit, kekuatan otot sensibilitas, dst. Tetapi arah pemeriksaan mengacu kebeberapa point yang sesuai dengan filosofi PNF :<br />
 Pemeriksaan/observasi terhadap anggota tubuh dan group otot, fungsinya sebagai satu kesatuan.<br />
 Fungsional analisis dengan perhatian,baik kepada komponen komponen motoris yang kuat maupun yang lemah.<br />
Secara skematis pemeriksaan dan rencana terapi disusun dalam 4 tahapan yang terus berulang sebagai suatu lingkaran :<br />
 Evaluasi thd pasien.<br />
 Analysa data.<br />
 Pengembangan/peningkatan rencana terapi.<br />
 Terapi……dst.</p>
<p>1. Evaluasi Pasien.<br />
a.Evaluasi umum: Pasien secara umum dievaluasi/observasi, bagaimana dia masuk ruangan, bagaimana dia berjalan, bagaimana dia bergerak, bagaimana ADL nya (duduk, cara melepas pakaiannya, dst). Pada observasi pertama ini akan didapatkan kesan mengenai fungsional pasien secara umum, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dia lakukan. Kemudian biarkan pasien melakukan beberapa fungsi motoris misalnya; rolling, duduk, jalan, dst.<br />
b.Evaluasi khusus : Disini kita kenal Quadrant Analyse yaitu analisa terhadap elemen2 motoris baik yang kuat maupun yang lemah ditiap tiap quadrant. Bagaimana gerakannya, juga dilihat hubunganya dengan tubuh, dengan anggota tubuh lain dilain quadrant. Perhatikan semua aspek fungsi motoris misalnya; reciprocal, diferensiasi, koordinasi, kekuatan, tonus, panjang otot, gerakan pelvis, statik, integrasi anggota atas dan bawah, stabiliteit. Mulailah dari proximal kedistal : Kepala&#8212; tubuh&#8212;anggota atas kemudian baru anggota bawah.</p>
<p>2.Analisa data yang didapat : Selain kita harus memperluas jangkauan permasalahan, kita juga harus menyusun/menetapkan sasaran yang hendak kita capai.<br />
a.Permasalahan :<br />
 Apakah aktifitas motoris sesuai dengan proses tumbuh kembang dan umur pasien.<br />
 Apakah keterbatasan yang ada disebabkan oleh ketidakmampuan pasien bereaksi terhadap stimulus – stimulus ? Bagaimana respons terhadap stimulus visuel? Pendengaran ? Tactiel ?<br />
 Apakah flexi lebih dominan daripada Extensi ? Sebaliknya ?<br />
 Apakah patron diagonal yang satu lebih kuat dari yang lain ?<br />
 Apakah agonis lebih lemah/kuat daripada antagonis ?<br />
 Apakah penyebabnya adalah kelemahan otot ? Inkoordinasi ?<br />
 Apakah penyebabnya spasme? Nyeri? Keterbatasan/kekakuan? Ataukah kombinasi dari hal hal tersebut diatas?<br />
 Apakah kelainan2 ada dibagian proximal atau distal ?<br />
 Apakah timing koordinasi gerakan (urutannya) baik? Yaitu dari distal keproximal?<br />
 Perhatikan kecepatan gerakan (irama)!<br />
 Bila mungkin lakukanlah kontraksi otot secara concentrisch, isometrisch, exentrisch, apakah cocontractie memungkinkan untuk mempertahankan sikap ?</p>
<p>Dari semua data data tersebut kita dapat menyusun :<br />
 Terapi latihan yang potensial (scala prioritas).<br />
 Kebutuhan pasien secara langsung.<br />
 Tujuan terapi.<br />
b. Tujuan :<br />
 Jangka pendek : Ini adalah tujuan terapi pada setiap tindakan, perhari atau perminggu, misalnya; hari ini rolling dengan tungkai.<br />
 Jangka panjang : Untuk menentukan tujuan jangka panjang yang tepat adalah sedikit sulit, tetapi sebagai terapist kita harus bisa menyusun tujuan jangka panjang, walaupun setiap saat tujuan tersebut bisa ditinjau kembali, apakah sudah dijalani yang benar ?</p>
<p>Rencana terapi: Tergantung pada tujuan (jangka pendek/panjang) Fisioterapist akan membuat beberapa pilihan untuk pelaksanaan terapi yang berkaitan dengan :<br />
 Posisi : Tidur, matras, gait training?<br />
 Patron: Tergantung masalah yang dihadapi/tujuan!<br />
 Tehnik : tergantung masalah yang dihadapi/tujuan !<br />
 Stimulus : Dengan es atau variasi lain.<br />
 Intensitas dan dosis.<br />
 Aktif recuperasi mis.pernapasan.<br />
Ini semua akan mengharuskan kita selalu melihat permasalahan yang ada. Apakah rencana terapi masih cocok dan bisa diteruskan atau sudah saatnya disesuaikan?</p>
<p>4.Terapi.<br />
Urutan penanganan/tindakan selalu mengikuti hal2 sbb.:<br />
 Mulailah dengan bagian/quadrant dimana pasien masih mampu/bisa melakukan dengan baik.Seringkali malah jauh diluar masalahnya (dilain quadrant), tetapi cukup banyak methode/tehnik sehingga anggota tubuh/bagian yang bermasalah bisa dipengaruhi.<br />
 Usahakan agar pasien selalu berhasil dalam melaksanakan apa yang kita minta (pendekatan positif).<br />
 Lakukan aktifitas dimatras dan fungsional lebih banyak.<br />
 Variasi yang cukup untuk posisi awal dan stimulus stimulus serta cukup pula ulangannya.<br />
 Mulailah dicentral / proximal = kepala,tubuh.<br />
 Perhatikan apakah stabiliteit dan koordinasi cukup baik?<br />
Pengembangan dan penyesuaian rencana terapi : Evaluasi terhadap respons pasien selama terapi/latihan harus terus dilakukan untuk penyesuaian dan koreksi rencana terapinya.</p>
<p>I.Basis prinsip.<br />
1. Optimal weerstand.<br />
2. Manueel contact.<br />
3. Verbale stimulasi.<br />
4. Visueele feed-back.<br />
5. Body position and body mechanics.<br />
6. Tractie en aproximatie.<br />
7. Irradiatie<br />
8. Reiforcement.<br />
9. Patronen.</p>
<p>II.Tehnik.<br />
1. Rhythmic initiation.<br />
2. Reapeated contractions.<br />
3. Stretch-reflex.<br />
4. Combination of isotonics.<br />
5. Timing for emphasis.<br />
6. Hold and relax.<br />
7. Contract relax.<br />
8. Slow reversal.<br />
9. Stabilisatie.<br />
10. Stabilizing reversal.<br />
11. Ritmische stabilisatie.</p>
<p>Uraian Basis Prinsip.<br />
1.Optiomal weerstand/tahanan optimal.<br />
Gellhorm melakukan satu penelitian dengan seekor monyet dan penelitian tsb menunjukan bahwa :<br />
 Bila satu titik di motorisch cortex distimulasi, maka reaksi kontraksi akan lebih kuat bila persendian di fixasi daripada bila persendiannya dibiarkan bebas.<br />
 Suatu rangsangan dibawah nilai ambang batas diberikan dicortex maka tidak ada reaksi kontraksi bila persendiannya bebas bergerak, sementara dengan nilai stimulus yang sama tetapi otot diberikan stretch dan resistance maka akan terjadi reaksi kontraksi diotot tsb. Hal tersebut menunjuk pada efek fasilitasi dari resistence dan teori semuanya atau tidak samasekali pada proses kontraksi otot.<br />
Maximal resistance adalah dengan pengertian bahwa resistance tersebut masih bisa ditahan oleh pasien dengan :<br />
 Masih bisa mengambil sikap dengan isometris kontraksi dalam tiga arah/dimensi.<br />
 Masih bisa bergerak dengan halus terkoordinasi dengan isotonis kontraksi tanpa hambatan dalam arah diagonal.<br />
Dengan demikian resistance yang diberikan sangat berkaitan dan bergantung dengan keadaan pasien. Maka istilah yang dipakai selanjutnya adalah optimal resistance daripada maximal resistance. Dalam setiap melaksanakan gerakan yang kita minta pasien diharapkan dapat melakukan dengan terkoordinasi dengan halus/lancar.<br />
Dalam memberikan resistance terapist berdiri di “groove” dan memberikannya dengan tenaga dari tubuhnya. Lumbrical grip memudahkan kita dalam memberikan tahanan dalam arah rotasi. Besar, kecil, kuat, lemahnya tahanan sangat bervariasi. Tahanan segera diberikan setelah penguluran dan diatur sekecil mungkin/relative kecil. Tahanan semakin ditambah sampai pada posisi ditengah ROM kemudian semakin menurun sampai pada batas akhir gerakan (Full ROM). Walaupun semakin berkurang tahanan harus terus dirasakan oleh pasien sampai akhir gerakan.</p>
<p>2.Manueel Contact : Mengacu pada sensoris dan proprioceptive daripada kulit. Manuel contact dimaksudkan sebagai stimulasi terhadap kulit serta terhadap proprioceptoren. Stimulasi ini harus bisa dirasakan, disadari oleh pasien sampai seberapa kuat dia diminta bergerak, dengan demikian sangat perlu untuk diatur seberapa kuat dan dalam hand grip terapis. Disamping itu arah pegangan tadi juga harus bisa dirasakan oleh pasien sebagai bimbingan kemana dia harus bergerak. Manuel contact dilakukan sedapat mungkin selalu dengan kedua tangan terapis, sehingga dengan mudah dan lancar bisa kita berikan penguluran, penekanan, traksi serta tahanan. Hand grip yang mencakup itu semua dikenal dengan istilah lumbrical greep, dengan cara ini kita juga bisa menambah fascilitasi dengan gerak atau arah rotasi, terutama pada distal tangan. Selanjutnya kontak dengan kulit pasien tidak boleh menimbulkan rasa sakit.</p>
<p>3. Verbale Stimulasi : Stimulasi auditive memfascilitasi motorik. Disini verbal stimulasi harus memakai tone yang lembut pada usaha relaxasi dan relief pain, untuk tujuan meningkatkan kegiatan dan kekuatan tone lebih tegas dan kuat. Komando/aba-aba harus tegas, singkat, jelas, sering diulang sehingga konsentrasi pasien bisa penuh terhadap terapi.Timing harus tepat, ini penting sebab bila komando sampai terlambat atau terlalu cepat diberikan akan jadi kacau, hilang konsentrasi,dst.</p>
<p>4. Visuele feed-back : Dengan bantuan penglihatannya pasien bisa mengikuti arah gerakan, mengontrolnya dan megoreksinya bila terdapat kesalahan. Kontak mata antara pasien dan terapis juga sangat penting. Untuk melihat expresi pasien.</p>
<p>5. Body position &amp; body mechanics : Terapis seyogyanya berdiri di groove, yaitu daerah dimana dengan mudah kita bisa memegang/kontak dengan anggota tubuh pasien dan kontak mata masih dimungkinkan. Terapis bisa melakukan manuel kontak dan melakukan gerakan tanpa hambatan, lancar. Selain itu juga harus diperhatikan posisi tubuh terapis dalam melakukan terapi, jangan sampai terjadi cedera yang tidak perlu terjadi karena posisi tubuh yang salah. Dalam memberikan tahanan selalu diusahakan dengan tenaga dari tubuh jangan dari tangan/lengan. Lakukan dengan lengan lurus, gunakan tenaga tubuh dan tungkai, tetaplah di groove. Pasien tiduran atau duduk dengan nyaman, dibed terapi dia pas ditepinya.</p>
<p>6. Tractie &amp; approximatie : Traksi adalah usaha untuk memanjangkan satu segmen dari satu anggota tubuh. Sehingga stimulasi terjadi lewat receptor dipersendiannya. Usaha ini akan memperkuat kontraksi isotonis. Selama berlangsung gerakan traksi diusahakan selalu diberikan. Approximatie adalah tekanan/kompresi yang diberikan kepada satu segmen dari satu anggota tubuh. Approximatie memperkuat stabilisasi dan menstimulasi respons otot, dengan reaksi isometris kontraksi. Ada dua macam tehnik approximatie yaitu: Quick Approximation &amp; Maintained Approximation.</p>
<p>7. Irradiatie : Irradiatie atau overflow adalah pelimpahan luapan dari impuls syaraf, akan meningkatkan respons. Respons dapat dalam bentuk excitatie maupun inhibitie. Peningkatan respons tergantung seberapa banyak stimulasi yang diterima. PNF memanfaatkan prinsip ini. Selalu berusaha menstimulasi sebanyak mungkin motor unit untuk lebih aktif. Selalu berusaha mencari mana impuls motorik dari otot yang lemah untuk diperkuat dengan memanfaatkan impuls motorik dari otot yang lebih kuat, secara bersama berkontraksi dan mempunyai fungsi yang mirip. Pelaksanaan overflow prinsip ini selalu dengan optimal tahanan dan dalam kerangka patron yang telah dipilih.</p>
<p>8. Reinforcement : Reinforcement atau penguatan adalah pengaruh respon motorik dari satu bagian anggota tubuh yang satu terhadap satu bagian anggota tubuh yang lain. Reinforcement dapat melalui :<br />
• Irradiatie : Dalam patron, Mass patron, Bilateral work.<br />
• Central reflex.<br />
Reinforcement digunakan untuk memperkuat respons, mencegah kecapaian, mengkombinasikan patron yang dipilih.</p>
<p>9. Patron : Symphony of movements : Suatu gerakan adalah hasil dari kerjasama otot-otot dengan koordinasi yang prima.<br />
Huglin Jackson : ” Nervous centre know nothing of muscle, they only know movements”.<br />
Duchene : ”Kontraksi otot secara terisolasi, dalam kondisi alamiahnya tidak ada”.<br />
John Hunter : ”Tidak ada satu ototpun yang berkontraksi secara terisolasi tanpa memberikan efek terhadap otot yang lain”.<br />
Gellhorn : ”Stimulasi pada motor cortex menunjukan bahwa tidak hanya sebagian otot yang terstimulasi tetapi akan mengaktifkan seluruh grup otot secara fungsional”.<br />
Kabat : ”Dasar dari aktifitas motorik kita terletak dalam pola gerakan spesifik masal dimana aktifitas otot secara synergist mulai dari distal keproximal”.<br />
Dalam konsep PNF kita memakai pola gerakan masal dan total (mass movements and patterns). Pattern PNF dikembangkan dari kerja synergis grup otot kemudian dibawa keposisi dimana paling efektif yaitu pada posisi terulur : Elongated state.<br />
Gerakan terdiri dari :<br />
 Komponen spiral,<br />
 Komponen diagonal.<br />
Arah gerakan dibentuk oleh :<br />
 Arah flexi – extensi,<br />
 Arah abduksi – adduksi,<br />
 Arah endorotasi – exorotasi (distal:Pronasi-supinasi; inversi-eversi).</p>
<p>Tehnuk-tehnik PNF : Tehnik PNF adalah alat fasilitasi yang dipilih dengan maksud maksud yang specifik Tehnik-tehnik tersebut mempunyai tujuan antara lain :<br />
• Mengajarkan gerak.<br />
• Menambah kekuatan otot.<br />
• Relaksasi.<br />
• Memperbaiki koordinasi.<br />
• Mengurangi sakit.<br />
• Menambah ruang lingkup gerak sendi.<br />
• Menambah stabilisasi.<br />
• Mencegah kelelahan.<br />
• Mengajarkan kembali gerakan.<br />
• Memperbaiki sikap.</p>
<p>1. Rhytmic Initiation :<br />
Tehnik yang dipakai untuk agonis dengan menggunakan gerakan gerakan pasif, aktif dengan tahanan. Caranya :<br />
 Terapis melakukan gerakan pasif.<br />
 Kemudian pasien melakukan gerakan aktif seperti gerakan pasif yang dilakukan terapis .<br />
 Gerakan selanjutnya diberikan tahanan sedikit.<br />
 Baik agonis maupun antagonis patron dapat dilakukan dalam waktu yang sama.</p>
<p>Indikasi :<br />
 Problema permulaan gerak yang sakit karena rigiditied, spasme yang berat atau ataxia.<br />
 Ritme gerak yang lambat.<br />
 Keterbatasan mobilisasi.</p>
<p>2. Repeated Contraction :<br />
Suatu tehnik dimana gerakan otot-otot agonis, yang setelah sebagian gerakan dilakukan restretch kontraksi diperkuat .<br />
Caranya :<br />
 Pasien bergerak pada arah diagonal.<br />
 Pada waktu gerakan dimana kekuatan mulai turun, terapis memberikan restretch.<br />
 Pasien memberikan reaksi terhadap restretch dengan mempertinggi kontraksi.<br />
 Terapis memberikan tahanan pada reaksi kontraksi yang meninggi.<br />
 Kontraksi otot tidak pernah berhenti.<br />
 Dalam satu gerakan/patron diagonal stretch diberikan maksimal 4(empat) kali.<br />
Gunanya :<br />
 Meningkatkan kekuatan otot<br />
 Meningkatkan keseimbangan kerja otot<br />
 Meningkatkan kemampuan/kemudahan gerakan aktif<br />
 Relaksasi dan penguluran otot antagonis<br />
 Meningkatkan tonus otot</p>
<p>3. Stretch Reflex.<br />
Bentuk gerakan yang mempunyai efek fasilitasi terhadap otot-otot yang diulur.<br />
Caranya :<br />
 Panjangkan posisi anggota badan (ini hanya dapat dicapai dalam bentuk patron).<br />
 Tarik pelan-pelan kemudian tarik dengan cepat (di tiga arah gerak) dan bangunkan stretch reflex.<br />
 Langsung berikan tahanan setelah terjadi stretch reflex.<br />
 Gerakan selanjutnya diteruskan dengan tahanan yang optimal.<br />
 Berdasarkan aba-aba pada waktu yang tepat.<br />
Gunanya:<br />
 Memandu gerakan/mengarahkan<br />
 Mempercepat gerakan<br />
 Megjarkan gerakan<br />
 Memperbaiki kekuatan otot<br />
 Mencegah kecapaian<br />
 Menambah relaksasi (autogene remming)</p>
<p>4. Combination of Isotonic.<br />
Kombinasi kontraksi dari gerak isotonik antara konsentris dan eksentris dari agonis patron (tanpa kontraksi berhenti) dengan pelan-pelan.<br />
Gunanya :<br />
 Mengajarkan pola gerakan<br />
 Latihan fungsional<br />
 Penguatan otot (pasien dengan kelemahan disatu fase gerakan)<br />
 Mengajarkan kontraksi otot secara excentris dan statis</p>
<p>5. Timing for Empasis.<br />
Bentuk gerakan dimana bagian yang lemah dari gerakan mendapat ekstra stimulasi yang lebih kuat.<br />
Caranya : Pada satu patron gerak, bagian yang kuat ditahan dan bagian yang lemah dibiarkan bergerak.<br />
Gunaya :<br />
 Penguatan otot disalah satu bagian anggota gerak<br />
 Mobilisasi</p>
<p>6. Hold Relax.<br />
Suatu tehnik dimana kontraksi isometris mempengaruhi otot antagonis yang mengalami pemendekan, yang diikuti dengan hilang atau berkurangnya ketegangan dari otot-otot tersebut (Prinsip reciproke inhibibisi)<br />
Caranya :<br />
 Gerakan pasif atau aktif dalam patron pasif atau aktif dari grup otot agonis sampai pada batas gerak atau batas sakit.<br />
 Terapis memberikan penambahan tahanan pelan-pelan pada antagonis patron, pasien harus menahan tanpa membuat gerakan. Aba-aba : “Tahan disini !”.<br />
 Relax sejenak pada patron antagonis, tunggu sampai timbul relaksasi pada grup agonis.<br />
 Gerak pasif atau aktif pada agonis patron.<br />
 Ulangi prosedur diatas.<br />
 Penambahan gerak pada patron agonis berarti menambah lingkup gerak sendi.<br />
Gunanya :<br />
 Relaksasi antagonist<br />
 Meningkatkan mobiliteit<br />
 Mengurangi nyeri</p>
<p>7. Contract Relax .<br />
Tehnik dimana kontraksi isotonik secara optimal pada otot-otot antagonis yang mengalami pemendekan. Caranya :<br />
 Gerakan pasif atau aktif pada patron gerak agonis sampai batas gerak.<br />
 Pasien diminta mengkontraksikan secara isotonik dari otot-otot antagonis yang mengalami pemendekan. Aba-aba :”Tarik atau Dorong!”.<br />
 Tambah lingkup gerak sendi pada tiga arah gerak, tetap diam dekat posisi batas dari gerakan.<br />
 Pasien diminta untuk relax pada antagonis patron sampai betul-betul timbul relaksasi.<br />
 Gerak patron agonis secara pasif atau aktif.<br />
 Ulangi prosedur tersebut diatas.<br />
 Perbesar gerak patron agonis dengan menambah lingkup gerak sendi.<br />
Gunanya :<br />
 Relaksasi/penguluran dari antagonis dengan tujuan meningkatkan mobiliteit</p>
<p>8. Slow Reversal .<br />
Tehnik dimana kontraksi isotonik dilakukan bergantian antara agonis dan antagonis tanpa terjadi pengenduran kerja otot .<br />
Caranya :<br />
 Gerakan dimulai dari yang mempunyai gerak patron yang kuat.<br />
 Gerakan berganti kearah patron gerak yang lemah tanpa pengenduran otot.<br />
 Sewaktu berganti kearah gerakan yang kuat tahanan atau luas gerak sendi ditambah.<br />
 Tehnik ini berhenti pada patron gerak yang lemah.<br />
 Aba-aba disini sangat penting untuk memperjelas kearah mana pasien harus bergerak. ( Aba-aba :”dan&#8230;&#8230;.. tarik!” ).<br />
 Tehnik dapat dilakukan dengan cepat.<br />
Gunanya :<br />
 Meningkatkan kekuatan otot<br />
 Relaksasi<br />
 Memperbaiki mobiliteit<br />
 Belajar gerakan<br />
 Memperbaiki koordinasi<br />
 Meningkatkan kemampuan mempertahankan sikap</p>
<p>9. Stabilisasi : Tehnik ini dipergunakan apabila ditemukan masalah dengan stabilitas yang kurang. Diterapkan pada bahu atau pelvis tetapi juga pada sendi yang lain dengan berbagai sikap awal. Tahanan/aproximasi diarahkan di sendinya atau pada arah gerak diagonal.<br />
Penerapan tehnik stabilisasi dengan secara gradual tahanan ditingkatkan sampai mencapai maximal dan kemudian dengan perlahan-lahan diturunkan. Tahanan diatur semakin besar tetapi jangan sampai membuat pasien rubuh. Penerapan tehnik ini hampir selalu dengan aproximasi yang dilakukan secara: Quick (cepat) pasien diminta berkontraksi untuk mempertahankan sikap tanpa ada relaksasi (aba-aba:”tahan&#8211;tahan!&#8221;)</p>
<p>10. Stabilizing reversal : Adalah satu bentuk gerakan isotonis dimana agonis dan antagonis saling diaktifkan tanpa pergantian relaksasi dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas.<br />
1) Aktifitas dimulai dengan aproximasi di bagian dengan patron yang lebih kuat.<br />
2) Terapis memberikan tahanan di ‘groove’<br />
3) Komando : “ Tahan&#8230;diam disana”!<br />
4) Pergantian dipersiapkan dengan komando : “Awas&#8230;.tahan”!<br />
5) Satu tangan masih menahan sementara tangan yang lain bertukar<br />
6) Mulailah dari arah yang lebih kuat.<br />
7) Jangan biarkan ada relaksasi selama pergantian kontraksi.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Kedua tangan bisa bertukar tetapi jangan bersamaan timingnya.<br />
9) Meningkatkan tahanan pada setiap pertukaran/reversal.<br />
10) Tahanan untuk gerak rotasi sangat penting.
