TESTIMONI PENDERITA GUILLAIN BARRE SINDROM

Postingan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan tentang penyakit Neurologi yang sering dihadapi seorang fisioterapis.
“Guillain Barre”, Membuat Sutini LUMPUH Seketika!

 

 

Tiada angin ataupun hujan, mendadak Sutini Mochtar menderita kelumpuhan. Beberapa hari sebelumnya ia merasakan kesemutan di ujung-ujung jari kaki dan tangan. Ia juga didera nyeri yang luar biasa di sekujur tubuh. Jauh lebih nyeri daripada saat melahirkan.

Masyarakat di sekitar tempat tinggal Sutini Mochtar di Makassar, Sulawesi Selatan, mengenal perempuan ini sebagai pribadi yang sangat aktif. Ia amat mencintai kegiatannya di dunia desain ruangan kantor. “Orang-orang bilang saya ini aktif, sekaligus cerewet,” tutur Tini  sapaan akrab  ibu lima anak ini. Dimata Windy, salah seorang putrinya, Tini adalah sosok yang kuat. “Bagaimana tidak, setiap pagi Mama mencuci empat mobil yang ada di rumah. Mama memang senang sekali mencuci mobil,” katanya sambil tergelak.

Demi mendukung aktivitasnya yang padat, setiap pagi Tini tak lupa mengonsumsi sejumlah vitamin. ” Paling tidak saya minum vitamin E dan  C dosis tinggi, ” papar peremuan 52 tahun ini. Berkat kedua vitamin ini, ia  jarang sakit atau merasa kurang fit.

Suatu pagi, tepatnya tanggal 20 Februari tahun silam, ia merasa ujung-ujung kakinya kram. Meski sempat khawatir, rasa kram ini tidak terlalu dihiraukannya. Kram itu  lama-lama berubah menjadi kesemutan.

Meski kesemutan di ujung kaki da tangan, ia tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa. Dalam tiga hari berikutnya ia masih menyetir mobil sendiri ke kantor.

Harus digotong

  • Ketika rasa kesemutan itu tak juga hilang, kekhawatirannya pun makin tebal. Tak bisa lagi ia mengabaikannya. Buru-buru ia memeriksakan diri ke dokter.

Dokter mencurigai adanya diabetes mellitus (kencing manis). Dikhawatirkan diabetes itu sudah menyerang saraf sehingga menimbulkan rasa kesemutan dan kram.

Namun, diagnosis diabetes itu langsung dicoret karena hasil pemeriksaan kadar gula darahnya normal-normal saja. Dokter pun makin mencurigai adanya sesuatu yang salah pada saraf anggota geraknya. Tini lalu diberi obat untuk memperbaiki kelainan saraf.

“Diberi obat itu saya bukannya sembuh. Kramnya malah semakin menjadi,” kisah istri seorang pengusaha di Makassar ini. Kondisinya memang jadi memburuk. Ia tidak mampu berjalan lagi, dan ke mana-mana harus dipapah.

Seolah penderitaannya belum cukup. Kali ini tekanan darahnya meninggi hingga 190/95 mmHg.

“Wah, pokoknya pusing luar biasa. Pandangan mata jadi tidak beres. Semua yang ada disekitar saya terlihat goyang,” kisahnya. Kram dan kesemutan semula hanya di tangan dan kaki, juga merambat naik ke badan.

Lima hari sudah ia dirawat di rumah sakit, tapi tak ada kemajuan sedikit pun. Obat-obat yang diresepkan untuknya, sudah ditelan semua. Ia juga mendapat injeksi, tapi tampaknya semua itu tidak dapat menolongnya.

Penyakit misterius macam apa yang sedang menyerang tubuhnya?

Memikirkan hal itu membuat Tini merasa takut sekaligus bingung. “Daripada di rumah sakit tapi tidak sembuh juga, saya memaksa agar diperbolehkan dokter untuk pulang,” ungkapnya dalam logat Makassar yang kental.

Akhirnya, ia pun kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat payah. Si perempuan aktif ini terpaksa harus digotong beramai-ramai.

“Tetangga dan relasi sampai ada yang menangis melihat kondisi saya. Mereka jarang mendengar saya jatuh sakit. Eh, sekalinya sakit, sampai tidak bisa jalan,” katanya.