</p>
<p style="text-align:justify;">11. Ritmische stabilisasi. Tehnik stabilisasi dengan berirama, lebih nyaman (dengan perasaan), dengan mengkontraksi baik agonis maupun antagonis. Ini adalah tehnik yang sulit penerapannya yang mensyaratkan bahwa pasien benar benar mengerti dan mau bekerja sama.<br />
Bagaimana :<br />
Mulai dari tempat dimana pasien masih ada sedikit stabilitas.<br />
1. Aproximasi terus menerus (dengan manual atau dengan berat badan).<br />
2. Tehnik dilakukan dengan patron lurus.<br />
3. Komando : “ Tahaaaaan&#8230;.”!<br />
4. Pasien mempertahankan sikapnya,jangan sampai ada gerakan juga rotasi.<br />
5. Mulai dari arah gerak yang lebih kuat,kemudian perlahan tahanan diganti arah.<br />
6. Tahanan diberikan dengan perlahan.<br />
7. Pada pertukaran arah tahanan jangan diberikan lagi aproximasi.<br />
8. Usahakan jangan sampai rubuh.</p>
<p>Tujuan :<br />
1) Memperbaiki stabilitas.<br />
2) Memperbaiki mobilitas.<br />
3) Menambah relaksasi.<br />
Catatan : Bila tehnik ini terlalu sulit diikuti pasien, kembalilah ke tehnik stabilisasi reversal.</p>
<p>Patron (pola gerakan) dalam PNF<br />
Patron scapula &amp; Pelvis.<br />
Sacpula :<br />
1. Anterior elevasie.<br />
2. Posterior depressie.<br />
3. Anterior depressie.<br />
4. Posterior elevasie.<br />
Pelvis :<br />
1. Anterior elevasie.<br />
2. Posterior depressie.<br />
3. Anterior depressie.<br />
4. Posterior elevasie.<br />
Kombinasi antara patron scapula dan pelvis :<br />
Symetris reciprocal.<br />
1. Anterior elevasi &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- posterior depressie.<br />
2. Posterior depressie &#8212;&#8212;&#8212;anterior elevasie.<br />
3. Posterior elevasie &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;anterior depressie.<br />
4. Anterior depressie &#8212;&#8212;&#8212;- posterior depressie.<br />
Asymetris.<br />
1. Anterior elevasie &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;anterior depressie.<br />
2. Posterior depressie &#8212;&#8212;&#8211; posterior elevasi.<br />
3. Anterior depressie &#8212;&#8212;&#8212; anterior elevasi.<br />
4. Posterior elevasie &#8212;&#8212;&#8212;- posterior depressie.</p>
<p>Patron Lengan.<br />
1. Flexi – abduksi – exorotasi.<br />
2. Flexi – abduksi – exorotasi dengan elbow flexi.<br />
3. Flexi – abduksi – exorotasi dengan elbow extensi.</p>
<p>4. Extensi – adduksi – endorotasi.<br />
5. Extensi – adduksi – endorotasi dengan elbow flexi.<br />
6. Extensi – adduksi – endorotasi dengan elbow extensi.</p>
<p>7. Flexi – adduksi – exorotasi.<br />
8. Flexi – adduksi – exorotasi dengan elbow flexi.<br />
9. Flexi – adduksi – exorotasi dengan elbow extensi.</p>
<p>10. Extensi – abduksi – endorotasi.<br />
11. Extensi – abduksi – endorotasi dengan elbow flexi.<br />
12. Extensi – abduksi – endorotasi dengan elbow extensi.</p>
<p>Patron Tungkai.<br />
1. Flexi – abduksi – endorotasi.<br />
2. Flexi – abduksi – endorotasi dengan lutut flexi.<br />
3. Flexi – abduksi – endorotasi dengan lutut extensi.</p>
<p>4. Extensi – adduksi – exorotasi.<br />
5. Extensi – adduksi – exorotasi dengan lutut flexi.<br />
6. Extensi – adduksi – exorotasi dengan lutut extensi.</p>
<p>7. Flexi – adduksi – exorotasi.<br />
8. Flexi – adduksi – exorotasi dengan lutut flexi.<br />
9. Flexi – adduksi – exorotasi dengan lutut extensi.</p>
<p>10. Extensi – abduksi – endorotasi.<br />
11. Extensi – abduksi – endorotasi dengan lutut flexi.<br />
12. Extensi – abduksi – endorotasi dengan lutut extensi</p>
<p>Pelaksanaan Latihan :<br />
I. Patron Anggota gerak atas.<br />
1. Flexi – abduksi – exorotasi.<br />
• Scapula : Elevasi posterior. Otot : m.trapezius pars descendens.<br />
• Shoulder : Flexi, abduksi, exorotasi. Otot : m.levator scapula, m.supraspinatus, m.deltoideus pars spinalis, m.teres minor, m.infra spinatus.<br />
• Elbow : Extensi. Otot : m.triceps brachii, m.supinator.<br />
• Hand : Supinasi, radial extensi, jari jari terbuka posisi extensi. Otot : m.extensor carpi radialis longus dan brevis, m.extensor digitorum longus, m.extensor policis longus dan brevis, m.abduktor policis, mm.interossei dorsalis.<br />
1) Posisi awal : Shoulder posisi extensi, adduksi dan endorotasi. Tangan diatas hip, tetapi tidak terlalu pronasi, ulnar palmar flexi.<br />
2) Hand grip : Kedua tangan didistal.<br />
3) Distal hand : Posisi lumbrical grip, keempat jari di metacarpal II dan ibu jari di metacarpal keV.<br />
4) Proximal hand : Posisi lumbrical grip di sisi dorsal dari lengan bawah.<br />
5) Strecth : Lakukan penguluran/elongated dengan baik, untuk seluruh lengan, termasuk scapula. Proximal hand menarik shoulder dan otot otot elbow. Distal hand menarik kearah palmar flexi.<br />
6) Normal timing : Pertama tama radial extensi dari wrist dan jari jari extensi, selanjutnya shoulder mengikuti dengan dilakukan traksi.<br />
7) Aba aba : “ dan&#8230;&#8230;&#8230;.tarik” atau “tangan keatas”.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Body mechanic : Terapis memindahkan berat badannya dari tungkai depan ketungkai belakang dengan rotasi badan.<br />
9) Posisi akhir : Semua gerakan berakhir dengan full rom, yaitu dalam posisi dorsal flexi dan exorotasi. Ibujari kearah menunjuk kearah dorsal.<br />
10) Perhatikan : Posisi awal yang baik, cukup adduksi di shoulder dan radius dan ulna line berada di bidang horisontal.</p>
<p>2. Flexi – abduksi – exorotasi dengan elbow flexi.<br />
   Semua sendi dan pergerakan serta otot yang bekerja sda, kecuali elbow ke arah  </p>
<p>   flexi  dan supinasi.<br />
1) Posisi awal : Shoulder extensi, adduksi dan endorotasi. Tangan diatas hip, tetapi tidak extrem pronasi, ulnar palmar flexi.<br />
2) Hand grip : Sda.<br />
3) Stretch : Elongated seluruh lengan. Proximal hand menarik otot otot shoulder dan biceps. Distal hand menarik extensor tangan.<br />
4) Normal timing : Gerakan dimulai dengan gerak extensi wrist &amp; jari jari, sehingga distal hand dapat memberikan traksi. Disaat ini proximal hand bertukar tempat tanpa kehilangan tahanan.<br />
5) Aba-aba : “Tangan keatas dan tekuk”!<br />
6) Body mechanic : Segera setelah distal hand memberikan tahanan, terapis memindahkan proximal hand ke lengan atas untuk memberikan tahanan kepada gerakan flexi elbow.<br />
7) Posisi akhir : Tangan berhenti disekitar/didepan dagu. Shoulder full flexi. Ibu jari pasien menunjuk kedorsal.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Gerakan flexi elbow dimulai pada 2/3 bagian dari seluruh range gerakan. Usahakan tahanan untuk biceps, yaitu dorong kearah posisi awal. Proximal hand bisa ditaruh diotot biceps untuk lebih memberikan fasilitasi.</p>
<p>3. Flexi – abduksi – exorotasi dengan elbow extensi.<br />
• Scapula : posterior elevasi. Otot : m.trapezius pars descendens, m.levator scapula.<br />
• Shoulder : flexi, abduksi, exorotasi. Otot : m.supraspinatus, m.deltoideus pars spinalis, m.teres minor, m.infra spinatus.<br />
• Elbow : Extensi, supinasi. Otot : M.biceps brahii, m.supinator.<br />
• Tangan : Extensi radial, extensi jari jari. Otot : m.extensor carpi radialis, m. Extensor digitorum, m.extensor policis, m.abduktor policis, mm.interossei.</p>
<p>1) Posisi awal : shoulder dalam posisi extensi dan adduksi. Tangan pasien dalam posisi ulnar flexi diatas tulang dada. Elbow mengarah ke hip sisi heterolateral dan dalam posisi maximal flexi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, lumbrical grip, kempat jari di metacarpal II dan ibu jari di metacarpal ke V. Proximal hand, dilengan sedikit diatas elbow.<br />
3) Stretch : Proximal hand memberikan tarikan ke otot otot scapula. Distal hand memberikan tarikan otot otot wrist dan triceps.<br />
4) Normal timing : Tangan memulai gerakan dengan elbow extensi, sehingga tangan diatas wajah pasien.<br />
5) Aba-aba : “dan&#8230;dorong keatas”!<br />
6) Body mechanic : Terapis berdiri diarah kepala pasien, dan memindahkan berat badannya dari tungkai yang didepan ketungkai yang dibelakang.<br />
7) Posisi akhir : Dalam posisi full extensi sama seperti patron dengan lengan lurus. Ibu jari menunjuk kelantai.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Tahanan untuk otot triceps.</p>
<p>4. Extensi – adduksi – endorotasi.<br />
• Scapula : anterior depresi. Otot : m.pectoralis mayor &amp; minor.<br />
• Shoulder : Extensi, adduksi, endorotasi. Otot : m.deltoideus, pars clavicularis, m.sub clavius, m.teres mayor, m.sub scapularis.<br />
• Elbow : Extensi, pronasi. Otot : m.triceps brachii, mm.pronator teres dan quadratus.<br />
• Tangan : Flexi ulnair, flexi fingers, flexi &amp; adduksi ibujari.</p>
<p>1) Posisi awal : Lengan dalam posisi terulur sempurna, dalam posisi flexi, abduksi dan exorotasi dengan scapula elevasi posterior. Ibu jari menunjuk kelantai.<br />
2) Hand grip : Distal hand, lumbrical grip, kempat jari jari di metacarpal ke II disisi palmar. Ibu jari dimetacarpal ke V. Proximal hand : lumbrical grip dilengan bawah disisi palmar, setinggi pergelangan tangan.<br />
3) Stretch : Proximal hand menarik otot otot elbow, shoulder dan scapula. Distal hand menarik pergelangan tangan dan flexor jari jari.<br />
4) Normal timing : Diawali menggenggam tangan dengan supinasi lengan bawah, kemudian endorotasi shoulder selanjutnya diikuti gerakan scapula.<br />
5) Aba-aba : : “ Genggam..”!<br />
6) Body mechanic : Terapis memberikan traksi dan memutar di kaki yang didepan tanpa berpindah dari groove. Pada menjelang akhir gerakan bisa diberikan restretch untuk memfasilitasi extensinya.<br />
7) Posisi akhir : Maximal range pada semua arah gerak, yaitu pada posisi adduksi dan palmar flexi di pergelangan tangan. Tanpa maximal endorotasi dan pronasi di lengan bawah.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Pada pemberian stretch dengan kedua tangan yang berlawanan arah, perhatikan arah adduksi yang cukup pada akhir gerakan.</p>
<p>5. Extensi – adduksi – endorotasi dengan elbow flexi.<br />
• Scapula : Depresi anterior. Otot : m.pectoralis mayor &amp; minor, m.seratus anterior.<br />
• Shoulder : Extensi, abduksi, endorotasi. Otot : m.subclavius, m.deltoid pars clavicularis, m.teres mayor, m.subscapularis.<br />
• Elbow : Flexi, pronasi. Otot : m.biceps brachii, m.pronator teres &amp; quadratus.<br />
• Tangan : Flexi ulnar, flexi jari tangan, flexi &amp; adduksi ibujari.</p>
<p>1) Posisi awal : Seperti pada patron dengan elbow extensi yaitu dalam posisi flexi, abduksi dan exorotasi, dengan scapula elevasi posterior dan ibu jari menunjuk kelantai.<br />
2) Hand grip : Kedua tangan didistal sama dengan patron diatas. Distal hand, keempat jari disisi palmar dari metacarpal ke II dan ibujari di metacarpal ke V. Proximal hand, lumbrical grip disisi palmar lengan bawah mendekati pergelangan tangan.<br />
3) Strech : Proximal hand memberikan stretch ke shoulder dan elbow, distal hand memberikan strech pada pergelangan tangan dan jari jari.<br />
4) Normal timing : Tangan pasien menggenggam sehingga terapis dengan mudah bisa memberikan traksi.<br />
5) Aba-aba : “ Genggam dan tekuk!”<br />
6) Body mechanic : Terapis memutar dengan kaki yang didepan. Sehingga distal hand dapat dengan mudah memberikan tahanan, pindahkan proximal hand ke sisi medial lengan atas untuk memberikan tahanan dengan baik kepada adduksi dan extensinya.<br />
7) Posisi akhir : Scapula pada posisi depresi anterior elbow menunjuk kearah hip sisi yang lain. Shoulder adduksi dan elbow full flexi.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Tahanan untuk biceps, saat perpindahan tangan, sehingga adduksi bisa dengan mudah diarahkan. Gerakan melewati wajah pasien.</p>
<p>6. Extensi – adduksi – endorotasi dengan elbow extensi.<br />
• Scapula : Depresi anterior. Otot : m.pectoralis mayor dan minor.<br />
• Shoulder : Extensi, adduksi, endorotasi. Otot : m.deltoideus pars clavicularis, m.subclavius, m.teres mayor, m.subscapularis.<br />
• Elbow : Extensi, pronasi. Otot : m.tricpes brachii, m.pronator teres dan quadratus.<br />
• Tangan : Flexi ulnar, flexi jari tangan, ibujari adduksi. Otot : mm.flexoris pollicis, m.adductor pollicis, mm.interossei palmaris, mm.lumbricalis.</p>
<p>1) Posisi awal : Shoulder seperti pada patron dengan elbow lurus, elbow dalam posisi 90 derajat flexi, sehingga ibujari menunjuk kelantai.<br />
2) Hand grip : Distal hand, keempat jari di metacarpal II disisi palmar, ibu jari dimetacarpal V. Proximal hand, memberikan tahanan dilengan atas.<br />
3) Stretch : Proximal hand memberikan stretch untuk scapula dan shoulder. Distal hand memberikan stretch untuk otot triceps dan otot tangan dengan genggaman.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan menggenggam, triceps meluruskan elbow kemudian shoulder endorotasi dan extensi penuh.<br />
5) Aba-aba : “Genggam..kuat dan &#8230;luruskan”!<br />
6) Body mechanic : Terapis membengkokkan elbow pasien untuk memberikan tahanan yang optimal. Hal itu hanya bisa dilakukan bila posisi terapis disisi atas kepala pasien diarah diagonal. Tahanan dibagian distal diarahkan kearah kepala pasien.<br />
7) Posisi akhir : Elbow full extensi dan shoulder adduksi sehingga tangan pasien diatas hip sisi kontra lateral.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Ibu jari dari distal hand memberikan tahanan untuk otot triceps. Jangan sampai mulai gerak extensi elbow sebelum tangan pasien sampai diatas hidungnya.</p>
<p>7. Flexi– adduksi – exorotasi.<br />
 Scapula : Elevasi anterior. Otot : m.trapezius pars descendens, m.levator scapulae, m.serratus anterior, m.pectoralis minor.<br />
 Shoulder : Flexi, adduksi, exorotasi. Otot : m.deltoideus &amp; rotator cuff.<br />
 Elbow : Extensi, supinasi. Otot : m.tricpes brachii, m.supinator.<br />
 Tangan : Flexi radial, flexi jari tangan, flexi &amp; adduksi ibujari. Otot:Flexor carpiradialis, m.palmaris longus, m.flexor digitorum profundus &amp; superficialis, m.flexor pollicis longus &amp; brevis, m.adductor pollicis, m.opponens pollicis, mm.interossei palmares.</p>
<p>1) Posisi awal : Palmar dibawah, arah lantai, tangan dalam posisi extensi dengan shoulder posisi retroflexi sedikit dibawah meja terapi.<br />
2) Hand grip : Kedua tangan terapis didistal. Distal hand, hetero lateral hand menahan pergelangan tangan dalam posisi dorsal flexi. Lumbrical grip disisi palmar pada metacarpal II&amp;V. Proximal hand : Disisi palmar lengan bawah.<br />
3) Stretch : Kedua tangan terapis membuat gerakan yang berlawanan. Proximal hand memberikan traksi, distal hand menarik jari dan pergelangan tangan.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan menggenggamkan tangan, selanjutnya diikuti gerakan pronasi dan shoulder.<br />
5) Aba-aba : “Daaan&#8230;..genggam kuat”!<br />
6) Body mechanic : Terapis segera membuat putaran begitu gerakan lengan dimulai. Terapis tetap digroove setelah memutar, lengan pasien berada dibawah badan terapis.<br />
7) Posisi akhir : Lengan pasien sejajar digroove. Lengan pasien tepat diatas hidungnya dengan posisi radial flexi.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Putaran tubuh terapis setelah gerakan dimulai dan juga perhatikan gerakan adduksi lengan yang cukup. Pertahankan elbow pasien tetap lurus dan berikan traksi selama gerakan terjadi.</p>
<p>8. Flexi – adduksi – exorotasi dengan elbow flexi.<br />
 Scapula : Elevasi anterior. Otot : m.trapezius pars descendens, m.levator scapula, m.serratus anterior, m.pectoralis minor.<br />
 Shoulder : Flexi, adduksi, exorotasi. Otot : rotator cuff, m.deltoideus pars clavicularis.<br />
 Elbow : Flexi, supinasi. Otot : m.biceps brachii, m.supinator.<br />
 Tangan : Radial flexi, flexi jari tangan, flexi dan adduksi ibujari.</p>
<p>1) Posisi awal : Sisi palmar tangan mengarah kelantai, dalam posisi dorsal extensi. Posisi retroflexi sedikit dibawah meja terapi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, heterolateral hand menahan pergelangan dalam posisi dorsal flexi pada metacarpal II&amp;V. Proximal hand, dilengan bawah sisi palmar.<br />
3) Stretch : Kedua tangan terapis memberikan gerakan yang berbeda. Proximal hand memberikan traksi dan distal hand memberikan penguluran di pergelangan tangan.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan menggenggam kemudian diikuti gerakan supinasi dan exorotasi. Flexi elbow terjadi selama gerakan.<br />
5) Aba-aba : “Genggam erat dan tekuk lengan!”<br />
6) Body mechanic : Terapis memutar badannya segera setelah terjadi gerakan, dan proximal hand pindah ke lengan atas selevel otot biceps.<br />
7) Posisi akhir : Lengan menyilang diagonal. Lengan pasien sedikit diatas telinganya. Elbow flexi lebih dari 90 derajat dan shoulder cukup adduksi.</p>
<p>9. Flexi – adduksi – exorotasi dengan elbow extensi.<br />
 Scapula : Elevasi anterior. Otot : m.trapezius pars descendens, m.levator scapulae, m.serratus anterior, m.pectoralis minor.<br />
 Shoulder : Flexi, adduksi, exorotasi. Otot : rotator cuff, m.deltoideus pars clavicularis.<br />
 Elbow : Extensi, supinasi. Otot : m.triceps brachii, m.supinator.<br />
 Tangan : Flexi radial, flexi jari tangan, adduksi ibu jari. Otot : m.flexor carpi radialis, m.palmaris longus, m.flexores digitorum, m.flexores pollicis, m.adductor pollicis, m.opponens, mm.interossei palmares.</p>
<p>1) Posisi awal : Telapak tangan menghadap keatas, lengan bawah dipronasikan, elbow full flexi. Terapis berdiri disamping pasien.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dari sisi palmar dimetacarpal II&amp;V, mendorong tangan pasien keposisi dorsal extensi dan elbow flexi. Proximal hand, memegang lengan bawah sedikit diatas pergelangan tangan pasien dan mendorong shoulder keposisi depresi posterior dan elbow flexi.<br />
3) Stretch : Kedua tangan memberikan stretch. Proximal hand memberikan tekanan lengan bawah ke caudal dan bawah, sehingga shoulder dalam posisi elongasi yang cukup.<br />
4) Normal timing : Tangan menggenggam dan supinasi, selanjutnya diikuti dengan gerakan extensi elbow, berlangsung sampai posisi akhir.<br />
5) Aba-aba : “Genggam kuat dan luruskan!”<br />
6) Body mechanic : Bersamaan dengan genggaman tangan pasien terapis memutar badannya dengan tungkai yang ada didepan sehingga berada diatas pasien, dengan mudah bisa memberikan tahanan arah extensi.<br />
7) Posisi akhir : Biceps diatas hidung pasien.</p>
<p>10. Extensi – abduksi – endorotasi.<br />
• Scapula : Depressi posterior. Otot : m.trapezius pars ascendens, m.latissimus dorsi, m.rhomboidei, m.serratus anterior.<br />
• Shoulder : Extensi, abduksi, endorotasi. Otot : m.deltoideus pars spinalis, m.latissimus dorsi, m.teres mayor.<br />
• Elbow : Extensi, pronasi. Otot : m.tricpes brachii, m.pronator teres &amp; quadratus.<br />
• Tangan : Extensi ulnar, extensi jari tangan, abduksi ibu jari. Otot:m.extensor carpi ulnaris, m.extensor digitorum, mm.interossei dorsales, mm.extesors pollicis, m.abduktor pollicis.</p>
<p>1) Posisi awal : Posisi elongasi, terutama kedua scapula dalam posisi adduksi. Lengan lewat diatas kepala menyilang diagonal.<br />
2) Hand grip : Kedua tangan di distal. Distal Hand, dalam lumbrical grip, dengan keempat jari di metacarpal V dan ibujari dimetacarpal II disisi dorsal tangan. Proximal hand, dengan lumbrical grip, disisi ulnar dari lengan bawah.<br />
3) Stertch : Berikan stretch pada lengan dengan baik lewat tangan, distal hand memberikan stretch pada pergelangan tangan dan jari jari.<br />
4) Normal timing : Gerakan dimulai dari distal. Ini akan mempermudah dalam memberikan tahanan.<br />
5) Aba-aba : “Tangan keatas dan&#8230;&#8230;..dorong!”<br />
6) Body mechanic : Terapis mengatur tekanan dengan ibu jarinya, badan memutar segera setelah gerakan terjadi, mengikuti arah gerakan, sehingga distal hand tidak terlepas pada saat pronasi.<br />
7) Perhatikan : Ibujari terapis di distal hand harus benar benar pegangannya. Dalam permulaan gerakan ibujari banyak memberikan tahanan dalam arah rotasi.</p>
<p>11. Extensi – abduksi – endorotasi dengan elbow flexi.<br />
• Scapula : Depressi posterior. Otot : m.trapezius pars ascendens, m.latissimus dorsi, mm.rhomboidei, m.serratus anterior.<br />
• Shoulder : Extensi, abduksi, endorotasi. Otot : m.deltoideus pars spinalis, m.latissimus dorsi, m.teres mayor.<br />
• Elbow : Flexi pronasi. Otot : m.biceps, mm.pronatores.<br />
• Tangan : Extensi ulnar, flexi jari tangan, abduksi ibujari.</p>
<p>1) Sama seperti pada patron dengan elbow lurus. Lengan lurus lewat diatas hidung.<br />
2) Hand grip : Kedua tangan di distal. Distal hand dengan lumbrical grip di metacarpal V&amp;II di sisi dorsal tangan. Proximal hand, dengan lumbrical grip, di sisi palmar dari lengan bawah. Proximal hand akan berpindah ke lengan atas pada saat gerakan.<br />
3) Stretch : Distal hand mengulur pergelangan tangan dan extensi jari jari.<br />
4) Normal timing : Distal mengatur gerakan , perpindahan tangan dari proximal hand harus mulus. Flexi elbow berlangsung setelah lengan sampai diatas wajah pasien.<br />
5) Aba-aba :”Tangan keatas dan tekuk!”<br />
6) Bod mechanic : Perhatian pada pegangan didistal. Putar badan setelah gerakan mulai sehingga tahanan optimal terhadap extensi wrist dan biceps berlangsung mulus. Perpindahan tangan lewat medial lengan ke lengan atas usahakan dengan mulus.<br />
7) Posisi : Akhir : Posisi full flexi elbow dan pronasi, sehingga jari tangan pasien mengarah ke terapis. Telapak tangan menghadap ke atas.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Ibujari didistal hand harus dengan luwes dan mantap memberikan pegangan, tahanan terutama untuk otot biceps.</p>
<p>12. Extensi – abduksi – endorotasi dengan elbow extensi.<br />
• Scapula : Depressi posterior.<br />
• Shoulder : Extensi, abduksi, endorotasi.<br />
• Elbow : Extensi, pronasi.<br />
• Tangan : Extensi ulnar, extensi jari, abduksi ibu jari.</p>
<p>1) Posisi awal : Dalam elongasi penuh. Elbow lewat atas kepala dengan posisi maximal flexi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, Dengan lumbrical grip di metacarpal II&amp;V, tangan mengulur otot triceps. Proximal hand, dengan posisi supinasi memegang lengan atas pasien setingga condylusnya. Scapula dalam posisi elevasi anterior.<br />
3) Stretch : Kedua tangan membuat gerakan yang berbeda, proximal hand mengulur keatas dan distal hand menarik kebawah. Tahanan diberikan dengan ibu jari didistal adalah sangat penting.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan extensi dan pronasi tangan secara full.<br />
5) Aba-aba : “Tangan keatas daaan&#8230;.dorong!”<br />
6) Body mechanis : Terapis berdiri di groove sedekat mungkin dengan lengan pasien. Bersamaan dengan gerakan awal tubuh terapi berputar kearah caudal untuk tetap bisa memberikan tahanan optimal.<br />
7) Posisi akhir : Seperti pada patron dengan elbow lurus, tetapi sekarang proximal hand ada di lengan atas di triceps.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Jangan sampai kehilangan grip di distal. Untuk itu putaran badan harus benar dan mulus, berdiri sedekat – dekatnya dengan lengan pasien. Berikan tahanan optimal pada otot tricveps.</p>
<p>Thrust Patron.<br />
Pada keadaan normal sehari-hari, pada saat membuka tangan bersamaan dengan lengan abduksi di shoulder. Pada thrust patron, membuka tangan berpasangan dengan gerakan abduksi. Rotasi dari shoulder dan lengan adalah saling berlawanan arah. Gerakan ini ditemui diawal perkembangan gerakan, boleh dikatakan ini adalah gerakan yang primitif. Pada perkembangan motoris, kita temukan pada saat menekan dengan posisi telungkup atau merangkak. Scapula selalu protraksi. Serratus anterior dan pectoralis mayor bekerja sama dengan triceps. Ulnal thrust maupun radial thrust dapat dengan tehnik reversal. Tujuan thrust ini adalah memperbaiki elbow extensi dengan berbagai macam variasinya.</p>
<p>Ulnar thrust.<br />
 Scapula : Elevasi anterior.<br />
 Shoulder : Flexi, adduksi, exorotasi.<br />
 Elbow : Extensi, pronasi.<br />
 Tangan : Unalr extensi dengan jari terbuka.</p>
<p>1) Posisi awal : Seperti pada posisi awal patron flexi – adduksi – exorotasi di bahu. Elbow full flexi, wrist radial flexi, dengan jari tangan tertutup. Lengan bawah supinasi.<br />
2) Hand grip : Terapis berdiri diatas kepala pasien di arah diagonal. Distal hand, dengan lumbrical grip ke empat jari di metacarpal V dan ibu jari di metacarpal II. Proximal hand, memegang lengan atas pasien dengan posisi pronasi.<br />
3) Stretch : Proximal hand mengulur shoulder dan scapula. Distal hand mengulur triceps dan extensor jari tangan pasien.<br />
4) Normal timing : Tangan dibuka dan elbow diluruskan.<br />
5) Aba-aba :”Buka tangan dan luruskan !”<br />
6) Body mechanic : Terapis berdiri sisi atas kepala pasien. Berdiri agak condong kedepan dengan bertumpu di tungkai yang didepan. Pada saat gerakan berlangsung pindahkan berat badan ketungkai yang dibelakang.<br />
7) Posisi akhir : Seperti pada patron flexi-extensi-exorotasi, tetapi sekarang dengan jari tangan dibuka dalam posisi pronasi ulnar. Elbow lurus dan biceps diatas hidung pasien.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Tahanan untuk triceps dan pronasi.</p>
<p>Reversal dari ulnar thrust.<br />
• Scapula : Depressi posterior.<br />
• Shoulder : Extensi, abduksi, endorotasi.<br />
• Elbow : Flexi, supinasi.<br />
• Tangan : Flexi radial, jaritangan tertutup.</p>
<p>1) Posisi awal : Lengan lurus lewat wajah pasien dengan tangan terbuka. Lengan bawah pronasi,wrist extensi ulnar.<br />
2) Hand grip : Terapis berdiri di sisi atas kepala pasien. Distal hand, heterolateral hand dalam posisi supinasi dan dengan lumbrical grip memegang tangan pasien di metacarpal II&amp;V. Proximal hand, Memegang lengan atas, di triceps dengan posisi pronasi.<br />
3) Strecth : Distal hand menarik biceps dan flexors jari tangan, proximal hand menarik shoulder. Kedua tangan membuat tahanan ke arah rotasi .<br />
4) Normal timing : Tangan mengatup kearah radial. Elbow ditekuk, sehingga kelingking diketiak.<br />
5) Aba-aba : “Genggam dan&#8230;tekuk!”<br />
6) Perhatikan : Tahanan optimal yang benar dengan distal hand (Supinasi).</p>
<p>Radial thrust.<br />
• Scapula : Anterior elevasi.<br />
• Shoulder : Extensi, adduksi, endorotasi.<br />
• Elbow : Extensi dan supinasi.<br />
• Tangan : Extensi radial dengan jari tangan terbuka.<br />
1) Posisi awal : Shouder dan elbow seperti pada patron extensi-adduksi-endorotasi dengan elbow extensi. Tangan menggenggam ke ulnar. Lengan bawah pronasi. Ibu jari pasien di arah ketiaknya dan elbow full flexi.<br />
2) Hand grip : Terapis berdiri ditepi bed disisi lainnya. Distal hand, tangan heterolateral dengan lumbrical grip memegang sisi dorsal dari tangan pasien. Proximal hand, tangan yang sama dengan tangan yang dilatih dalam pronasi memegang lengan atas pasien.<br />
3) Stretch : Kedua tangan memberikan stretch di groove. Distal hand memberikan stretch pada extensor dalam arah pronasi dan proximal hand memberikan stretch pada shoulder, tahanan rotasi melawan gerakan.<br />
4) Normal timing : Tangan dibuka dan lengan diluruskan kearah terapis.<br />
5) Aba-aba :”Luruskan dan dorong!”<br />
6) Body mechanic : Terapis harus hati hati terhadap dorongan pasien jangan sampai jatuh. Pindahkan berat bada ketungkai dibelakang. Paisen tidur ditepi bed disisi terapis berdiri.<br />
7) Posisi akhir : Sama dengan pada patron extensi-adduksi, tetapi sekarang dengan tangan terbuka, sehingga lengan bawah dalam posisi supinasi.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Tahanan untuk supinasi.</p>
<p>Reversal radial thrust.<br />
• Scapula : Elevasi posterior.<br />
• Shoulder : Flexi, abduksi, exorotasi.<br />
• Elbow : Flexi, pronasi.<br />
• Tangan : Flexi ulnar, jaritangan flexi.</p>
<p>1) Posisi awal : Sama seperti pada raduial thrust, jadi dengan tangan terbuka, ibujari keatas, lengan bawah supinasi.<br />
2) Hand grip : Terapi berdiri disisi yang lain. Distal hand, dengan lumbrical grip memegang sisi palmar tangan pasien. Proximal hand, memegang di triceps dilengan atas.<br />
3) Stretch : Distal hand menekan elbow dalam extensi dan tangan dalam extensi radial. Proximal hand mengulur shoulder.<br />
4) Normal timing : Tangan menutup arah ulnar. Elbow flexi. Shoulder kearah flexi-adduksi.<br />
5) Aba-aba : “Genggam kuat dan tarik!”<br />
6) Body mechanis : Pasien seolah menarik terapis. Berikan tahanan optimal, terutama disisi distal.<br />
7) Posisi akhir : Sama seperti pada posisi awal radial thrust, dengan ibu jari di ketiak. Shoulder full flexi, tetapi tidak exorotasi berlebihan.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Distal hand selain memberikan tarikan juga tahanan pronasi.<br />
Tidak dibahas karena keterbatasan waktu adalah patron sbb :<br />
1. Bilateral arm patron.<br />
2. Bilateral symetris.<br />
3. Bilateral asymetris<br />
4. Bilateral symetris reciprocal.<br />
5. Bilateral asymetris reciprocal.<br />
6. Patron lengan dengan berbagai posisi awal (tidur miring, telungkup, duduk)</p>
<p>II. Pelaksanaan patron tungkai.<br />
1. Flexi – abduksi – endorotasi.<br />
• Pelvis : Elevasi posterior.<br />
• Hip : Flexi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : (Tergantung pada kombinasi gerak).<br />
• Kaki : Flexi dorsal.<br />
• Jari kaki : Extensi.</p>
<p>1) Posisi awal : Semua sendi dalam keadaan elongasi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, jari disisi lateral kaki, di sendi metatarsopahalangeal. Ibujari di sisi medial kaki, jangan menjepit. Proximal hand, dengan lumbrical grip di tungkai atas sedikit diatas patella dengan jari tangan disisi medial dan ibujari disisi lateral.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand mengusahakan elongasi, dengan posisi hip extensi-adduksi-exorotasi, dan distal hand untuk inversi/plantar flexi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan eversi dan dorsal flexi kaki, jari kaki extensi, selanjutnya gerak flexi-abduksi-endorotasi seluruh tungkai.<br />
5) Aba-aba : “Kaki angkat keatas!”<br />
6) Body posisitioning &amp; mechanic : Tungkai yang menyentuh bed berpindah pertama kali, berpindah kebelakang.<br />
7) Posisi akhir : Jangan terlalu jauh abduksi, dorsal flexi yang cukup dan endorotasi dari hip.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Jari jari tangan dari proximal hand setelah stretch reflex tidak kontak lagi dengan tungkai. Gerakan berlangsung dibawah traksi. Tanpa ada gerakan circumduksi.</p>
<p>2. Flexi – abduksi – endorotasi dengan lutut flexi.<br />
• Pelvis : Elevasi posterior.<br />
• Hip : Flexi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : Flexi.<br />
• Kaki : Flexi dorsal, eversi.<br />
• Jari : Extensi.</p>
<p>1) Posisi awal : Semua persendian dalam keadaan elongasi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip dengan jari disisi lateral kaki, sedikit diproximal sendi metatarsophalangeal. Ibujari disisi medial kaki, jangan menjepit. Proximal hand, dengan lumbrical grip di tungkai atas sedikit diatas patella dengan jari jari disisi medial dan ibu jari disisi lateral tungkai.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand memberikan elongasi di hip dengan extensi-adduksi-exorotasi, dan distal hand dengan inversi/plantar flexi di ankle dan extensi di lutut.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan eversi dan dorsal flexi selanjutnya lutut flexi dan flexi-abduksi-endorotasi dari seluruh tungkai.<br />
5) Aba-aba : “Kaki keatas!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanics : Selama berlangsung gerakan terapis melangkah selangkah kebelakang.<br />
7) Posisi akhir : Maximal flexi hip, Sub maximal abduksi dan endorotasi hip. Maximal flexi lutut, kaki flexi dorsal dan eversi. AS lonitudinal dari tungkai bawah sedikit diluar daripada as longitudinal badan.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Tumit pasien bergerak dekat dengan permukaan meja terapi, dalam arah os ischial. Maximal flexi lutut dalam posisi akhir.<br />
3. Flexi – abduksi – endorotasi dengan lutut extensi.<br />
• Pelvis : Elevasi posterior.<br />
• Hip : Flexi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : Extensi.<br />
• Kaki : Flexi dorsal dan eversi.<br />
• Jari : Extensi.</p>
<p>1) Posisi awal : Tungkai pasien tergantung di bawah meja terapi, plantar flexi maximal, inversi, lutut flexi (sejauh mengijijnkan), sub maximal hip extensi, maximal adduksi dan exorotasi hip.<br />
2) Hand grip : Distal, dengan lumbricalgrip dengan jari disisi lateral kaki, sedikit proximal sendi metatarsophalangeal. Ibujari disisi medial kaki, jangan menjepit. Proximal, dengan lumbrical grip di tungkai atas, sedikit diatas patella dengan jari disisi medial dan ibujari disisi lateral tungkai.<br />
3) Stretch reflex : Distal mengusahakan untuk inversi/plantar flexi kaki dengan jari extensi selanjutnya lutut extensi bersamaan dengan gerakan flexi-abduksi-endorotasi dari hip.<br />
4) Aba-aba : “Kaki keatas dan luruskan!”<br />
5) Body positioning &amp; mechanic : Selama gerakan berlangsung terapis memindahkan berat badannya kebelakang dengan sedikit rotasi badan.<br />
6) Posisi akhir : Jangan terlalu jauh abduksi, cukup flexi dorsal kaki dan endorotasi hip.<br />
7) Perhatikan : Seluruh gerakan berlangsung dalam traksi, tidak ada gerak circumduksi. Extensi lutut berlangsung mulai dari awal gerak sampai akhir gerakan.</p>
<p>4. Extensi – adduksi – exorotasi.<br />
• Pelvis : Depresi anterior.<br />
• Hip : Extensi, adduksi, exorotasi.<br />
• Lutut : Tergantung kombinasi .<br />
• Kaki : Flexi plantar dan eversi.<br />
 Jari : Flexi plantar.</p>
<p>1) Posisi awal : Maximal endorotasi dan flexi di hip. Sub maximal abduksi, elongasi disemua persendian. Maximal flexi dorsal dan eversi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip. Ibu jari dan telapaknya di telapak kaki pasien disisi lateral kaki. Proximal hand, dari sisi lateral dari dorsal medial dari bawah tungkai atas, dengan sisi volair dibawah tungkai atas.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand mengupayakan stretch lewat gerakan badan, elongasi dalam arah flexi dan rotasi, sedikit abduksi. Distal hand, mengupayakan elongasi dalam flexi dorsal dan eversi.<br />
4) Normal timing : Extensi – adduksi – exorotasi seluruh tungkai.<br />
5) Aba-aba :”Dorong!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri dengan punggung menghadap pasien. Terapis pada saat gerakan berlangsung memindahkan tungkainya yang dibelakang melangkah kedepan.<br />
7) Posisi akhir : Stretch reflex untuk hip terutama diberikan dengan gerakan badan. Hip dalam posisi maximal rotasi, kaki inversi dan plantar flexi.<br />
5. Extensi – adduksi – exorotasi dengan lutut flexi.<br />
 Pelvis : Depressi anterior.<br />
 Hip : Extensi, adduksi, exorotasi.<br />
 Lutut : Flexi.<br />
 Kaki : Flexi plantar dan inversi.<br />
 Jari : Flexi</p>
<p>1) Posisi awal : Maximal flexi hip, sub maximal abduksi dan endorotasi hip. Maximal extensi lutut dan dorsal flexi dan eversi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, ibu jari di telapak kaki pasien setinggi sendi metatarsophalangeal dari sisi lateral kaki. Proximal hand, dari arah lateral, dari dorsal medial dibawah tungkai atas, tangan dengan permukaan volar memegang tungkai atas.<br />
3) Stretch reflex : Distal hand mengupayakan stretch dalam arah dorsal flexi/eversi. Proximal hand, mengulur lewat gerakan tubuh, arah flexi dan endorotasi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan flexi plantar dan inversi dari kaki selanjutnya bersamaan dengan gerakan tadi lutut flexi dan extensi-adduksi-endorotasi dari seluruh tungkai.<br />
5) Aba-aba : “Dorong dan tekuk lutut!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri dengan punggung menghadap kepasien, tungkai yang dekat dengan meja terapi berada didepan. Sewaktu berlangsung gerakan terapi melangkahkan tungkai belakang kedepan.<br />
7) Posisi akhir : Maximal flexi plantar dan inversi, exorotasi hip, flexi lutut dan extensi hip sejauh meja terapi memungkinkan.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Jangan sampai ada gerakan circumduksi, berikan tahanan baik didistal maupun proximal dengan selaras.</p>
<p>6. Extensi – adduksi – exorotasi dengan lutut extensi.<br />
 Pelvis : Depressi anterior.<br />
 Hip : Extensi, adduksi, exorotasi.<br />
 Lutut : Extensi.<br />
 Kaki : Flexi plantar, inversi.<br />
 Jari : Flexi plantar.</p>
<p>1) Posisi awal : Hip flexi maximal, sub maximal abduksi dan endorotasi. Lutut flexi maximal. As longitudinal dari tungkai bawah sedikit diluar dari as longitudinal badan.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, ibu jari dan duimmuis ditepi kaki setinggi sendi metatarsophalangeal, disisi lateral. Proximal hand, dari arah lateral lewat sebelah dorsal-medial dari tungkai bawah tangan dengan sisi volar memegang tungkai bawah disisi dorso-medial.<br />
3) Stretch reflex : Proximal mengulur hip dengan gerakan badan dalam arah flexi dan endorotasi. Distal hand mengulur lutut dan kaki dalam arah flexi, dorsal flexi dan eversi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan flexi plantar dan inversi dari kaki, selanjutnya gerakan extensi dari lutut bersamaan dengan gerakan extensi-adduksi-exorotasi hip.<br />
5) Aba-aba : “Dorong dan luruskan lutut!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri dengan punggung menghadap pasien, tungkai yang dekat meja terapi didepan, sewaktu berlangsung gerakan terapis melangkah selangkah kedepan.<br />
7) Perhatikan : Maximal rotasi hip. Tidak ada circumduksi. Tahanan baik distal maupun proximal.<br />
7. Flexi – adduksi – exorotasi.<br />
• Pelvis : Elevasi anterior.<br />
• Hip : Flexi, adduksi, exorotasi.<br />
• Lutut : (tergantung kombinasi gerak )<br />
• Kaki : Flexi dorsal, inversi.<br />
• Jari : Flexi dorsal.</p>
<p>1) Posisi awal : Endorotasi maximal, subamaximal abduksi dan extensi. Elongasi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, disisi dorsal dari kaki. Jari disisi medial, ibu jari disisi lateral. Posisi jari sedikit proximal dari sendi metatarso phalangeal. Proximal hand, dengan lumbrical grip, disisi medio-ventral dari tungkai bawah.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand mengulur dalam arah endorotasi-extensi-abduksi dan elongasi.<br />
4) Normal timing : Diawali flexi dorsal dan inversi dari kaki, selanjutnya flexi-adduksi-exorotasi dari hip.<br />
5) Aba-aba : “Kaki keatas!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri disamping dan bawah meja terapi, wajah menghadap ke pasien. Sewaktu berlangsung gerakan terapis melangkah kedepan berat badan dipindahkan ketungkai yang didepan.<br />
7) Posisi akhir : Maximal dorsal flexi dan inversi dari kaki. Maximal flexi dan exorotasi dari hip. Sub maximal adduksi hip.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Adduksi melewati middle line.</p>
<p>8. Flexi – adduksi – exorotasi dengan lutut flexi.<br />
• Pelvis : Elevasi anterior.<br />
• Hip : Flexi, adduksi, exorotasi.<br />
• Lutut : Flexi.<br />
• Kaki : Flexi dorsal, inversi.<br />
• Jari : Extensi.</p>
<p>1) Posisi awal : Maximal endorotasi, sub maximal abduksi dan extensi hip. Elongasi.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, disisi dorsal dari kaki. Jari disisi medial kaki, ibu jari disisi lateral. Jari sedikit proximal dari sendi metarsophalangeal. Proximal hand, dengan lumbrical grip, disisi medio-ventral tungkai atas.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand mengulur kearah endorotasi-extensi-abduksi dan elongasi. Distal hand mengulur kearah extensi dari lutut, arah plantar flexi dan eversi dari kaki dan elongasi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan dorsal flexi dan inversi dari kaki selanjutnya flexi dari lutut kemudian flexi-adduksi-exorotasi dari hip.<br />
5) Aba-aba : “Tekuk lutut!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri menghadap pasien disisi bawah meja terapi, sewaktu berlangsung gerakan tungkai yang dibelakang melangkah kedepan, seolah bergantung ketungkai pasien.<br />
7) Posisi akhir : Maximal dorsal flexi dan inversi dari kaki. Maximal flexi lutut, maximal flexi hip, sub maximal exorotasi dan adduksi hip. Tungkai bawah sejajar dengan mid line.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Saat tungkai diatas meja terapi rotasikan. Tahanan untuk flexi lutut. Flexi lutut selama gerakan berlangsung. Tumit pasien bergerak dekat dengan meja terapi searah tuber.</p>
<p>9. Flexi – adduksi – exorotasi dengan lutut extensi.<br />
• Pelvis : Elevasi anterior.<br />
• Hip : Flexi, adduksi, exorotasi.<br />
• Lutut : Extensi.<br />
• Kaki : Flexi dorsal, inversi.<br />
• Jari : Extensi.</p>
<p>1) Posisi awal : Hip endorotasi maximal, sub maximal adduksi extensi hip. Lutut flexi maximal dalam plantar flexi dan eversi kaki.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip, disisi dorsal kaki. Jari disisi medial dan ibu jari disisi lateral kaki. Jari sedikit proximal dari sendi metatarsophalangeal. Proximal hand, dengan lumbrical grip di medio ventral tungkai atas.<br />
3) Stretch reflex : Proximal hand memberikan tarikan elongasi dan kearah endorotasi-extensi-abduksi dari hipnya. Distal hand memberikan tarikan ke lutut dalam arah flexi dan kaki dalam arah plantar flexi dan eversi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan dorsal flexi dan inversi kaki, selanjutnya secara berbarengan lutut extensi dan hip flexi-adduksi-exoratasi.<br />
5) Aba-aba :”Luruskan lutut!”<br />
6) Body positioning &amp; mechanic : Terapis berdiri membelakangi pasien, begitu gerakan berlangsung tubuh berputar dikaki dengan cepat sehingga badan menghadap ke pasien.<br />
7) Posisi akhir : Maximal dalam posisi dorsal flexi dan inversi kaki. Maximal extensi lutut, flexi hip dan exorotasi hip. Sub maximal adduksi hip. Tungkai menyilang mid line.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Saat tungkai diatas meja terapi rotasikan. Selama berlangsung gerakan selalu diberikan traksi. Berikan tahanan untuk extensi lutut selama gerakan berlangsung dalam patron.</p>
<p>10. Extensi – abduksi – endorotasi.<br />
• Pelvis : Depressi posterior.<br />
• Hip : Extensi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : (tergantung kombinasi gerakan).<br />
• Kaki : Flexi plantar, eversi.<br />
• Jari : Flexi plantar.<br />
1) Posisi awal : Maximal flexi dan exorotasi. Sub maximal adduksi sehingga tungkai menyilang mid line. Maximal dorsal flexi dan eversi dari kaki.<br />
2) Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip. Ibu jari di bawah sendi metatarsopalangeal. Lengan bawah menahan ankle dari sisi lateral. Proximal hand, lengan bawah supinasi tangan di sisi lateral/dorsal dari tungkai atas.<br />
3) Strecth reflex : Distal hand bergerak ke arah dorsal flexi dan inversi. Proximal hand bergerak ke arah ekstensi-adduksi-eksorotasi dan elongasi.<br />
4) Normal timing : Diawali dengan plantar flexi dan eversi, selanjutnya ekstensi-abduksi-endorotasi dari tungkai.<br />
5) Aba-aba : “ Dorong !”<br />
6) Body positioning dan mekanik : Selama berlangsung gerakan, terapis melangkah ke belakang, memindahkan berat badannya ke tungkai di belakang.<br />
7) Posisi akhir : Gerakan maksimal pada kaki dan ankle. Gerakan submaksimal di persendian hip ke segala arah.<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Perhatikan : Elongasi di awal posisi. Pada posisi akhir jangan terlalu banyak endorotasi (Lordose). Tahanan optimal diberikan di tungkai atas untuk extensi hip dan abduksi.<br />
11. Extensi-Abduksi-Endorotasi dengan lutut fleksi.<br />
• Pelvis : Depresi posterior.<br />
• Hip : Extensi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : fleksi.<br />
• Kaki : Plantar fleksi dan eversi.<br />
• Jari : Plantar fleksi.</p>
<p>1. Posisi awal : Maksimal fleksi dan eksorotasi dari hip. Submaksimal adduksi dari hip sehingga tungkai menyilang mid-line. Maksimal extensi dari lutut dan dorsal fleksi dan inversi dari kaki.<br />
2. Hand grip : Distal hand, dengan lumbrical grip. Ibu jari di bawah sendi metatarso phalangeal. Lengan bawah menyangga ankle dari sisi lateral. Proximal hand, lengan bawah supinasi, tangan disisi lateral/dorsal dari tungkai atas.<br />
3. Strecth reflex : Distal hand bergerak ke arah dorsal fleksi dan inversi serta extensi. Proximal hand bergerak ke arah fleksi-adduksi-exorotasi dan elongasi (melalui fiksasi dari lengan bawah di sisi lateral maleous).<br />
4. Normal timing : Diawali dengan plantar fleksi dan eversi dari kaki. Selanjutnya secara bersamaan, lutut fleksi dan hip extensi-adduksi-endorotasi.<br />
5. Aba-aba : “Tekuk lutut !”.<br />
6. Body positioning dan mekanik : Selama berlangsung gerakan terapis memindahkan berat badannya ke belakang dan memutar tubuhnya sehingga punggungnya menghadap ke pasien.<br />
7. Posisi akhir : Maksimal gerakan di kaki dan di ankle. Maksimal fleksi lutut. Maksimal gerakan di hip.</p>
<p>12. Extensi-abduksi-endorotasi dengan lutut extensi.<br />
• Pelvis : depresi posterior.<br />
• Hip : Extensi, abduksi, endorotasi.<br />
• Lutut : Extensi<br />
• Kaki : Plantar fleksi dan eversi.<br />
• Jari-jari : Fleksi<br />
1. Posisi awal : Maksimal fleksi hip, submaksimal adduksi hip dan exorotasi. Maksimal fleksi lutut, dorsal refleksi, dan inversi. Lutut menyilang mid-line. Tungkai bawah sejajar dengan mid-line.<br />
2. Hand grip : Distal hand dengan lumbrical grip. Pangkal ibu jari di bawah sendi metatrsophalangeal. Proximal hand, di sisi lateral-dorsal dari tungkai atas dalam posisi supinasi.<br />
3. Strecth reflex : Proximal hand mengulur dalam arah fleksi adduksi dan exorotasi. Distal hand mengulur dalam arah fleksi lutut (quadriceps), inversi dan dorsal flexi dari kaki.<br />
4. Normal timing : Diawali dengan plantar fleksi dan eversi kaki. Kemudian secara berbarengan extensi dari lutut dan extensi-abduksi-endorotasi dari hip.<br />
5. Aba-aba : “Luruskan !”<br />
6. Body positioning dan mekanik : Terapis memposisikan tungkainya yang dekat dengan meja terapi ke depan. Selama berlangsung gerakan, terapis melangkah ke belakang dan memindahkan berat badannya ke tungkai yang di belakang.<br />
7. Posisi akhir : Full ROM untuk kaki dan ankle. Submaksimal ROM di hip untuk segala arah.<br />
8. Perhatikan : Pada posisi akhir jangan terlalu banyak endorotasi. Pelihara tahanan optimal untuk tungkai atas pada gerak extensi hip dan abduksi selama gerakan berlangsung.<br />
Patron tungkai dengan berbagai posisi<br />
1. Fleksi-abduksi-endorotasi dengan lutut extensi dalam posisi duduk.<br />
2. Extensi-adduksi-exorotasi dengan lutut fleksi dalam posisi duduk.<br />
3. Fleksi-adduksi-exorotasi dengan lutut extensi dalam posisi duduk.<br />
4. Extensi-abduksi-endorotasi dengan lutut fleksi dalam posisi duduk.</p>
<p>Patron tungkai secara bilateral dalam posisi duduk dan tidur.<br />
1) Bilateral simetris : Kedua tungkai bergerak dengan diagonal yang sama dan arah gerakan yang sama.<br />
2) Bilateral simetris reciproc : Kedua tungkai bergerak dalam diagonal yang sama tetapi berlawanan arahnya.<br />
3) Bilateral asimetris : Kedua tungkai bergerak dalam diagonal yang berbeda tetapi dalam arah yang sama.<br />
4) Bilateral asimetris reciproc : Kedua tungkai bergerak dalam diagonal yang berbeda dan arah yang berlawanan.</p>
<p>Patron tungkai dengan posisi terlungkup dan tidur miring<br />
Disini patronnya tidak berbeda dengan patron yang dilakukan dengan posisi terlentang. Tetapi pada posisi tidur tengkurep benar-benar tidak ada kemungkinan gerakan fleksi hip. Dengan posisi terlungkup bisa dilakukan kombinasi baik dengan lutut fleksi atau lutut ekstensi. Seringkali dalam posisi telungkup ini hanya patron extensi yang dikerjakan, patron fleksi jarang. Dengan posisi tidur miring, baik patron fleksi maupun patron extensi bisa dikerjakan. Pada posisi telungkup visuil feedback hilang.</p>
<p>Bilateral patron tungkai untuk tubuh.<br />
Kita dapat mengerjakan patron tungkai secara bilateral. Dengan tujuan :<br />
• Memfasilitasi gerakan badan<br />
• Seperti patron tungkai, sama dengan tujuan simetris maupun asimetris patron tungkai</p>
<p>Patron tungkai bilateral untuk tubuh selalu dikerjakan sebagai patron asimetris. Dengan maksud untuk fasilitasi bagian bawah dari tubuh dengan memanfaatkan otot-otot tungkai yang kuat :<br />
1) Fleksi tubuh bagian bawah<br />
2) Extensi tubuh bagian bawah</p>
<p>PNF pada penderita stroke (satu contoh kasus).<br />
Stroke merupakan gangguan sistim cerebro vasculaer yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Disini akan dijelaskan secara singkat seberapa jauh peranan PNF pada penderita stroke.<br />
Mengenai basis dan filosofi serta tehnik tehnik PNF telah dijelaskan secara singkat di depan.<br />
Adapun tujuan-tujuan PNF secara umum pada kasus stroke al :<br />
a) Menimbulkan atau meningkatkan tonus postural.<br />
b) Memperbaiki tonus postural.<br />
c) Memperbaiki koordinasi gerak.<br />
d) Mengajarkan kembali pola gerak yang benar.<br />
Assesment .<br />
Assesment merupakan faktor yang sangat penting sebelum terapis melakukan tindakan lebih lanjut, yang al :<br />
a) Bagaimana reaksi pasien terhadap rangsangan visual, pendengaran, tactiel.<br />
b) Apakan grup agonis lebih atau kurang mengalami gangguan dibanding grup antagonis.<br />
c) Adakah dominasi sikap kearah flexi atau extensi.<br />
d) Bagaimana mobilisasi, panjang otot, stabilisasi.<br />
e) Observasi juga sikap dan reaksi keseimbangan.<br />
f) Bagaimana reaksi pasien terhadap perubahan posisi atau bila pasien melakukan suatu gerakan.<br />
Rencana Terapi.<br />
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan terapi, yaitu :<br />
a) Pemilihan posisi yang tepat.<br />
b) Pemilihan patron yang tepat sesuai dengan problem dan tujuan.<br />
c) Pemilihan tehnik yang tepat sesuai dengan problem dan tujuan.<br />
d) Intensitas dan dosis.<br />
e) Kemungkinan penggunaan matras dan alat bantu lain.<br />
Pelaksanaan.<br />
1. Flaccid.<br />
 Slow Reversal bagi bagian badan dan anggota yang sehat untuk mencapai irradiatie atau overflow pada bagian tubuh yang lemah.<br />
 Rythmic Initiation dengan maksud mengenalkan kembali gerakan.<br />
2. Pada keadaan dimana anggota tubuh yang lemah menampakan tonusnya.<br />
 Latihan dengan tehnik seperti diatas (no.1) dilakukan terus dengan maksud mengembangkan tonus yang sudah ada.<br />
 Stretch Reflex bertujuan untuk : Mengajarkan kembali gerakan, mencegah kekakuan, memperbaiki mobilisasi, menambah kekuatan otot.<br />
 Timing for Emphasis, bertujuan untuk : Menambah kekuatan otot dalam gerakan satu patron, meningkatkan mobilisasi.<br />
 Stabilisasi pada posisi yang memungkinkan, dimulai dari arah yang kuat.<br />
 Repeated contraction, dengan tujuan untuk menurunkan tonus postural pada otot-otot antagonisnya. Latihan dapat diteruskan dengan tehnik Rythmic Iniitiation untuk mencapai gerakan dengan pola yang benar.<br />
 Ritmis Stabilisasi : Pada keadaan ini stabilisasi banyak ditujukan untuk menurunkan tonus postural, maka aproximasi dilakukan dengan tumpuan/menyangga berat badan selain aproximasi yang dilakukan dengan tangan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=57&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/06/22/pnf-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TINJAUAN FILSAFAT FISIOTERAPI</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/tinjauan-filsafat-fisioterapi/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/tinjauan-filsafat-fisioterapi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 08:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[A.Latar Belakang Upaya manusia di bidang kesehatan pada era pembangunan ini telah membawa perubahan konsep pelayanan kesehatan. Konsep pelayanan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan baik individu maupun masyarakat dari berbagai disiplin ilmu kesehatan. Disamping itu, permasalahan kesehatan saat ini telah bergeser dari pola penyakit menular ke pola penyakit tidak menular termasuk penyakit degenerasi. Osteoarthritis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=51&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.Latar Belakang<br />
Upaya manusia di bidang kesehatan pada era pembangunan ini telah membawa perubahan konsep pelayanan kesehatan. Konsep pelayanan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan baik individu maupun masyarakat dari berbagai disiplin ilmu kesehatan. Disamping itu, permasalahan kesehatan saat ini telah bergeser dari pola penyakit menular ke pola penyakit tidak menular termasuk penyakit degenerasi.<br />
Osteoarthritis memang belum banyak diketahui penyakit apa itu,<span id="more-51"></span> khususnya orang yang tinggal jauh dari kerumunan kota atau biasa dikatakan orang awam. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada orang yang berusia diatas 45 tahun dan laki – laki dibawah umur 55 tahun dan biasanya wanita lebih sering terkena osteoarthritis  di banding laki-laki. Osteoarthritis merupakan bentuk penyakit sendi yang terjadi pada tulang rawan sendi. Selain permukaan sendi, osteoarthritis juga mengenai daerah – daerah sekitar sendi seperti tulang subchondral,  kapsul sendi yang membungkus sendi dan otot yang melekat disekitar sendi.<br />
Osteoarthritis lutut paling banyak disebabkan oleh microtraumata karena baik   secara anatomis maupun  fungsional berhubungan dengan adanya beban yang harus disanggah oleh sendi lutut, misalnya pada posisi berjalan yang menumpu berat badan serta aktifitas lainnya dalam kehidupan sehari – hari yang secara terus menerus. Dalam penyakit osteoarthritis yang sering dirasakan adalah nyeri yang didefenisikan sebagai rasa sakit yang tidak menyenangkan serta  berhubungan dengan kerusakan jaringan actual dan fungsional. Pada osteoarthritis, nyeri biasanya dirasakan ketika sedang melakukan aktifitas dan hilang setelah istirahat atau nyeri dirasakan pada gerakan minimal bahkan pada saat istirahat.<br />
Menurut WHO lebih dari 45 juta orang di kawasan Asia fasifikdan sementara itu kaum perempuan termasuk yang rawan terkena osteoarthritis utamanya pada lutut. OA merupakan salah satu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan gangguan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang didekatnya yang biasa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan.<br />
Hampir semua orang yang menderita OA baik berat maupun  ringan dapat  terkena pada daerah tubuh,mulai dari sendi lutut, panggul, sendi bahu dan sendi siku bahkan sendi &#8211; sendi tulang belakang, namun penyebab pasti  dari OA belum diketahui akan tetapi pemicunya biasa terjadi karena obesitas (kelebihan berat badan), rutinitas berjalan jauh ditanah tidak rata, sering duduk, sering mengangkat benda yang berat, serta perubahan.<br />
Penanganan nyeri pada penderita osteoarthritis secara klinis membutuhkan suatu pengukuran. Untuk itu pengukurannya dapat dilakukan dengan Visual Analogue Scale (VAS) untuk mengukur tingkat nyeri yang dirasakan dan untuk  mengetahui berapa luasnya jarak gerak sendi dapat diukur dengan menggunakan geneometer.<br />
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama menjalani  praktek klinik di berbagai Rumah Sakit di Makassar selama 6 bulan terakhir ini peneliti banyak menemukan penderita osteoarthritis yang berkunjung ke poliklinik fisioterapi yang rata – rata umur 40 sampai 60 tahun dengan berbagai intervensi fisioterapi dalam menangani kondisi osteoarthritis yaitu modalitas fisioterapi misalnya electrotherapy, terapi latihan serta manual terapi.<br />
Salah satu intervensi manual terapi yang digunakan adalah traksi translasi.<!--more-->  Tujuan utama pemberian translasi pada penderita osteoarthritis adalah mengurangi nyeri dan memperbaiki luas gerak sendi, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh translasi femur kearah dorsal maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh translasi femur kearah dorsal terhadap peningkatan ROM dan penurunan nyeri pada penderita osteoarthritis knee join.</p>
<p>B.	Rumusan Masalah<br />
Bagaimana pengaruh pemberian traksi – translasi terahadap peningkatan ROM dan penurunan nyeri pada penderita osteoarthritis knee joint di Rumah Sakit Makassar.<br />
C.Tujuan Penelitian<br />
1)Tujuan Umum<br />
Untuk mengetahui pengaruh traksi – translasi terhadap peningkatan ROM dan penurunan nyeri pada penderita osteoarthritis knee joint.<br />
2)Tujuan Khusus<br />
a.Untuk mengetahui distribusi penderita OA lutut yang berobat di Poli Fisioterapi RS  Makassar.<br />
b.Untuk mengetahui rata – rata penurunan nyeri pada penderita OA lutut terhadap pemberian manual traksi –  translasi pada penderita osteoarthritis sendi lutut.<br />
c.Untuk mengetahui rata – rata penambahan ROM pada penderita     Osteoartritis terhadap pemberian<br />
   manual traksi – translasi pada sendi lutut.<br />
d.Untuk mengetahui pengaruh yang bermakna terhadap pemberian traksi – translasi terhadap penurunan<br />
   nyeri dan peningkatan ROM fleksi pada kondisi osteoarthritis knee joint.</p>
<p>D.Manfaat Penelitian<br />
1)Manfaat teoritis<br />
   Mengetahui dan memahami pengaruh manual traksi – translasi untuk peningkatan ROM dan penurunan<br />
   nyeri bagi penderita osteoarthritis sendi lutut.<br />
2)Manfaat Praktis<br />
a)Sebagai bahan masukan bagi penderita dan keluarga bahwa semua penyakit khususnya nyeri pada<br />
  osteoarthritis yang dapat disembuhkan dengan melakukan terapi rutin.<br />
b)Sebagai bahan masukan bagi tenaga – tenaga kesehatan dan masyarakat bahwa traksi – translasi  yang<br />
  efektif untuk diterapkan dalam menangani nyeri pada kondisi osteoarthritis.<br />
c)Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang manual traksi – translasi kaitannya dengan<br />
   penurunan nyeri dan penambahan ROM akibat osteoarthritis.<br />
d)Untuk dijadikan bahan bacaan tambahan bagi penelitian – penelitian sejenis.</p>
<p>E.TINJAUAN FILSAFAT</p>
<p>	Tinjauan dari segi filsafat meliputi 3 bidang utama filsafat yaitu ontologi,epistemologi,dan aksiologi</p>
<p>1.Ontologi<br />
Landasan ontologi berkaitan dengan hakikat /keberadaan ilmu.</p>
<p>Osteoarthritis adalah  suatu penyakit sendi yang menahun yang ditandai  dengan adanya kelainan pada tulang rawan  (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya.Tulang rawan  (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung dari tulang yang memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago dapat menyebabkan tulang bergesekan satu sama lain, yang menyebabkan kekakuan,nyeri dan pembatasan gerakan pada sendi.</p>
<p>Berbagai penyebab osteoarthritis antara lain karena usia.Semakin tua usia seseorang makin turun kwalitas kartilago persendian.Kartilago sebagai bantalan penahan tekanan semakin tua semakin berkurang elastisitasnya.Selain itu gangguan metabolik dan mekanik turut mempermudah terjadinya osteoarthritis </p>
<p>Osteoarhritis sebagai diagnosa radiologik sudah tampak 10% dari orang-orang berusia 15-24 tahun.Hampir semua orang  berusia 60 tahun memperlihatkan secara radiologik tanda-tanda osteoarthtritis  pada berbagai persendian  .Namun demikian hanya sebagian saja yang menderita nyeri dan mencari pengobatan.</p>
<p>2.EPISTOMOLOGI<br />
Landasan epistomologi berkaitan dengan  aspek metodelogi ilmu dan sarana berpikir ilmiah ,bahasa, logika dan statistika.Secara epistomologi permasalahan osteoartritis akan ditinjau dari segi anatomi ,biomekanik,patologik,gejala klinis,diagnosis, serta penatalaksanaannya.<br />
      Anatomi biomekanik knee joint<br />
Lutut merupakan sendi yang aneh bentuknya, bila dilihat permukaan sendi nampak bahwa permukaan sendi dari tulang femur dan tulang tibia tidak ada kesesuaian bentuk. Kedua kondilus femur membentuk sejenis katrol sedangkan tibia diantaranya lebih rata. Pada bagian dorsal terdapat sendi yang kuat serta di perkuat oleh ligament. Rongga sendi lutut sangat luas dan melanjutkan diri kedalam recessus suprapatellaris. Di dalam lutut terdapat ligament cruciatum anterior dan ligament cruciatum posterior. Disebelah  medial dan lateral terdapat ligamentum collateral medial dan ligamentum collateral lateral. Keempat ligament tersebut memberikan mobilisasi pada lutut dalam melakukan gerakan antara fleksi dan ekstensi.<br />
Osteokinematika yang terjadi pada sendi lutut adalah gerakan fleksi dan ekstensi pada bidang sagital dengan luas gerak sendi fleksi                antara 120 – 130 bila posisi hip mencapai fleksi penuh. Untuk gerakan ekstensi luas gerak sendi 0 tetapi 5 – 10 jika terdapat hiperekstensi lutut. Gerakan memutar pada bidang rotasi untuk gerakan endorotasi dengan luas gerak sendi antara 30 – 35    sedangkan eksorotasi antara 40 – 45 dari posisi awal mid posisi, gerakan ini terjadi pada posisi lutut fleksi 90.<br />
Otot-otot yang menggerakan sendi lutut di kelompokkan menjadi dua bagian yang terdiri dari otot quadrisep yang merupakan kelompok otot dari, m.rectus femoris, m.vastus intermedius, m.vastus medius, m.vastus lateralis. Dan otot bagian belakang yaitu hamstring yang berfungsi sebagai penggerak pada sendi lutut kearah fleksi yang terdiri dari, m.biceps  femoris, caput longum, dan brevis, m.semi memranosus dan m.semi tendonosus. Otot pembantu gerakan fleksi lutut antara lain m.popliteus dan m.gastronemius. Sedangkan untuk gerakan eksternal rotasi dilakukan oleh m.biceps femoris dan m.tensor facialata. Dan gerakan internal rotasi dilakukan oleh m.popliteus, m.gracialis dan, m.hamstring.<br />
Artrokinematika sendi lutut adalah pada femur maka gerakan yang terjadi adalah rolling dan sliding berlawanan arah. Saat fleksi femur rolling kearah belakang dan sliding kearah depan. Untuk gerakan ekstensi, rolling kedepan dan sliding kebelakang, dan jika tibia (cekung) bergerak fleksi maupun ekstensi maka rolling maupun slidding akan searah, saat gerakan fleksi menuju kedorsal sedang pada saat bergerak ekstensi menuju kedepan.<br />
    Patologi<br />
Proses patologi osteoarhtritisOsteoarthritis biasanya bermula dari kelainan pada sel – sel yang membentuk komponen tulang rawan,  seperti kolagen (serabut protein yang kuat pada jaringan ikat), dan proteoglikan  (bahan yang membentuk lenting pada tulang rawan).  Akibat dari kelainan pada sel – sel tersebut, tulang rawan ahirnya menipis dan membentuk retakan – ratakan pada permukaaan sendi. Rongga kecil akan terbentuk didalam sum-sum dari tulang bawah tulang rawan tersebut, sehingga tulang yang bersangkutan menjadi rapuh. Tubuh kita berusaha untuk memperbaiki kerusakan tersebut,  tetapi perbaikan yang dilakukan oleh tubuh mungkin tidak memadai, mengakibatkan timbulnya benjolan pada pinggiran sendi (osteofit) yang terasa nyeri.<br />
Gejala pada osteoarthritis timbul secara bertahap walnya kelainan berupa nyeri dan kekakuan pada sendi – sendi misalnya pada sendi tangan,pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, panggul dan lutut adalah bagian paling  sering terkena osteoarthritis. Nyeri dapat bersifat ringan, sedang atau berat hingga dapat menganggu aktifitas sehari – hari. Bila penyakit berlanjut maka makin lama sendi makin sulit untuk digerakkan pada akhirnya akan terhenti pada posisi tertekuk.<br />
Pertumbuhan baru tulang rawan dan jaringan lainnya dapat menyebabkan membesarnya sendi, dan tulang rawan yang permukaannya kasar akan menyebabkan timbulnya suara gemeretak pada saat sendi digerakkan.Pada beberapa sendi. Ligamen (yang mengelilingi dan menyokong sendi) dapat teregang sehingga sendi menjadi tidak stabil. Menyentuh akan menggerakkan sendi ini dapat mengakibatkan nyeri yang hebat.<br />
Osteoarthritis terjadi pada beberapa sendi yang ada dalam tubuh  manusia yang dapat menimbulkan gejala mati rasa, kesemutan, nyeri dan kelemahan pada anggota tubuh yang terkena. Osteoarthritis banyak terjadi pada daerah lutut karena daerah tersebut lebih banyak menopang  massa berat tubuh dibandingkan dengan anggota tubuh lainnya.<br />
a.	Faktor Penyebab Osteoarthritis<br />
Hampir semua orang bias terkena osteoartriotis namun berat atau ringannya osteoarthritis yang diderita berbeda – beda, dan hampir disemua sendi- sendi pada tubuh dapat terkena osteoarthritis namun apa penyebab OA belum di ketahui akan tetapi faktor pemicu OA :<br />
1.	Umur<br />
Kemungkinan seseorang yang mengidap osteoarthritis makin bertambah seiring dengan bertambahnya usia seseorang dan biasanya terjadi pada orang yang berusia diatas 45 tahun. Laki – laki dibawah umur 55 tahun lebih sering menderita penyakit ini disbanding perempuan pada umur yang sama dan setelah berumur 55 tahun biasanya wanita rentan dengan osteoarthritis.<br />
2.	Obesitas<br />
Makin tinggi berat badan seseorang makin besar kemungkinan akan terkena osteoarthritis hal ini disebabkan  karena seiring bertambahnya berat badan seseorang, beban yang diterima oleh sendi pada tubuh semakin besar, Jika seorang mengalami obesitas maka tekanan pada tulang pun lebih besar sehingga tulang rawan yang terdapat persendian – persendian yang menopang berat badan seperti sendi lutut dan dapat mengakibatkan sendi tersebut cepat aus.<br />
3.	Rutinitas<br />
Berjalan jauh di tanah tidak rata, sering duduk, sering mengangkat benda yang berat sendi yang dibebani pekerjaan terlalu berat atau overused selama puluhan tahun bisa menimbulkan keluhan saat seseorang memasuki umur 50an misalnya orang – orang yang pekerjaan berhubungan dengan aktifitas yang membutuhkan pengulangan gerakan secara terus menerus, seperti atlet, operator mesin, mempunyai resiko untuk menderita osteoarthritis.</p>
<p>4.	Kelemahan pada otot<br />
Kelemahan pada otot-otot disekeliling sendi dapat menyebabkan osteoarthritis dan penyakit lain yang dapat mengganggu fungsi dan stuktur normal pada tulang rawan seperti rematoid arthritis, hemokromatosis, gaut, akromegali dan sebagainya.<br />
5.	Perubahan Hormonal<br />
Ini terjadi pada perempuan, penelitian mengungkapkan bahwa perubahan hormonal saat siklus menstruasi dapat mempengaruhi elastitas otot – otot tubuh terutama pada bagian lutut. Penelitian di University of Michigan menyebutkan otot lutut perempuan tidak berkontraksi seperti pria saat di bebani akibatnya sendi lutut perempuan rentan cedera dan biasanya penderita osteoarthritis stadium awal bisa mengkonsumsi suplemen yang mengandung glukosamin untuk mengurangi rasa nyeri sehingga sendi  bisa di gunakan untuk bergerak akan tetapi obat ini efeknya biasanya efeknya hanya sementara.<br />
b.	Gambaran Klinis Osteoarthritis<br />
Gejala osteoarthritis ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendi – sendi terutama pada jari – jari tangan,  pegelangan tangan, dan lutut. Orang dikatakan osteoarthritis dimana terjadi penipisan pada permukaan rawan sendi yang tidak rata dan bergelombang, selain itu juga menimbulkan rasa sakit akibat peredam kejut berkurang. Gerakan sendi lancer bahkan kadang – kadang  berbunyi,  karena bagian tulang punya saraf maka tekanan ini akan menimbulkan rasa nyeri dan ketika digunakan untuk berjalan lutut akan terasa sakit dan ngilu.<br />
1.	Tanda – Tanda dan Gejala Klinis Osteoarthritis<br />
Gejala dan tanda osteoarthritis bervariasi bahkan sebagian orang yang didalam foto rontgen telah menunjukkan adanya osteoarthritis,namun sebagian penderita mempunyai keluhan yang berat, bahkan hampir tidak bisa melakukan aktifitas sehari – hari.<br />
a.	Rasa Nyeri<br />
Untuk sebagian penderita, nyeri adalah keluhan yang paling dirasakan sedangkan yang lain adalah rasa kaku dan kelainan (deformitas) sendi. Apabila lutut dan lutut dan panggul yang terkena osteoarthritis, penderita mengalami kesulitan berjalan dan terasa sakit  dan nyeri sendi paling berat terjadi pada malam hari, sedangkan pada malam pagi hari masih nyeri tetapi lebih ringan dan membaik pada siang hari.<br />
b.	Kaku<br />
Penderita osteoarthritis sering mengalami kekakuan pada sendi terutama pagi hari (morning stiffnes) atau setelah lama tidak melakukan aktifitas meskipun demikian, kaku sendi dapat diredakan dengan latihan – latihan ringan.</p>
<p>c.	Penonjolan<br />
Penonjolan pada tulang yang tumbuh bersamaan dengan osteoarthritis sering mengakibatkan deformitas terutama pada sendi yang mengalami osteoarthritis meskipun kondisi tersebut tidak mengganggu pergerakan tangan.</p>
<p>Diagnosa<br />
Diagnosis dari osteoarthritis dapat ditegakkan berdasarkan gejala penyakit dan dengan melakukan pemeriksaan tambahan, pemeriksaan tambahan yang dimaksud dapat berupa :<br />
a.	Rontgen tulang<br />
Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui kerusakan atau perubahan – perubahan yang terjadi pada tulang rawan atau tulang yang mengindikasikan adanya osteoarthritis.<br />
b.	MRI (Magnetic Resonance Imaging)<br />
Pada MRI dapat pula dilihat kelainan – kelainan yang terjadi pada tulang rawan dan tulang dengan detail yang lebih baik dari pada pemeriksaan rontgen tulang.<br />
c.	Aspirasi sendi ( arthrocentesis )<br />
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sedikit cairan yang ada dalam sendi untuk diperiksa di laboratorium berkenaan dengan adanya kelainan pada sendi.    </p>
<p>4. 	Patologi Nyeri dan ROM Kaitannya dengan Osteoaertritis<br />
Nyeri adalah perasaan majemuk yang bersifat subyektif, yang disertai perasaan tidak enak, pedis dan dingin, rasa tertekan dan ngilu, pegal dan sebagainya. Adanya stimulasi ataupun trauma dari dalam dan dari luar sistem neuromuscular, dapat mengakibatkan terangsangnya nociseptor pada saraf perifer diatas nilai ambang rangsang yang diteruskan ke korteks cerebri kemudian diterjemahkan kedalam bentuk nyeri dengan bentuk dan kualitas rangsangan yang berbeda.<br />
Menurut International Association For The Study Of  Pain, nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak nyaman,  yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau berpotensi terjadi kerusakan jaringan, atau menggambarkan adanya kerusakan jaringan.<br />
Cartilago sendi adalah jaringan lunak, berpori – pori (porous), dan permeabel yang dapat mengeluarkan cairan. Pada sendi sinovial yang sehat, ujung tulang yang membentuk sendi ditutup/dilapisi dengan cartilago sendi sehingga gerakan salah satu ujung tulang terhadap tulang lainnya secara khas disertai dengan aliran cairan sinovial yang tertekan keluar didepan area kontak yang bergerak dan juga terhisap dibelakang area kontak yang bergerak. Cartilago dapat mengurangi stress kontak maksimum yang bekerja pada sendi sekitar 50% atau lebih.<br />
Cartilago sendi merupakan jaringan avaskular yang tidak mendapat suplai saraf. Kerusakan cartilago sendi pada kondisi osteoarthritis tidak menimbulkan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul karena adanya iritasi pada ujung tulang yang kaya dengan ujung – ujung saraf sensorik dan tidak lagi dilapisi atau dilindungi oleh cartilago karena mengalami kerusakan. Selain itu, osteofit yang muncul ditepi sendi dapat mengiritasi kapsul – ligament sendi sehingga timbul nyeri hebat pada gerakan tertentu. Iritasi yang terus menerus dapat menyebabkan reaksi inflamasi didalam sendi sehingga akan menghambat gerakan tertentu. Adanya peradangan pada sendi juga menghasilkan muscle guarding sebagai proteksi terhadap gerakan pada sendi. Keadaan ini akan menghambat jarak gerak sendi (ROM) sehingga lambat laun terjadi kontraktur kapsul – ligament yang semakin memperburuk keterbatasan gerak sendi.</p>
<p>PENATALAKSANAAN<br />
Traksi &#8211; translasi<br />
1.	Pengertian<br />
Traksi translasi adalah bagian dari terapi manipulasi, dimana manipulasi pertama kali dikembangkan oleh John Mennel pada tahun 1907 dengan teknik manipulasi spinal. Sedangkan Maxey dan Bar, Tertiax Gene dan Jenifer Hicking kemudian mengembangkan teknik sendi perifer dengan konsep biomekanik (Djohan Aras, 1996).<br />
Traksi adalah penarikan tulang atau pemisahan kedua permukaan sendi yang arahnya tegak lurus dengan permukaan sendi lawanannya. Sedangkan translasi adalah pergeseran secara pasif dari salah satu permukaan tulang terhadap permukaan tulang lawanannya.<br />
Traksi-translasi merupakan bagian dari mobilisasi sendi, dimana mobilisasi sendi adalah suatu gerakan pasif yang dilakukan oleh terapis dengan kecepatan yang cukup lambat sehingga pasien dapat merasakan dan menghentikan gerakan tersebut. </p>
<p>Adapun efek dari gerakan sendi yang dihasilkan oleh teknik mobilisasi adalah:<br />
a.	Gerakan sendi dapat merangsang aktivitas biologis oleh adanya gerakan cairan sinovial yang membawa nutrisi – nutrisi  ke cartilago yang avaskular didalam permukaan sendi dan ke jaringan fibrocartilago intra – artikular (meniskus).<br />
b.	Gerakan sendi dapat memelihara ekstensibilitas dan kekuatan regangan dari jaringan sendi dan periartikular.<br />
c.	Impuls saraf afferent dari receptor sendi sebagai respon terhadap gerakan sendi akan ditransmisikan informasi tersebut ke sistem saraf pusat, dan oleh karena itu akan memberikan kesadaran posisi sendi dan gerak sendi. </p>
<p>2.	Efek Traksi – Translasi terhadap Peningkatan ROM<br />
Keterbatasan gerak pada penderita OA disebabkan oleh adanya kontraktur kapsul-ligamen didalam sendi lutut.  Adanya inflamasi dalam waktu yang lama menyebabkan reaksi autoimmobilisasi pada sendi lutut sehingga terjadi kontraktur kapsul – ligament  didalam sendi.<br />
Adanya tarikan atau pemisahan kedua permukaan tulang didalam sendi sebagai hasil dari aplikasi traksi yang disertai dengan pergeseran permukaan tulang yang satu terhadap permukaan tulang lawanannya sebagai hasil dari aplikasi translasi akan menghasilkan penguluran atau pemanjangan pada kapsul – ligament yang kontraktur akibat keterbatasan gerak yang ditimbulkan. Kombinasi traksi-translasi dapat menghasilkan penguluran atau pemanjangan yang maksimal dari kapsul-ligamen didalam sendi. Penguluran atau pemanjangan kapsul-ligamen sendi sebagai hasil dari aplikasi traksi-translasi lambat laun akan menghasilkan peningkatan ROM sendi.<br />
1.	yeri yang timbul akibat difungsi primer pada system saraf.<br />
2.	Nyeri idiopatik, nyeri dimana kelainan patologik tidak dapat ditemukan<br />
3.	Nyeri psikologik<br />
1.	Jika nyeri terjadi selama passive ROM maka seringkali berasal dari gerakan, stretching, atau jebakan/jepitan dari struktur jaringan nonkontraktile. Nyeri yang terjadi pada akhir passive ROM dapat disebabkan oleh stretching jaringan kontraktile dan jaringan nonkontraktile. Nyeri selama passive ROM bukan disebabkan oleh pemendekan aktif dari jaringan kontraktil. Dengan membandingkan gerak<br />
2.	Pemberian traksi – translasi dapat memberikan pengaruh yang bermakna terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM fleksi  pada kondisi OA Knee Joint. </p>
<p>3.	AKSIOLOGI<br />
Landasan aksiologi ilmu berkaitan  dengan dampak /manfaat ilmu bagi kesejahteraan manusia<br />
Ostearthritis pada sendi lutut merupakan kondisi yang sangat mengganggu kesehatan dan berdampak pada fisik secara khusus dan psikis serta sosial ekonomi secara umum.Gangguan kesehatan dapat berupa nyeri dan adanya keterbatasan gerak sehingga sangat mengganggu aktivitas seseorang.<br />
Adanya keterbatasan aktivitas  berdampak pada menurunnya produktivitas sehingga menurunkan taraf sosial ekonomi penderita.Dengan teknik terapi Traksi-translasi dapat mengatasi masalah ini secara aman atau mempunyai efek samping yang minimal jika dibadingkan dengan pemberian obatan-obatan medica mentosa.Sehingga selain memberi manfaat  pada penderita juga turut membantu pemerintah dalam upaya mensukseskan indonesia sehat 2010. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=51&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/tinjauan-filsafat-fisioterapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION –</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/proprioceptive-neuromuscular-facilitation-%e2%80%93/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/proprioceptive-neuromuscular-facilitation-%e2%80%93/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 07:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Alih bahasa : Herdin. SEJARAH Konsep gerakan kompleks dikembangkan oleh Dr. Hermann Kabat di Amerika Serikat pada tahun 1946 sampai 1951. Organisasi American Therapist Sherrington dan organisasi lainnya memberikan basis terhadap metode ini. Pada tahun-tahun berikutnya, metode ini dimanfaatkan dan area aplikasinya meluas. Dalam proses ini, 2 orang fisioterapi Amerika yaitu Margaret Knott dan Dorothy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=48&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alih bahasa : Herdin.</p>
<p>SEJARAH<br />
Konsep gerakan kompleks dikembangkan oleh Dr. Hermann Kabat di Amerika Serikat pada tahun 1946 sampai 1951. Organisasi American Therapist Sherrington dan organisasi lainnya memberikan basis terhadap metode ini. Pada tahun-tahun berikutnya, metode ini dimanfaatkan dan area aplikasinya meluas. Dalam proses ini, 2 orang fisioterapi Amerika yaitu Margaret Knott dan Dorothy Voss membuat kontribusi yang terkenal. <span id="more-48"></span><!--more--><!--more-->Dalam pengobatan fisioterapi modern, penggunaan gerakan-gerakan kompleks telah menjadi komponen pengobatan yang sangat diperlukan, khususnya untuk gangguan-gangguan sistem muskuloskeletal dan sistem saraf, perkembangan abnormalitas, dan trauma.</p>
<p>INTRODUKSI<br />
Metode gerakan kompleks juga dikenal dengan istilah PNF, “Proprioceptive Neuromuscular Facilitation”. PNF berarti bahwa peningkatan dan fasilitasi neuromuscular dengan sendirinya, sehingga memerlukan blocking yang berlawanan. Dalam proses ini, reaksi mekanisme neuromuscular dimanfaatkan, difasilitasi, dan dipercepat melalui stimulasi reseptor-reseptor. Penggunaan gerakan kompleks berdasarkan pada prinsip-prinsip stimulasi organ neuromuscular dengan bantuan tambahan dari seluruh gerakan. Reseptor-reseptor dalam otot dan sendi merupakan elemen penting dalam stimulasi sistem motorik.</p>
<p>PRINSIP-PRINSIP DASAR TEKNIK PNF<br />
Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar yang dapat meningkatkan reaksi yang diinginkan dan digunakan untuk mencapai fungsi yang optimal.<br />
Teknik Menggenggam<br />
Secara tepat dapat dihitung dan diaplikasikan teknik menggenggam dari terapis untuk menentukan strength (kekuatan) gerakan kompleks yang dihasilkan.<br />
Stimulasi verbal dan visual<br />
Secara sederhana, instruksi yang jelas dapat mengurangi kerja terapis. Pasien harus melihat dan berpartisipasi melakukan gerakan yang dicontohkan terapis.<br />
Kompresi dan Traksi<br />
Kompresi menyebabkan permukaan sendi saling merapat, traksi dapat menggerakkan permukaan sendi saling menjauhi. Reseptor-reseptor akan terangsang. Traksi dapat memfasilitasi gerakan pada sistem otot ; kompresi dapat meningkatkan stabilitas.<br />
Tahanan maksimal<br />
Hukum “all or nothing” dalam kontraksi otot terlibat dalam teknik ini. Tahanan isometrik dan/atau isotonik dapat digunakan dalam teknik ini. Tahanan yang maksimal ditentukan oleh strength (kekuatan) otot dari setiap pasien.<br />
Rangkaian Aksi Otot yang tepat<br />
Ketika otot berkontraksi dalam suatu rangkaian yang tepat, maka group otot yang tegang akan mengatasi tuntutan yang terjadi dengan optimal efektifitas. Waktu yang tepat dapat berperan penting baik pada gerakan kompleks maupun pada olahraga.<br />
Ada 3 komponen gerakan yang mengambil bagian dari setiap pola gerak spiral dan diagonal :<br />
Fleksi atau ekstensi<br />
Adduksi atau abduksi<br />
Eksternal atau internal rotasi<br />
Eksternal rotasi digunakan dalam kombinasi dengan supinasi, dan internal rotasi digunakan kombinasi dengan pronasi. Variasi teknik gerakan kompleks dapat memperbaiki implementasi dan efektifitas sistem muskuloskeletal. Urutan gerakan pada olahraga spesifik dapat dikombinasikan dengan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak memukul pada handball atau menembak bola pada sepakbola.<br />
Tahanan langsung<br />
Hal ini melibatkan tahanan optimal untuk seluruh durasi gerakan; tahanan ini bergantung pada gerakan alamiah yang beragam.<br />
Kontraksi yang berulang<br />
Kontraksi statik dan dinamik terlibat secara bergantian. Strength (kekuatan) otot diperbaiki, khususnya pada area genggaman tahanan, ROM, dan endurance (daya tahan).<br />
Slow turning – putaran lambat (teknik Hold Relax)<br />
Dalam slow turning, suatu kontraksi statik isometrik dari otot antagonis diikuti oleh suatu kontraksi dinamik isotonik dari otot agonis<br />
Slow turning – Holding/Dipertahankan (Slow Reversal Hold)<br />
Dalam latihan ini, kontraksi dinamik isotonik pada otot antagonist dan agonist akan diikuti oleh kontraksi statik isometrik pada kelompok otot tersebut.<br />
Rhythmic Stabilization<br />
Rhythmic stabilization adalah suatu kontraksi statik isometrik dari otot antagonist yang disertai dengan suatu kontraksi statik isometrik dari otot agonist, yang dapat meningkatkan suatu ko-kontraksi, yaitu multiple kontraksi dari otot antagonist.<br />
GERAKAN KOMPLEKS SEBAGAI PREVENTIF DAN<br />
REHABILITASI BAGI ATLIT<br />
Pada edisi kedua perubahan dari buku Gerakan Kompleks – Fasilitasi Gerakan menurut Dr. Kabat, Margaret Knott and Dorothy Voss menulis kata pengantar yaitu “Pada suatu tempat dan suatu waktu kami berharap bahwa teknik ini masih merupakan metode yang tidak sempurna untuk fasilitasi skill-skill motorik dan untuk pencegahan injury/cidera juga akan digunakan dalam program training atletik.<br />
Pada tahun 1973, saya tinggal beberapa bulan di California pada Institut Kabat-Kaiser di Vallejo, dibawah arahan Margaret Knott untuk belajar metode gerakan kompleks. Pada tahun berikutnya secara berturut-turut saya telah mentraining beberapa atlit yang injury dan yang sehat dengan metode ini. Saya berusaha untuk menguraikan secara terperinci perbedaan antara teknik ini dan “teknik murni dengan gerakan kompleks”. Penggunaan gerakan kompleks dalam fisioterapi olahraga (fisioterapi pada atlit) tentunya belum cukup diteliti. Terdapat metode yang tidak seragam dalam penggunaannya. Meskipun demikian, pengalaman dapat menjanjikan kesuksesan, dan penggunaan gerakan kompleks akan meluas.<br />
Pada cabang-cabang olahraga, beberapa reaksi muncul sebagai respon terhadap stimuli training dan kompetisi. Atlit sebagai organisme yang sangat kuat dapat berkembang dengan pesat peningkatan dalam kemampuan motorik, strength (kekuatan), dan endurance (daya tahan). Keterbatasan dalam meningkatkan performa ditentukan oleh kondisi fisik anatomi seseorang dan belajar atau warisan (faktor keturunan) dalam reaksi neuromuskular. Jika koordinasi neuromuskular belum berkembang secara penuh, maka atlit tidak mampu merespon secara cukup/ adekuat terhadap tuntutan training dan kompetisi. Stimuli bagi atlit harus diregulasi/ diatur dengan teknik gerakan kompleks sehingga reaksi yang diinginkan dapat terjadi. Titik lemah dari cabang olahraga atletik yang beragam dapat dieliminasi dan dibawa sampai fungsi optimal melalui tindakan preventif atau rehabilitasi training. Pola gerakan (sensorik engrams) yang lemah atau terganggu akibat injury dapat dikembangkan kembali dengan stimulus spesifik melalui aplikasi gerakan kompleks; strength (kekuatan) otot dapat ditingkatkan dengan repetisi gerakan sama yang seringkali, dan ROM dapat ditingkatkan. Hanya kombinasi gerakan tersebut yang merupakan pengobatan bertujuan tertentu untuk tuntutan lokal dari olahrag tertentu sehingga menghasilkan kesuksesan, hal ini disebut “special training”. Otot-otot yang digunakan untuk mempertahankan kerja/latihan akan lebih terlatih secara statik, sedangkan otot-otot yang melakukan gerakan akan lebih terlatih secara dinamik. Sebagai contoh, otot-otot perut biasanya melakukan kerja statik. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=48&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/19/proprioceptive-neuromuscular-facilitation-%e2%80%93/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI FISIOTERAPI INDONESIA</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/09/pengembangan-standar-kompetensi-fisioterapi-indonesia/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/09/pengembangan-standar-kompetensi-fisioterapi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[TENTANG AKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/09/pengembangan-standar-kompetensi-fisioterapi-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[LATAR BELAKANG Kebijakan kesehatan nasional Indonesia sehat 2010 5 Fenomena utama; transisi, epidemiologi- geografi, temuan baru IPTEK, pengaruh lingkungan, globalisasi, dan         demokratisasi  Fisioterapi bagian integral pelayanan kesehatan Struktur organisasi baru Depkes LATAR BELAKANG Perkembangan fisioterapi WCPT 1995 &#8211; 1999 Piramida pendidikan fisioterapi Indonesia Pelayanan Mandiri dari umum sampai komplek dilandasi profesionalisme Perkembangan Globalisasi D III [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=43&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LATAR BELAKANG<br />
Kebijakan kesehatan nasional Indonesia sehat 2010<br />
5 Fenomena utama; transisi, epidemiologi- geografi, temuan baru IPTEK, pengaruh lingkungan, globalisasi, dan         demokratisasi</p>
<p style="text-align:left;"> Fisioterapi bagian integral pelayanan kesehatan<br />
Struktur organisasi baru Depkes</p>
<p>LATAR BELAKANG<br />
Perkembangan fisioterapi WCPT 1995 &#8211; 1999<br />
Piramida pendidikan fisioterapi Indonesia<br />
Pelayanan Mandiri dari umum sampai komplek dilandasi profesionalisme<br />
Perkembangan Globalisasi<span id="more-43"></span><br />
D III dan D IV belum ada pola baku<br />
Belum ada landasanhukum pelayanan</p>
<p>PERMASALAHAN<br />
Perbedaan fisioterapi Indonesia dengan fisioterapi dunia terutama pendidikan<br />
Dampak APTA 2003 dan WTO 2010<br />
Kualitas pelayanan fisioterapi di Indonesia perlu ditingkatkan<br />
Standar Kompetensi Fisioterapi yang ada perlu dikembangkan<br />
Perlu pengembangan kurikulum pendidikan fisioterapi<br />
Dasar Hukum<br />
UU No 32<br />
UU No 20<br />
PP No 23<br />
Kepmenkes 1363<br />
Kepmenpan Jabfung<br />
Kep IFI No 71 tahun 2001<br />
Standar Profesi Fisioterapi<br />
GATS ( WTO ) :<br />
FT termasuk salah satu profesi yg mjd proiritas.<br />
Di kembangkan 4 mode :<br />
Konsultasi jarak jauh.<br />
Pengobatan ke LN<br />
Investasi bidang kes (RS PMA)<br />
Praktek di LN<br />
WCPT &amp; WTO :<br />
Kesetaraan global kompetensi<br />
Sertifikasi internasional<br />
UU NO. 20 THN 2003<br />
TTG SISDIKNAS<br />
Perguruan tinggi dpt berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas ( psl 20 ayat 1)<br />
Perguruan tinggi dpt menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi ( psl 20 ayat 3)<br />
Bentuk PT :<br />
Akademi : menyelenggarakan pendidikan VOKASI dlm satu cab. / sebag. Cab. Ilmu pengetahuan &amp; teknologi tt.<br />
Politeknik : menyelenggarakan pendidikan VOKASI dlm sejumlah bid. Khusus.<br />
Sekolah Tinggi: menyelenggarakan pendidikan AKADEMIK &amp;/VOKASI dlm lingkup satu disiplin ilmu &amp; dpt menyelenggarakan PENDIDIKAN PROFESI.<br />
Institut : menyelenggarakan pendidikan AKADEMIK &amp;/VOKASI dlm sekelompok disiplin ilmu &amp; dpt menyelenggarakan PENDIDIKAN PROFESI.<br />
Universitas : menyelenggarakan pendidikan AKADEMIK &amp;/VOKASI dlm sejumlah disiplin ilmu &amp; dpt menyelenggarakan PENDIDIKAN PROFESI.<br />
KEPMENKES NO. 1363 THN 2001<br />
ttg Registrasi &amp; Izin Praktek FT’S<br />
FT adalah bentuk yan kes yg ditujukan kpd individu &amp; atau klpk utk mengembangkan, memelihara &amp; memulihkan gerak &amp; fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dgn menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis &amp; mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.<br />
Profil pelayanan FT harapan Masyarakat :<br />
SDM yang profesional.<br />
Izin praktek yg jelas.<br />
Terakreditasi<br />
Teknologi yg dapat dipertanggung jawabkan<br />
Sarana &amp; prasarana yang memadai<br />
Fungsi sosial<br />
Tidak diskriminatif.<br />
Biaya terjangkau.</p>
<p>HAK &amp; KEWAJIBAN TENAGA KESEHATAN (UU NO.23/1992 )<br />
Tenaga kes. Berhak memperoleh perlindungan hukum dlm melaksanakan tugas sesuai dgn profesinya (psl 53 ayat 1)<br />
Tenaga kes. Dlm melakukan tugasnya berkewajiban utk mematuhi standar profesi &amp; menghormati hak pasien (psl 53 ayat 2).</p>
<p>KARAKTERISTIK SEORANG PROFESIONAL A.L. :<br />
1. Dia merasa bangga dengan pekerjaannya dan menunjukan<br />
komitmen personal terhadap kualitas.<br />
2. Dia mempunyai tanggung jawab yang besar, dapat<br />
mengantisipasi sehingga dia sangat berinisiatif.<br />
3. Dia ingin menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas dan ikut<br />
terlibat dalam berbagai tugas diluar peranan yang ditugaskan.<br />
4. Dia ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya dan<br />
meningkatkan kemampuan untuk melayani.<br />
5. Dia itu mendengar kepada kebutuhan para pelanggannya serta<br />
dia adalah pemain di dalam suatu tim.<br />
6. Dia dapat dipercaya dan jujur, terus terang dan loyal.<br />
7. Selanjutnya dia terbuka terhadap kritik yang konstruktif dan mau<br />
meningkatkan dan menyempurnakan dirinya.<br />
8. Profesionalisme adalah lebih dari hanya sekadar menguasai kiat-<br />
kiat tertentu.</p>
<p>TUJUAN</p>
<p>Standar Kompetensi dijadikan landasan pengembangan Profesi Fisioterapi dan dalam hal Pendidikan, Pelayanan, dan Manajemen Fisioterapi<br />
Landasan Penyusunan Kompetensi Fisioterapi<br />
Paradigma Fisioterapi<br />
Definisi Fisioterapi<br />
Pengembangan Pendidikan<br />
Proses Fisioterapi<br />
Cakupan Pelayanan Fisioterapi; Promosi, Pencegahan, Intervensi<br />
Fragmentasi pelayanan<br />
Prinsip prinsip Kode etik</p>
<p>10 KOMPETENSI DASAR FISIOTERAPI</p>
<p>1.ANALISA ILMU SOSIAL DAN PRILAKU FT</p>
<p>1.1.1 Menganalisa bentuk perkembangan manusia baik yang normal ataupun abnormal</p>
<p>INDIKATOR :<br />
a. Mampu menunjukkan perkembangan fisik dan psikologi manusia dari masa embryo sampai akhir kehidupan<br />
b. Mampu menunjukkan proses kematangan dalam system tubuh manusia<br />
c. Mampu mengidentifikasi perkembangan manusia yang abnormal<br />
d. Memahami aspek-aspek system social, budaya, psikososial, lingkungan, spiritual dan kepercayaan yang mempengaruhi perkembangan dan prilaku manusia</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan.</p>
<p>1.1.2 Menganalisa struktur tubuh manusia baik yang normal ataupun abnormal<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi dan menunjukkan gambaran dan fungsi sel dan bentuk dasar jaringan<br />
b. Menunjukkan struktur, lokasi dan hubungan anatomi system tubuh dari masa embryo akhir kehidupan<br />
c. Mengidentifikasi struktur anatomi dari bentuk yang paling dasar<br />
d. Mampu menunjukkan proses patologi penyakit dari tingkat sel dan jaringan pada system tubuh manusia<br />
e. Mengidentifikasi struktur tubuh yang normal dan abnormal. Mampu menerangkan bagaimana keabnormalan dari fungsi tubuh dan suatu penyakit dapat mempengaruhi struktur tubuh manusia</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan.</p>
<p>1.1.3 Menganalisa fungsi tubuh (fisiologis) manusia baik yang normal ataupun abnormal<br />
Indicator :<br />
a. Mampu menunjukkan prinsip dan proses yang berhubungan dengan seluruh system tubuh manusia<br />
b. Mampu menunjukkan proses patologi yang mempengaruhi fungsi tubuh manusia dan dampak yang ditimbulkannya<br />
c. Mampu menunjukkan hubungan fungsional antara sel, jaringan, organ dan system tubuh manusia<br />
Memahami prinsip ilmu gerak yang mencakup factor mekanik, psikologis, fisiologis yang mempengaruhi pergerakkan manusia dan gangguan gerak.<br />
e. Memahami proses acquisition kemampuan motorik<br />
f. Memahami factor-factor system social, budaya, psikologis, lingkungan, spiritual dan kepercayaan yang berhubungan dengan fungsi dan perkembangan manusia<br />
g. Memahami dampak impairment terhadap intelektual dan kesehatan mental pada prilaku manusia<br />
h. Memahami dampak fisiologis dan psikologis terhadap nyeri, impairment, disability dan handicap<br />
i. Memahami dampak stress fisiologis dan psikologis</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan.</p>
<p>1.2.1 Mengevaluasi pentingnya gaya hidup sehat dari konsumen<br />
Indicator :<br />
a. Memahami konsep kesehatan individu<br />
b. Mampu menunjukkan konsep-konsep yang membentuk wellness<br />
c. Mengidentifikasi factor yang menguntungkan dan merugikan kesehatan baik pada individu dan masyarakat<br />
d. Mengidentifikasi pentingnya epidemiology<br />
e. Memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip prophylactic fisioterapi<br />
f. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pribadi dan orang lain<br />
g. Mengerti prinsip-prinsip ergonomic</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan.</p>
<p>1.2.2 Menggambarkan praktek medis dan pembedahan yang banyak dijumpai<br />
Indicator :<br />
a. Memahami gejala-gejala klinis yang paling sering timbul dalam lingkup praktek klinik<br />
b. Memahami bentuk-bentuk manajemen kelainan medis dan pembedahan yang dilakukan oleh fisioterapi dalam konteks pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tertier<br />
c. Memahami prosedur, dampak dan komplikasi dari adanya kondisi medis atau pembedahan dimana fisioterapis dapat berperan<br />
d. Mampu menunjukkan pengkategorian obat-obatan yang biasa dipakai dan dampak yang diakibatkannya<br />
e. Mampu menunjukkan penyakit-penyakit iatrogenic dan hubungannya dengan fisioterapi<br />
f.Mampu menunjukkan peran pemberi pelayanan kesehatan lain dan fungsi mereka dalam memanjemen seorang konsumen kesehatan.</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.2.3 Memahami modalitas electric fisioterapi dan menunjukkan keahliannya dalam aplikasi klinis<br />
Indicator :<br />
a. Menbahas mekanisme tujuan dari modalitas elektrik fisioterapi<br />
b. Mampu menunjukkan dan menerapkan prinsip-prinsip pada modalitas terapi fisik dengan arus frekuensi tinggi, sedang, dan rendah, radiasi elektromagnetik, radiasi energi dan frekuensi tinggi suara<br />
c. Membahas indikasi penerapan modalitas elektroterapeutik<br />
d. Mampu menunjukkan dampak fisik, fisiologis, dan therapeutic dari modalitas elektroterapeutik sebagai salah satu pilihan dalam memberikan terapi<br />
e. Memahami bahaya, hazards, perhatian dan kontraindikasi dari modalitas electric<br />
f. Mampu memperagakan penerapan modalitas electroterapeutik yang aman dan effektif dalam kaitannya dengan kode etik dan literature yang berlaku</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.2.4 Memahami dan mampu menerapkan modalitas fisik fisioterapi dan menunjukkan keahliannya dalam aplikasi klinis<br />
Indicator :<br />
a. Menbahas mekanisme tujuan dari modalitas fisik fisioterapi<br />
b. Dapat memperagakan penaganan dan perawatan yang aman dan sesuai sepanjang daur hidup<br />
c. Dapat memperagakan pengetahuan untuk memberi pendidikan kepada orang lain mengenai prinsip-prinsip penanganan dan perawatan<br />
d. Mampu menganalisa secara kritis tes dan pengukuran asesmen fungsional yang berhubungan dengan konsumen<br />
e. Dapat memperagakan penerapan terapi panas dan dingin yang aman dan effektif<br />
f. Memahami prinsip-prinsip hydrotherapi dan penerapannya dengan tehnik yang tepat<br />
g. Memahami prinsip-prinsip fisioterapi cardiopulmonal dan penerapannya dengan tehnik dan pengaturan yang tepat<br />
h. Memahami prinsip-prinsip rehabilitasi neurological dan penerapannya dengan tehnik yang tepat<br />
i. Memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip penggunaan peralatan dan bahan-bahan alat assistive, supportive, restorative, preventative, dan protective yang berhubungan dengan fisioterapi<br />
j. Memahami prinsip-prinsip, tujuan dan penerapan modalitas fisiok pada bidang pelayanan kesehatan yang lain seperti, kesehatan wanita, kesehatan mental dan paediatri.<br />
k. Memahami bahaya, resiko, perhatian khusus dan kontraindikasi dari modalitas fisik</p>
<p>1.2.5 Memahami prinsip-prinsip latihan dalam rehabilitasi dan menunjukkan keahliannya dalam aplikasi klinis<br />
Indicator :<br />
a. Membahas dampak latihan terhadap individu<br />
b. Mampu memperagakan pelayanan dan tehnik penanganan terhadap konsumen yang aman dan sesuai dan aman<br />
c. Mampu memperagakan pengetahuan untuk memberi pendidikan kepada orang lain mengenai prinsip-prinsip penanganan dan perawatan<br />
d. Mampu menentukan kemajuan latihan yang diberikan<br />
e. Mampu memperagakan asesmen fungsional dan menentukan penggunaan latihan yang tepat<br />
f. Mampu memperagakan penggunaan peralatan yang aman dan efektif<br />
g. Memahami bahaya, resiko, perhatian khusus dan kontraindikasi dari latihan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.2.6 Memahami tehnik manual terapi dalam fisioterapi dan menunjukkan keahliannya dalam aplikasi klinis<br />
Indicator :<br />
a. Menbahas mekanisme tujuan dari teknik manual terapi<br />
b. Mampu memperagakan pelayanan dan tehnik penanganan terhadap konsumen yang aman dan sesuai dan aman<br />
c. Mampu memperagakan pengetahuan untuk memberi pendidikan kepada orang lain mengenai prinsip-prinsip penanganandan perawatan<br />
d. Memahami prinsip-prinsip dan penerapan massage therapeutic<br />
e. Memahami prinsip-prinsip terapi manipulasi dan penerapannya dengan teknik yang tepat<br />
f. Memahami prinsip-prinsip manual terapi dalam konteksi fisioterapi cardiopulmonal<br />
g. Memahami prinsip-prinsip manual terapi dalam konteksi fisioterapi neurological<br />
h. Memahami bahaya, resiko, perhatian khusus dan kontraindikasi dari manual terapi</p>
<p>1.3.1 Memahami struktur system pelayanan kesehatan di New Zaeland<br />
Indicator :<br />
a. Mampu menggambarkan system pelayanan kesehatan di New Zaeland khususnya yang berhubungan dengan fisioterapi<br />
b. Mampu menggambarkan pemberi pelayanan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan fisioterapi<br />
c. Mampu menggambarkan jaringan masyarakat yang mendukung pelayanan kesehatan<br />
d. Mengidentifikasi profesi pembaeri pelayanan kesehatan yang lain<br />
e. Mengetahui sejarah dan perkembangan fisioterapi di New Zaeland</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.3.2 Memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam system pelayanan kesehatan New Zaeland<br />
Indicator :<br />
a. Mengetahui prinsip-prinsip manajemen, administrasi, dan perencanaan dalam system pelayanan kesehatan<br />
b. Mampu menerapkan prinsip-prinsip manajemen dan keahlian yang ditujukan bagi :<br />
Diri sendiri<br />
Konsumen<br />
Peran fisioterapi dalam sebuah tim kesehatan<br />
c. Memahami prinsip-prinsip dan memperagakan manajemen waktu<br />
d. Memahami prinsip-prinsip manajemen dalam hal delegasi tugas, supervisi, pengaturan, budgeting, dan sumber daya<br />
e. Mampu menunjukkan prinsip-prinsip dokumentasi<br />
f. Memahami prinsip-prinsip pengendalian mutu dalam hubungannya dengan praktek fisioterapi<br />
g. Mampu memperagakan teknik-teknik evaluasi diri sendiri dan juga kelompok</p>
<p>1.3.3 Mengerti prinsip Treaty of Waitangi dalam konteks praktek fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mampu menggambarkan prinsip-prinsip Treaty Waitangi<br />
b. Memahami pentingnya Treaty Waitangi di New Zaeland<br />
c. Memahami pentingnya Treaty Waitangi dalam praktek kesehatan di New Zaeland</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh –contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
1.3.4 Mengevaluasi dan mampu menerapkan prinsip-prinsip penelitian kesehatan<br />
Indicator :<br />
a. Memberi kritik mengenai literature dan laporan penelitian yang sesuai<br />
b. Mampu menggambarkan paradigma penelitian<br />
c. Mampu menerangkan metodologi penelitian<br />
d. Mampu mencatat, menerangkan dan menyajikan data<br />
e. Mampu menggambarkan demografi dan epidemiologi serta aplikasinya pada penelitian kesehatan<br />
f. Mampu menggambarkan etika dan hokum yang berhubungan dengan penelitian kesehatan<br />
g. Mampu menggambarkan susunan untuk penyajian data penelitian<br />
h. Mampu memperagakan kepedulian terhadap informasi teknologi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
1.4.1 Mampu menerapkan prinsip-prinsip dan metode pendidikan dalam praktek fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mengerti mengenai teori-teori yang diterima dan menggambarkan prinsip-prinsip pembelajaran, pemberian pengetahuan, kemampuan, attitude dan nilai, serta integrasi dari semua hal tersebut<br />
b. Memahami tujuan pembelajaran, tujuan pendidikan prilaku, dan hasil dari pendidikan tersebut<br />
c. Memahami karakterisrik, penggunaan dan penerapan teknik-teknik dan metode pembelajaran dan cara mengajar bagi individu dan kelompok<br />
d. Merencanakan dan mengimplementasikan program-program pembelajaran dan cara mengajar bagi individu dan kelompok<br />
e. Mengevaluasi dan memodifikasi teknik pembelajaran dan mengajar</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.4.2 Mampu menerapkan bentuk- bentuk alasan klinis dalam praktek fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mampu menggambarkan prinsip dan metode alasan klinis<br />
b. Mengevaluasi hasil dan memodifikasi proses</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup<br />
contoh-contoh dimana dapat menunjukkan<br />
tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.4.3 Mampu menerapkan keahlian interpersonal dalam praktek fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi dan menginterprestasikan kesamaan dan perbedaan kebudayaan dan individual<br />
b. Mempraktekan keamanan kebudayaan<br />
c. Mengidentifikasi dan menginterprestasikan komunikasi baik verbal maupun non verbal<br />
d. Mampu menggambarkan prinsip-prnsip keahlian komunikasi oral untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang effektif<br />
e. Mengerti prinsip-prinsip konseling<br />
f. Mampu menggambarkan pentingnya suatu pendekatan<br />
g. Memahami konsep self-esteem dan peran pentingnya dalam praktek kesehatan<br />
h. Menggambarkan prinsip-prinsip motivasi<br />
i. Mampu menggambarkan penyederhanaan komunikasi professional</p>
<p>1.4.4 Menunjukkan hubungan interpersonal yang baik<br />
Indicator :<br />
a. Menggambarkan prinsip-prinsip prilaku individu dan kelompok<br />
b. Mengidentifikasi factor social dan budaya dalam suatu hubunganmengidentifikasi pengaruh keluarga, whanau, masyarakat, dan kelompok terhadap prilaku individu<br />
c. Memahami proses kolaborasi dalam suatu hubungan antara konsumen dan fisioterapis<br />
d. Mengerti efek disability pada prilaku manusia</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan</p>
<p>1.4.5 Memahami etika, hokum dan dimensi profisional dalam pelayanan kesehatan<br />
Indikator :<br />
a. Mengerti etika pelayanan kesehatan<br />
b. Memahami kode etik pembenaran dan tanggung jawab terhadap pemberi pelayanan dan konsumen<br />
c. Membangun hubungan interpersonal berdasarkan respek yang baik dari setiap individu<br />
d. Memahami kode etik praktek professional<br />
e. Mengerti legislasi praktek fisioterapi<br />
f. Mencatat secara akurat semua informasiyang berhubungan dengan status konsumen<br />
g. Memahami konsep profesionalisme</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>1.4.6 Membahas dimensi psikososial dalam pelayanan kesehatan dan kerja pelayanan kesehatan<br />
Indicator :<br />
a. Memahami perubahan psikologis dan strategi koping pada disability dan penyakit kronik sepanjang daur kehidupan<br />
b. Menggambarkan proses grieving (kesedihan), strategi attitude dan koping, pada individu dan kelompok budaya<br />
c. Memahami dampak psikologis dari adanya penyakit, disability dan kematian<br />
d. Mengidentifikasi factor-factor psikososial dan budaya yang berpengaruh terhadap pemilihan pelayanan perawatan kesehatan<br />
e. Memahami pentingnya konsep wellness<br />
f. Memahami pendekatan holistic terhadap dimensi psikososial dari konsumen, pekerja perawatan kesehatan dan pelayanan perawatan kesehatan<br />
g. Memahami aspek psikososial pada ketergantungan dan perubahan terhadap fisioterapi</p>
<p>2.ANALISA KEBUTUHAN &amp; KEINGINAN KONSUMEN<br />
2.1 Mengobati konsumen dengan perhatian<br />
Indicator :<br />
a. Menunjukkan adanya perhatian terhadap diri sendiri dan orang lain<br />
b. Menunjukkan adanya prilaku yang bertanggungjawab<br />
c. Menunjukkan kemampuan akuntasi (berhitung)<br />
d. Menunujukkan objektivitas<br />
e. Menerapkan prinsip-prinsip seorang individu yang baik<br />
f. Menunjukkan empati dan pendekatan dalam merawat<br />
g. Menggunakan keahlian berkomunikasi yang tepat<br />
h. Mengerti informed consent (persetujuan tindakan)</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.2 Mampu menunjukkan pendekatan holistic<br />
Indicator :<br />
a. Membahas perspektif kebudayaan seseorang dan dampaknya terhadap hubungan interpersonal<br />
b. Menunjukkan pengertian yang terintegrasi tentang factor-factor pada system psikologis, social, budaya, lingkungan, spiritual dan kepercayaan yang berhubungan dengan perawatan konsumen<br />
c. Mengidentifikasi kemampuan konsumen dan sumber daya yang dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi masalah mereka<br />
d. Mengientifikasi pentingnya kebudayaan konsumen, riwayat penyakut sebelumnya dan lingkungan konsumen yang berhubungan dengan kondisi konsumen saat ini dan yang menyebabkannya<br />
e. Mengidentifikasi tim kesehatan dan sisitem pelayanan kesehatan yang tersedia dan sesuai untuk setiap konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.3 Merencanakan asesmen terhadap konsumen<br />
Indicator :<br />
a. Membuat jadwal asesmen<br />
b. Mengorganisasikan sumberdaya, perlengkapan dan lingkungan<br />
c. Mengidentifikasi prioritas kebutuhan dan masalah konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan<br />
2.4 Mengumpulkan dan mereview informasi yang relevan<br />
Indicator :<br />
a. Menganalisa data yang relevan<br />
b. Mengkonsultasikan informasi kepada pihak lain yang berkepentingan<br />
c. Menginterprestasikan hasil investigasi yang relevan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan<br />
2.5 Menganalisa hasil observasi<br />
Indicator :<br />
a. Mengevaluasi perbedaan struktur manusia, fungsi dan prilaku<br />
b. Menganalisa proses patologi dan manivestasinya yang berhubungan dengan fisoterapi<br />
c. Mengidentifikasi respon konsumen baik verbal maupun non verbal untuk memeriksa pengertian mereka mengenai informasi dan prosedur<br />
d. Mengenali emosi dan stress psikologis<br />
e. Mengenali gambaran social dan kebudayaan yang dapat mempengaruhi mamajemen konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.6 Membentuk pemeriksaan riwayat penyakit dengan menggunakan alasan klinis<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan keahlian interview kepada konsumen yang relevan<br />
b. Mendapatkan gambaran yang lengkap tentang seluruh informasi yang relevan<br />
c. Mendapatkan riwayat penyakit yang relevan dan status kesehatan saat ini<br />
d. Menerangkan kontraindikasi dan perhatian khusus mengenai intervensi fisioterapi<br />
e. Mengimplementasikan penerimaan prosedur dari sikap dan reaksi individu<br />
f. Mengenalkan dan memberikan pelayanan yang nyaman dan aman bagi konsumen<br />
g. Mendokumentasikan dan memelihara laporan yang akurat dan rutin</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.7 Membentuk pemeriksaan fisik dengan menggunakan alasan klinis<br />
Indicator :<br />
a. Membahas pengetahuan yang rasional dari metode asesmen<br />
b. Menginformasikan pada konsumen mengenai prosedur yang mungkin dilaksanakan<br />
c. Menerapkan tes dan pengukuran yang tepat terhadap konsumen<br />
d. Memilih, melakukan dan menerapkan prosedur evaluasi<br />
e. Melakukan synthesa terhadap informasi yang didapat informasi, palpasi, pengukuran dan data yang telah ada<br />
f. Menerangkan kontraindikasi dan perhatian khusus mengenai intervensi fisioterapi<br />
g. Mengimplementasikan penerimaan prosedur yang relevan dengan sikap dan reaksi individu<br />
h. Mendokumentasikan dan memelihara laporan yang akurat dan rutin</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.8 Menganalisa dan menginterprestasikan hasil temuan berdasarkan proses alasan klinis<br />
Indicator :<br />
a. Menginterprestasikan dan menghubungkan hasil investigasi dengan staus konsumen yang telah ada saat ini<br />
b. Mengumpulkan dan mereview informasi yang lebih lanjut bila diperlukan<br />
c. Mengintegrasikan factor-factor dari system psikologis, social, kebudayaan, lingkungan, spiritual dan kepercayaan dalam menganalisa data<br />
d. Menganalisa proses normal dan patologi serta manifestasinya<br />
e. Membahas hasil asesmen dengan konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>2.9 Mencatat hasil temuan<br />
Indicator :<br />
a. Mendokumentasi dan memelihara kejelasan, kelengkapan, keakuratan, keresmian dan keteraturan laporan<br />
b. Mencatat respon konsumen<br />
c. Menggunakan terminology yang sesuai</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan</p>
<p>2.10 Mere-evaluasi dan memodifikasi respon yang sesuai dengan alasan klinik<br />
Indicator :<br />
a. Mengases ulang status kesehatan konsumen<br />
b. Mendiskusikan hasil asesmen<br />
c. Menggambarkan dan mengimplementasikan modifikasi yang dibutuhkan<br />
d. Meningkatkan proses dan prosedur evaluasi yang dibutuhkan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>3. PERENCANAAN MANAJEMEN FT</p>
<p>3.1 Mampu melakukan konsultasi dengan konsumen dan pihak yang berkepentingan<br />
Indicator :<br />
a. Memilih program manajemen fisioterapi yang aman dan sesuai<br />
b. Menegosiasikan dan membuat persetujuan mengenai tujuan dan kontrak manajemen<br />
c. Memberi gambaran frekuensi dan durasi terapi<br />
d. Mengerti maksud dan tujuan terapi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>3.2 Mengidentifikasi dan membangun rencana manajemen fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi sumber daya yang tersedia dan yang tepat<br />
b. Peduli pada lingkungan konsumen secara menyeluruh<br />
c. Membangun prioritas kebutuhan dan keinginan konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan</p>
<p>3.3 Mengevaluasi rencana dan modifikasi rencana yang telah dibuat<br />
Indicator :<br />
a. Mengasses efektifitas system manajemen yang dipilih<br />
b. Mengevaluasi kemajuan tujuan yang telah tercapai<br />
c. Mengevaluasi perubahan status, kebutuhan dan keinginan konsumen<br />
d. Menggunakan informasi yang didapat untuk memodifikasi rencana<br />
e. Merencanakan kelanjutan program, modifikasi dan discharge</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan</p>
<p>4. IMPLEMENTASI MANAJEMEN FT<br />
YG EFEKTIF &amp; EFISIEN</p>
<p>4.1 Memperhatikan aturan/tata cara konsumen<br />
Indicator :<br />
a. Mengetahui aturan-aturan dan attitude dari konsumen dan pihak lain yang berkepentingan<br />
b. Memperhatikan prilaku dan respon konsumen<br />
c. Memperhatikan perbedaan dan kesamaan kebudayaan<br />
d. Memperhatikan respon konsumen terhadap penyakit yang diderita, disability dan handicap<br />
e. Memastikan kenyamanan dan privacy konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>4.2 Memastikan keamanan personal dan konsumen<br />
Indicator :<br />
a. Memperhatikan perhatian khusus dan kontraindikasi manajemen fisioterapi<br />
b. Mengidentifikasi resiko dan keamanan implementasi praktek<br />
c. Memelihara keamanan peralatan dan lingkungan fisioterapi<br />
d. Mengidentifikasi dan merespon perubahan diri dan lingkungan konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>4.3 Mengorganisasi dan mengefisiensikan pelayanan fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Memanajemen waktu untuk melaksanakan beberapa tugas dan prosedur<br />
b. Memelihara lingkungan yang bersih dan aman<br />
c. Memperhatikan keuntungan biaya</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
4.4 Mengerti alasan rasional dari pemilihan manajemen fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Mengerti dampak terhadap konsumen dari modalitas yang dipilih<br />
b. Memahami informasi mengenai konsumen dan pihak lain yang berkepentingan yang sesuai<br />
c. Melakukan komunikasi dengan profesi kesehatan lain dengan menggunakan terminology professional yang sesuai</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>4.5 Mampu menerapkan manajemen fisioterapi yang dipilih<br />
Indicator :<br />
a. Menyiapkan konsumen dan diri sendiri<br />
b. Melaksanakan intervensi yang dipilih dengan aman dan effektif<br />
c. Memonitor seluruh peristiwa saat pelaksanaan intervensi<br />
d. Melakukan evaluasi selama dan sesudah intervensi dan memodifikasinya sesuai kebutuhan<br />
e. Melakukan komunikasi untuk memaksimalkan efektivitas intervensi yang diberikan<br />
f. Menghentikan sesi intervensi sesuai dengan perencanaan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
4.6 Memelihara keakuratan, kelengkapan dan kebenaran laporan<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan terminology profesional<br />
b. Memelihara kejelasan dan kebersihan laporan<br />
c. Mengerti mengenai manajemen dan perencanaan discharge<br />
d. Melengkapi laporan discharge<br />
e. Menunjukkan pengetahuan mengenai etika,<br />
institusional, legalitas dan manajemen dan keilmuan yang sesuai dengan yang dibutuhkan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
4.7 Mengevaluasi hasil manajemen fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan prosedur asesmen yang sesuai<br />
b. Mengevaluasi dampak dari intervensi fisioterapi<br />
c. Mengevaluasi keuntungan dari dilakukannya kolaborasi dengan konsumen dan pihak lain yang berkepentingan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>4.8 Memberikan gambaran kebutuhan untuk melanjutkan manajemen fisioterapi<br />
Indicator :<br />
a. Memodifikasi intervensi<br />
b. Menerapkan prinsip-prinsip pelaksanaan yang bermutu<br />
c. Melakukan manajemen proses discharge yang telah didiskusikan dengan konsumen<br />
d. Menyediakan sarana untuk melanjutkan dukungan sesuai dengan yang dibutuhkan<br />
e. Memelihara kepedulian mengenai biaya yang menguntungkan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>5. KOMUNIKASI EFEKTIF<br />
5.1 Menggunakan teknik Komunikasi dan terminology yang tepat<br />
Indicator :<br />
a. Memilih dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan lingkungan<br />
b. Menggunakan bahasa lisan, tulisan dan bahasa tubuh yang sesuai dan sama</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
5.2 Memfasilitasi kelompok yang dinamis<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan kemampuan memimpin dan berinteraksi dalam kelompok secara effektif<br />
b. Mengases motivasi, partisopasi dan respon anggota kelompok<br />
c. Menyiapkan lingkungan untuk meningkatkan motivasi dan interaksi<br />
d. Mengidentifikasi masalah-masalah yang potensial dan menggunakan strategi dan mekanisme manajemen yang tepat<br />
e. Bekerjasama dengan sumber daya manusia yang tepat<br />
f. Menggunakan gaya, tingkat dan media informasi yang tepat untuk kelompok<br />
g. Merencanakan dan membangun suatu rapat<br />
h. Menggunakan lingkungan fisik dan tampilan yang tepat untuk kelompok</p>
<p>5.3 Menggunakan metode komunikasi yang tepat<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi dan menggunakan metode dan saluran komunikasi yang tepat<br />
b. Menunjukkan kemampuan untuk memberi dan menerima komunikasi baik verbal maupun non verbal dengan individu atau kelompok<br />
c. Tanggap dan dapat memodifikasi pendekatan yang dilakukan dalam upaya menyesuaikan dengan kesamaan dan perbedaan kebudayaan<br />
d. Tanggap dan dapat memodifikasi pendekatan yang dilakukan dalam upaya menyesuaikan dengan perkembangan komunikasi sepanjang daur kehidupan<br />
e. Menggunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sama</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
5.4 Menggunakan kemampuan interview (Tanya jawab) dengan konsumen<br />
Indicator :<br />
a. Memperhatikan aturan/tata cara konsumen<br />
b. Membangun dan memelihara tujuan interview<br />
c. Merencanakan struktur interview<br />
d. Mengadaptasikan interview sesuai kebutuhan<br />
e. Menggunakan lingkungan yang tepat untuk melakukan interview<br />
f. Menunjukkan kemampuan mendengarkan (listening) yang tepat<br />
g. Membangun empathy dan laporan konsumen<br />
h. Mampu bertanya secara effektif<br />
i. Mengobservasi dan menginterprestasikan tanda-tanda komunikasi non verbal konsumen<br />
j. Menerima dan mencatat informasi yang diberikan konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
5.5 Menginterprestasikan hasil komunikasi dengan konsumen dan pihak yang berkepentingan<br />
Indicator :<br />
a. Mensyntesa informasi yang dating<br />
b. Mengidentifikasi dan memperjelas informasi yang inadequate dan tidak jelas<br />
c. Memelihara objektifitas dan meminimalisasi bias</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
5.6 Memberi informasi kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan<br />
Indicator :<br />
a. Berpartisipasi dalam kelompok untuk melayani konsumen<br />
b. Mendapatkan informasi yang akurat dari konsumen dan pihak yang berkepentingan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
5.7 Mengenali hambatan dalam komunikasi dan modifikasi yang sesuai dengan yang diperlukan dalam praktik<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi hambatan komunikasi<br />
b. Menerapkan metode untuk memodifikasi praktek<br />
c. Menciptakan lingkungan yang mendukung dilakukannya komunikasi<br />
d. Memperhatikan factor-factor yang mempengaruhi komunikasi<br />
e. Bekerjasama dengan sumber daya manusia yang tepat</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>5.8 Mengevaluasi dan memodifikasi keahlian dalam berkomunikasi yang tepat<br />
Indicator :<br />
a. Menganalisa keahlian komunikasi diri sendiri dan orang lain<br />
b. Melihat dan menerima kritik evaluasi dari teman kerja dan dari pihak lain<br />
c. Menerima timbal balik dari informasi yang diberikan<br />
d. Memodifikasi teknik untuk mencapai tujuan yang telah disepakati<br />
e. Melakukan re-evaluasi efektivitas dan komunikasi dan modifikasi sesuai kebutuhan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>6. PENDIDIKAN</p>
<p>6.1 Melakukan identifikasi konsumen dan kebutuhannya<br />
Indicator :<br />
a. Memberi gambaran mengenai kebutuhan dan persiapan khusus<br />
b. Membangun tujuan learning<br />
c. Mengidentifikasi dan memperkerjakan sumber daya personal yang tepat<br />
d. Bekerjasama sesuai kebutuhan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
6.2 Memilih susunan yang sesuai<br />
Indicator :<br />
a. Meneliti dan memilih bahan-bahan yang sesuai dengan tujuan learning<br />
b. Merencanakan susunan yang sesuai dengan tujuan<br />
c. Mengesahkan susunan yang dipilih</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
6.3 Merencanakan dan Mengimplementasikan pendidikan<br />
Indicator :<br />
a. Memperhatikan lingkungan dan sumber daya peralatan yang tersedia<br />
b. Memilih metode pengajaran dan learning, strategi dan sumber daya yang tepat<br />
c. Menggambarkan durasi dan jadwal<br />
d. Merencanakan format pendidikan untuk memfasilitasi hasil learning<br />
e. Menggunakan kemempuan komunikasi yang sesuai dengan konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
6.4 Menggunakan fasilitas mengajar dan alat serta perlengkapan mengajar/learning<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi fasilitas yang tersedia dan memilihnya dengan tepat<br />
b. Mengatur tempat dan peralatan<br />
c. Menggunakan sumber daya personal yang tepat<br />
d. Menggunakan bantuan dan peralatan<br />
learning/pengajaran yang tepat</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
6.5 Mengevaluasi hasil learning dan memodifikasi rencana pengajaran yang dibutuhkan<br />
Indicator :<br />
a. Memberi gambaran kesesuaian antara tujuan dan hasil yang dicapai<br />
b. Memilih dan menerapkan prosedur asesmen dan menginterprestasikan hasil<br />
c. Memperhatikan ulang tujuan dan hasil serta memodifikasinya bila diperlukan<br />
d. Merencanakan ulang strategi learning/pengajaran untuk menyesuaikannya dengan tujuan dan hasil yang telah dimodifikasi<br />
e. Mengimplementasikan rencana yang telah diperbaiki<br />
f. Mengevaluasi rencana yang telah diperbaiki dan mengambil tindakan lebih lanjut bila diperlukan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<p>7. PENERAPAN PRINSIP MANAJEMEN FT<br />
DALAM PRAKTIK FT</p>
<p>7.1 Mengidentifikasi hubungan pekerjaan/pekerja dan legislasinya yang relevan<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan kemampuan interpersonal yang dibutuhkan untuk melihar dan mendapatkan informasi<br />
b. Mengerti kondisi dan gambaran pekerjaan yang relevan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
7.2 Melakukan manajemen lingkungan yang penuh tekanan (stressful)<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi tanda-tanda stress pada diri sendiri dan orang lain<br />
b. Menggambarkan situasi yang penuh tekanan (stressful)<br />
c. Berpartisipasi dalam perencanaan dan intervensi yang bertujuan untuk mengidentifikasi stressor<br />
d. Berpartisipasi dalam melakukan asesmen ulang hasil intervensi yang didapat dan melakuan tindakan yang dibutuhkan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.3 Membahas alokasi pelayanan dan sumber daya<br />
Indicator :<br />
a. Menggambarkan pilihan-pilihan yang tersedia untuk penyediaan pelayanan fisioterapi di New Zaeland<br />
b. Mengidentifikasi peran serta kegiatan administrasi<br />
c. Berkomunikasi secara effektif untuk mendapatkan sumber daya dan penggunaan pelayanan dari pihak lain<br />
d. Berpartisipasi dari pengambilan keputusan yang berdampak bagi fisoterapi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.4 Berpartisipasi dalam pembentukan prioritas pelayanan<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk menggambarkan kebutuhan<br />
b. Berperan serta dalam mengatur tingkatan prioritas<br />
c. Mengesahkan peringkat tingkatan prioritas<br />
d. Berperan serta dalam proses problem-solving</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.5 Memanjeman waktu secara efektif<br />
Indicator :<br />
a. Mengerjakan tugas dan pekerjaan yang bermutu yang dapat dipertanggungjawabkan<br />
b. Merencanakan dan mengorganisasikan manajemen waktu untuk pekerjaan yang effektif dan efisien<br />
c. Mengenali kebutuhan untuk penggunaan yang effektif dari ruang, peralatan, anggota dan sumber daya</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.6 Menerapkan budget yang sesuai dengan praktek dan keterbatasan<br />
Indicator :<br />
a. Memperhatikan pembiayaan bahan-bahan, peralatan dan sumber daya lain yang digunakan oleh fisioterapis dalam memberikan layanan klinik<br />
b. Berpartisipasi dalam penerapan prinsip-prinsip keuntungan pembiayaan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.7 Memelihara laporan yang akurat dan data yang relevan<br />
Indicator :<br />
a. Memelihara keakuratan laporan klinik dan non klinik<br />
b. Menyesuaikan seluruh kebutuhan etika, legalitas, professional dan institusional<br />
c. Mengumpulkan, menyeleksi dan memilah data untuk tujuan administrasi, legalisasi, and keilmuan<br />
d. Mencatat informasi dalam bentuk waktu yang beralasan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.8 Mengenali prinsip-prinsip delegasi (penyerahan tugas) dan supervise (pengawasan)<br />
Indicator :<br />
a. Memberi gambaran bila ada delegasi yang tepat<br />
b. Mengidentifikasi tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain<br />
c. Mendefinisikan tugas yang didelegasikan dan penyesuaian standard<br />
d. Menggunakan kemampuan interpersonal dan educational untuk memodifikasi kemampuan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.9 Berperan dalam kelompok interdisiplin ilmu<br />
Indicator :<br />
a. Menggunakan pendekatan kelompok untuk memanajemen konsumen<br />
b. Menggambarkan peran dan tanggung jawab anggota kelompok<br />
c. Menggunakan kemampuan interpersonal untuk berperan serta dalam manajemen konsumen<br />
d. Mampu berkomunikasi secara effektif dengan profesi kesehatan lain dan pihak lain yang berkepentingan dalam membuat kebijakan dan prosedur dalam manajemen konsumen</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
7.10 Mengerti aturan system yang bermutu dan standar profesi<br />
Indicator :<br />
a. Meningkatkan kegiatan self-directing learning untuk diri sendiri dan orang lain<br />
b. Menggunakan kemampuan interpersonal untuk membagi pengetahuan, kemampuan, attitude dan nilai dengan pihak lain<br />
c. Membuat standar profesi dan berpartisipasi dalam melakukan audit kelengkapan pelayanan fisoterapi<br />
d. Mampu memberikan dan menunjukkan perhatian dan pada diri sendiri dan orang lain</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
8. PENELITIAN<br />
8.1 Mengidentifikasi kebutuhan penelitian<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi lingkup penelitian yang disukai<br />
b. Memberi gambaran kebutuhan investigasi yang lebih lanjut</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
8.2 Mengevaluasi informasi keilmuan<br />
Indicator :<br />
a. Memasukkan informasi yang relevan<br />
b. Memberi kritik terhadap literature keilmuan<br />
c. Menyajikan informasi yang didapat dalam format yang tepat</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
8.3 Menyusun proposal penelitian<br />
Indicator :<br />
a. Merencanakan secara rinci protocol investigasi<br />
b. Menggunakan hypotesa dalam rancangan penelitian<br />
c. Menyusun format proposal penelitian<br />
d. Memenuhi persyaratan etika dan hukum untuk penelitian</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
8.4 Berpartisipasi dalam penelitian<br />
Indicator :<br />
a. Berpartisipasi dalam pengukuran dan evaluasi<br />
b. Menerapkan prinsip-prinsip investigasi keilmuan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
8.5 Membuat analisa data dan membuat kesimpulan<br />
Indicator :<br />
a. Menggabungkan hasil penelitian<br />
b. Menerapkan uji statistic<br />
c. Membahas validitas dan reliabilitas tes yang dilakukan<br />
d. Membahas ketepatan uji statistic<br />
e. Menguji hypotesa<br />
f. Memberi gambaran pentingnya hypotesa</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
8.6 Melaporkan hasil temuan dalam format keilmuan<br />
Indicator :<br />
a. Memilih metode presentasi (penyajian) yang tepat<br />
b. Menggunakan bahasa yang tepat dalam melakukan investigasi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
9. MEMBANGUN PERTUMBUHAN<br />
KEAHLIAN PROFESIONAL<br />
9.1 Menunjukkan prilaku professional<br />
Indicator :<br />
a. Menunjukkan kualitas diri sebagai seorang fisioterapi<br />
b. Mengembangkan identitas diri sebagai anggota tim kesehatan yang effektif<br />
c. Memelihara komitmen yang seimbang untuk tanggung jawab pribadi dan professional<br />
d. Berprilaku dan menunjukkan sikap yang professional<br />
e. Menganalisa secara objektif kemampuan diri sebagai fisioterapis<br />
f. Mau menerima pendapat dan timbal balik dari pihak lain<br />
g. Mengenali dan mencoba lebih baik lagi perannya sebagai panutan professional<br />
h. Membentuk tujuan yang dapat tercapai dan menantang<br />
i. Berpartisipasi dalam validasi praktek kerja<br />
j. Mandiri</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana dapat<br />
menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
9.2 Menunjukkan nilai kemanusiaan<br />
Indicator :<br />
a. Menunjukkan system personal internalyang bernilai<br />
b. Mengerti interaksi kompleks yang yang dibutuhkan fisioterapis dan konsumen<br />
c. Menunjukkan attitude, kebiasaan dan prilaku yang sesuai dan diterima oleh masyarakat dan profesi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan<br />
9.3 Mengevaluasi kemampuan diri<br />
Indicator :<br />
a. Mengenali kekuatan dan keterbatasan personal dan professional<br />
b. Membandingkan kemampuan diri sebagai contoh peran professional<br />
c. Meningkatkan kemampuan diri secara kritis<br />
d. Berpartisipasi dalam peningkatan kemampuan diri</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
9.4 Merencanakan dan berpartisipasi dalam pertumbuhan professional<br />
Indicator :<br />
a. Mengidentifikasi kebutuhan pribadi untuk pertumbuhan professional<br />
b. Mengidentifikasi kesempatan yang tersedia untuk melanjutkan pendidikan<br />
c. Menunjukkan komitmen untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan mereview attitude dan nilai<br />
d. Mengidentifikasi peran organisasi professional fisioterapi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari<br />
pendidikan<br />
10. ACCOUNTABILITY<br />
10.1 Menerima perjanjian secara legal<br />
Indicator :<br />
a. Menunjukkan kepentingan dalam bidang hukum yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan<br />
b. Melakukan praktek sesuai undang-undang dan hukum di New Zaeland</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
10.2 Berpartisipasi dalam komunitas kesehatan<br />
Indicator :<br />
a. Mengenali kesempatan untuk turut berpartisipasi<br />
b. Mengenali tempat-tempat dimana fisioterapis dapat berpartisipasi<br />
c. Mengidentifikasi badan-badan dan kewenangan dalam komunitas<br />
d. Pengacara fisioterapi<br />
e. Meningkatkan dan menguatkan gaya hidup yang sehat</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh dimana<br />
dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan<br />
10.3 Mengerti konsep perbaikan kualitas<br />
Indicator :<br />
a. Mengevaluasi diri sendiri dengan kritis<br />
b. Melihat dan menerima evaluasi dari orang lain<br />
c. Memodifikasi dan mengadaptasi praktek profesional dalam merespon evaluasi</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
10.4 Menunjukkan praktek yang sesuai etika<br />
Indicator :<br />
a. Mengerti kode etik praktek fiisioterapi<br />
b. Mengidentifikasi lingkup prektek professional<br />
c. Bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan professional yang dilakukan</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh<br />
contoh dimana dapat menunjukkan tujuan umum<br />
dari pendidikan<br />
10.5 Menunjukkan praktek mandiri<br />
Indicator :<br />
a. Mengawali tindakan fisioterapi yang sesuai dengan kebutuhan dan persiapan konsumen<br />
b. Bertanggung jawab atas praktek fisioterapi mengevaluasi dan mengubah praktek fisioterapi<br />
c. Menunjukkan kemampuan komunikasi yang konsisten dengan praktek yang mandiri<br />
d. Menggambarkan dan menentukan tindakan yang sesuai dengan kapasitas professional</p>
<p>Indikator-indikator tersebut mencakup contoh-contoh<br />
dimana dapat menunjukkan tujuan umum dari pendidikan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=43&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/09/pengembangan-standar-kompetensi-fisioterapi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FISIOTERAPI PADA DISLOKASI SHOULDER ANTERIOR</title>
		<link>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/06/fisioterapi-pada-dislokasi-shoulder-anterior/</link>
		<comments>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/06/fisioterapi-pada-dislokasi-shoulder-anterior/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 07:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herdinrusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fisioterapi/physiotherapy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/06/fisioterapi-pada-dislokasi-shoulder-anterior/</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN OLEH: H.HERDIN 1. Anatomi Fungsional Dan Biomekanik a. Shoulder joint Gerakan-gerakan yang terjadi digelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular, permukaan pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang bahu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=39&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDAHULUAN<br />
OLEH: H.HERDIN</p>
<p>1. Anatomi Fungsional Dan Biomekanik<br />
a. Shoulder joint<br />
Gerakan-gerakan yang terjadi digelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular, permukaan pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang bahu dan sebaliknya.<span id="more-39"></span><!--more--><br />
Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, menggaruk kepala, mengambil dompet, dan sebagainya atas kerjasama yang harmonis dan simultan dengan seni-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya.<br />
Beberapa karakteristik dari pada sendi bahu yaitu : perbandingan antara permukaan mangkok sendinya dengan kepala sendi tidak sebanding, kapsul sendinya relative lemah. Otot-otot pembungkus sendi relative lemah seperti otot supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subscapularis, gerakan paling luas, tetapi stabilitas sendi relatif kurang stabil. Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah mengalami gangguan fungsi dibandingkan dengan sendi lainnya.<br />
b. Kapsul sendi<br />
Kapsul sendi terdiri atas dua lapisan :<br />
1) Kapsul sinovial (lapisan bagian dalam)<br />
Dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai transfomator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali yang mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sinovial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis sendi.<br />
2) Kapsul fibrosa<br />
Karakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya memelihara posisi dan stabilitas sendi, dan memelihara regenerasi kapsul sendi.</p>
<p>2. Biomekanika sendi bahu<br />
Ditinjau dari aspek gerak maka sendi bahu dapat dibagi menjadi dua, yaitu gerak secara osteokinematika dan arthrokinmeatika.<br />
a.Gerakan osteokinematika</p>
<p>Gerakan fleksi<br />
Yaitu gerakan lengan ke depan, ke arah atas mendekati kepala, bergerak pada bidang sagital dan axisnya melalui pusat caput humeri dan tegak lurus bidang sagital. Otot penggerak utamanya adalah otot deltoid anterior dan otot supraspinatus dari 0 – 90 derajat, sedangkan untuk 90 – 180 derajat di bantu oleh otot pectoralis mayor, otot coracobrachialis, dan otot bicep brachii.<br />
Gerakan ekstensi<br />
Yaitu gerakan lengan ke belakang yang menjauhi dari posisi anatomis, bergerak pada bidang sagital. Otot penggerak utamanya adalah latissimus dorsi dan teras mayor. Sedankan pada gerakan hiper ekstensi teres mayor tidak berfungsi lagi, hanya sampai 90 derajat dan digantikan fungsinya oleh deltoid posterior.<br />
Gerakan abduksi<br />
Yaitu gerakan pada bidang frontal dengan axisnya horisontal. Otot penggerak utamanya adalah otot deltoid midle dan supraspinatur. Abduksi sendi bahu meliputi tiga fase, yaitu: abduksi 0o – 90o akan diikuti gerakan eksternal rotasi. Otot-otot yang berkerja pada fase ini adalah deltoid, seratus anterior, dan trapezius ascenden desenden. Gerakan ini dihambat oleh adanya tahanan peregangan dari latisimus dorsi dan pektoralis mayor. Abduksi 120o – 180o melibatkan otot deltoid, trapezius dan erector spine. Gerakan ini dikombinasikan abduksi, fleksi dan vertebra.<br />
Gerakan adduksi<br />
Yaitu suatu gerakan yang merupakan kebalikan dari gerakan abduksi. Otot penggerak utamanya adalah pectoralis mayor dibantu oleh otot latisimus dorsi, teres mayor serta otot sub scapulari. Luas gerak sendinya pada bidang frontal.<br />
Gerakan abduksi horizontal<br />
Yaitu gerakan lengan yang mendekati tubuh dalam posisi abduksi lengan 90o dan mencapai jarak gerak sendi 45o yang dimulai posisi anatomis.<br />
Gerakan adduksi horizontal<br />
Yaitu gerakan lengan yang menjauhi tubuh dalam posisi abduksi lengan 90o dan mencapai jarak gerak sendi 145o yang dimulai posisi anatomis.<br />
Gerakan eksorotasi<br />
Yaitu gerakan sepanjang axis longitudinal yang melalui caput humeri. Gerakan ini dilakukan oleh otot infraspinatus, teres mayor dan deltoid posterior.<br />
Gerakan endorotasi<br />
Yaitu suatu gerakan yang merupakan kebalikan dari gerakan eksorotasi. Gerakan ini dilakukan oleh otot sub scapularis, pectoralis mayor, latisimus dorsi dan teres mayor<br />
Gerakan sirkumduksi<br />
Yaitu gerakan yang merupakan kombinasi dari semua gerakan di atas.<br />
b.Gerakan arthrokinematika<br />
Pada gerakan arthrokinmeatika meliputi dua gerakan roll dan slide. Roll adalah suatu gerakan sendi dimana perubahan jarak titik kontak pada suatu permukaan sendi sama besarnya dengan perubahan jarak titik kontak permukaan sendi lawannya. Sedangkan slide adalah suatu gerakan sendi dimana hanya ada satu titik yang selalu kontak dengan titik-titik yang selalu berubah pada permukaan sendi lawannya.<br />
Pada sendi bahu meliputi :<br />
1) Pada gerakan endorotasi caput humeris roll searah dengan gerakan endorotasi dan slidenya ke posterior.<br />
2) Pada gerakan abduksi caput humeris roll searah dengan gerakan abduksi dan slidenya ke caudal.<br />
3) Pada gerakan eksorotasi caput humeris roll searah gerak eksorotasi dan slide ventral agak medial</p>
<p>PATOLOGI<br />
Sendi Bahu merupakan salah satu sendi besar yang paling sering berdislokasi.Ini disebabkan karena banyaknya rentang gerakan sendi bahu,mangkuk sendi glenoid yang dangkal serta adanya longgarnya ligament.<br />
I.Pengertian<br />
Dislokasi adalah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkoknya. Bila hanya sebagian yang bergeser disebut subluksasi dan bila seluruhnya disebut dislokasi.</p>
<p>II.Dislokasi diklasifikasikan sebagai berikut :<br />
a). Co ngenital<br />
Congenital dislocation berhubungan dengan congenital deformities<br />
b). Tra umatic<br />
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan<br />
tipe kliniknya dibagi :<br />
1. Dislokasi akut<br />
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut<br />
dan pembengkakan di sekitar sendi.<br />
2.Dislokasi kronik<br />
3.Dislokasi berulang<br />
Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.</p>
<p>III.Etiologi:<br />
Dislokasi disebabkan oleh :<br />
1.Cedera olah raga</p>
<p>Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan<br />
hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat<br />
bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola<br />
paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena<br />
secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.<br />
2.Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga<br />
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya<br />
menyebabkan dislokasi<br />
3.Terjatuh<br />
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin</p>
<p>4. Patologis : terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan<br />
kompenen vital penghubung tulang</p>
<p>IV.Gambaran klinik<br />
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan menerima pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.</p>
<p>V.Patofisiologi</p>
<p>Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta [dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid]</p>
<p>VI.Pemeriksaan X-Rays<br />
Sinar –X pada bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid,Kaput biasanya terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.</p>
<p>VII.Komplikasi:<br />
Dini<br />
Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot<br />
deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut</p>
<p>Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak</p>
<p>Fraktur disloksi<br />
Komplikasi lanjut<br />
-Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu ,terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral ,yang secara otomatis membatasi Abduksi<br />
-dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid<br />
- kelemahan otot</p>
<p>VIII.Terapi medika mentosa dan Reposisi<br />
Reposisi<br />
-MUA [ Manipulasi Under General Anastesi<br />
-Hangin Arm Teknik<br />
-Hipocratic Methode<br />
-Kocher<br />
-Eksternal Rotasi Metode :traksi pada humerus distal kemudian ekternal rotasi<br />
formarm secara pelan-pelan.hentikan jika terjadinya nyeri</p>
<p>Analgetik opioid diberikan untuk mengurangi nyeri dengan aktualitas tinggi.Suntikan intrarticular dan anastetik regional teknik telah dilaporkan sukses membantu dalam mereduksi dislokasi shoulder.Prosedural sedasi dan analgesi umumnya digunakan untuk memperoleh control nyeri yang adekuat dan relaksan otot untuk reduksi.Prosedural sedasi dan analgesi {PSA}yang digunakan Morphine dan midazolam memperlamlambat perawatan di department emergensi serta bebas komplikasi.[emedicene]Etomidate, fentanyl/midazolam, ketamine, atau propofol umumnya digunakan untuk PSA<br />
IX. Program Rehabilitasi<br />
Program Rehabilitasi secara umum terbagi menjadi Nonoperatif Manajemen dan Operatif manajemen.<br />
a.Non operatif Rehabilatation<br />
Penanganan rehabilitasi non operatif bertujuan untuk mengoptimalkan stabilisasi<br />
sendi bahu,sebab komplikasi dislokasi berulang banyak terjadi.Menghindari<br />
maneuver yang bersifat provokativ dan penguatan otot secara hati-hati merupakan<br />
komponen penting dalam program rehabilitasi.<br />
Minggu 0-2.Hindari provokatif posisi, termasuk eksternal rotasi,Abduksi,dan<br />
Distrak.Immobilisasi tergantung umur<br />
- kurang dari 20 tahun 3-4 minggu<br />
- 20-30 tahun 2-3 minggu<br />
- Lebih dari 30- 10 hari sampai 2 minggu.<br />
- Lebih dari 40 tahun 3-5 hari<br />
Program dilanjutkan secara bertahap untuk pemulihan fungsi sesuai prosedu rehabilitasi yang telah ditetapkan.<br />
b. Operatif Treatment<br />
Tujuan utama rehabilitasi adalah<br />
- Menjaga integritas stabilitasi bedah kore<br />
- Memulihkan ROM fungsional secara full<br />
- Meningkatkan stabilitas Dynamik<br />
- Kembali aktivitas yang tak dibatasi dan olahraga.</p>
<p>Assessment FT<br />
Anamnesis umum diarahkan untuk menggali informasi yang berhubungan identitas dan pekerjaan klien serta hobby pasien dan khusus untuk menggali penyebab dan mekanisme cedera serta keluhan subjektif klien pada saat pemeriksaan.</p>
<p>Inspeksi dilakukan mulai Os masuk ruangan terapi dan diamati dari ventral.lateral,posterior,<br />
Hasil:akan nampak ada rata [flattening ] pada area sekitar otot deltoid jika pada shoulder yang belum direposisi.,cek pembengkakan pada Wrist dan bahu,cek otot bahu/atropi<br />
Pemeriksaan fungsi dasar<br />
Aktif : mengetahui kekuatan otot gerak aktif pada semua bidang gerak shoulder<br />
Pasif : mengetahui ROM pada gerak pasif dan end feel<br />
TIMT. Untuk mengetahui kontraksi isometric yang akan menggambarkan ada tidaknya gangguan otot</p>
<p>Pemerikasaan Khusus:<br />
a. Apprehension test untuk mengetahui adanya dislokasi anterior shoulder:Pemeriksa mengabduksikan disertai gerakan rotasi external shoulder secara perlahan.Pada test yang positif ditandai dengan alarm atau mimik muka yang enggan melakukan gerakan lebih lanjut.Test ini harus dilakukan secara pelan untuk menghindari dislokasi yang berulang.<br />
b. Test ROM untuk mengetahui lingkup gerak sendi bahu<br />
c. Muscle power test terutama kelompok otot rotator cuff<br />
d. Test sensasi untuk mengungkap adanya komplikasi neurology<br />
e. Tes circumferentia<br />
f. JPM: jika memungkinkan<br />
g. Scala nyeri dengan VAS<br />
Diagnosa Fisioterapi: Gangguan fungsional Bahu akibat post Dislokasi Anterior bahu<br />
Pemerikasaan tambahan spesifik<br />
X-rays<br />
DIAGNOSA FISIOTERAPI</p>
<p>“ Gangguan Aktifitas Fungsional Akibat post dislokasi shoulder anterior<br />
PROBLEMATIK FISIOTERAPI<br />
a. Nyeri gerak<br />
b. Keterbatasan ROM<br />
c. Kelemahan otot<br />
d. Gangguan ADL<br />
e. Advance Aktivitas/Atlet</p>
<p>TUJUAN FISIOTERAPI<br />
- Jangka pendek<br />
a. Mengurangi Nyeri gerak<br />
b. Meningkatkan ROM<br />
c. Meningkatkan kekuatan otot<br />
d. Meningkatkan fungsi ADL<br />
e. Memperbaiki power,endurance dan persiapan aktivitas normal</p>
<p>- Jangka panjang<br />
Meningkatkan aktifitas fisik dan kemampuan fungsional pasien.</p>
<p>PELAKSANAAN FISIOTERAPI<br />
No Problematik FT Modalitas Terpilih Tujuan Dosis<br />
1 Nyeri gerak<br />
Interference Mengurangi nyeri 3x seminggu, contra planar, 15 mnt<br />
1: 30 mA<br />
2 Metabolisme,elastisitas HFC Meningkatkan elastisitas jaringan 5- 10 x lebih baik T: 10 MENIT<br />
I: Submitis<br />
3XSeminggu<br />
2 Keterbatasan ROM<br />
Exercise therapy Meningkatkan ROM 1x setiap hari, tahanan sedang, AAROMEX, PROMEX, 9 X REPETISI<br />
3 Kelemahan otot<br />
Strengthening therapy Isometrik exc</p>
<p>{ Safety } 1 x setiap hari, toleransi pasien, kontak langsung, 9 X REPETISI<br />
4 Gangguan ADL<br />
Latihan ADL Meningkatkan fungsi ADL 1 x setiap hari, toleransi pasien, kontak langsung, 10 mnt<br />
5 Power dan Endurance koordinasi gerak Advance exc, PNF,Plyometric Arm exercise 3x seminggu<br />
1-3 set<br />
20-30 x repetisi&lt; : HERDIN N I M : C.131 508 08</p>
<p>FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN<br />
PROGRAM S1 PROFESI FISIOTERAPI<br />
MAKASSAR 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herdinrusli.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herdinrusli.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herdinrusli.wordpress.com&amp;blog=2143577&amp;post=39&amp;subd=herdinrusli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/06/fisioterapi-pada-dislokasi-shoulder-anterior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1940d0281fb9ce520b1b56d7cf3044ab?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">herdinrusli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