Sulit sekali ia melukiskan rasa sakit yang mesti ditanggungnya. Ia menggambarkan, ketika itu duburnya serasa seperti ditekan dari atas dan bawah sekaligus. Kesakitan itu belum termasuk nyeri karena kram dan kesemutan yang menjalari ujung-ujung jari tangan serta kakinya.

“Saya sudah melahirkan lima orang anak. Saya tahu sekali rasanya sakit melahirkan. Dan sakit persalinan itu tak ada apa-apanya dibanding sakit yang menimpa saya ketika lumpuh,” ujarnya serius.

Sayang, ketika ia sakit kelima anaknya tak bisa mendampingi karena tinggal di tempat yang jauh, bahkan ada yang di luar negeri.

Harapan sembuh

  • Bingung karena tak sembuh juga, akhirnya segala macam upaya ditempuh. Kerabatnya memberi saran untuk menjalani pengobatan alternatif.

Penyembuh alternatif pun didatangkan khusus ke rumahnya. “Dari ujung kaki sampai kepala saya dipijat. Katanya sih, kalau pasiennya pingsan, itu bagus, pertanda akan sembuh,” ceritanya.

Karena tak kunjung pingsan, Tini malah terpaksa harus menahan rasa sakit yang luar biasa selama sekujur tubuhnya dipijat. Ia juga sempat merasa kesulitan bernapas. Gara-gara hal itu, ia tidak bisa menelan makanan dan minuman.

“Rasanya sakit sekali, tapi apa boleh buat. Saya harus tetap makan dan minum meski sedikit. Terpaksa saya minum perlahan-lahan,” katanya.

Tekanan luar biasa pada duburnya itu membuat saat buang air besar jadi acara yang amat menyakitkan. Terpaksa dokter harus mengorek lubang duburnya untuk mengeluarkan kotoran.

Dari seorang teman yang juga menderita penyakit jantung, Tini diberi tahu cara pertolongan pertama kalau mendapat siksaan bernapas. “Memang kurang tepat. Tapi lumayan sih, jadi berkurang sedikit sesak napasnya,” ucapnya.

Secercah harapan mulai berkembang di benaknya ketika seorang kenalan yang pernah lumpuh memberi tahu tentang terapi medis di Jakarta. “Dia dulu pernah lumpuh. Sekarang bisa berjalan kembali,” katanya.

Tanpa banyak bertanya lagi, Tini langsung merencanakan perjalanan ke Jakarta. Namun, ia tak bisa segera berangkat karena tiket pesawat baru bisa didapat seminggu kemudian. Terpaksalah ia harus menahan rasa sakit lebih lama lagi.

Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Jakarta, para sahabat dan handai taulan tidak ingin ketinggalan melepas keberangkatannya. Mereka rela berdesak-desakan dalam enam mobil demi mengantarnya ke bandar udara.

Empat orang kerabatnya siap sedia mengawal sampai Jakarta. Juga termasuk menggotongnya untuk masuk dan keluar pesawat.

“Wah, heboh deh. Mungkin lebih heboh daripada melepas kepergian orang berhaji,” ujarnya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

Dicuci Allah

  • Entah sugesti atau bukan, Tini langsung merasa lebih enak setelah dirawat di RS Jakarta. Diagnosis yang dijelaskan dokter memang terdengar asing. Tini dinyatakan terkena penyakit Guillain Barre. Penyakit ini bisa disembuhkan secara total.

“Dokter berjanji dalam tempo tiga minggu saya akan bisa berjalan lagi. Saya langsung merasa punya harapan untuk hidup kembali,” kisahnya penuh nada haru.

Di rumah sakit ia sempat hendak diberi masker oksigen. Namun, selang-selang oksigen itu membuatnya takut, sehingga ia menolaknya. Dengan yakin ia memberi alasan kalau dirinya masih bisa bernapas secara normal. Akhirnya, ia pun terbebas dari selang-selang itu.

Gangguan pernapasan memang cukup merepotkannya. Berkat pengobatan yang tepat dalam tempo sepuluh hari ia bisa lepas dari gangguan sesak napas, tapi ia masih tergolek lumpuh tak berdaya. Hanya saja, kali ini ia merasa lebih sabar dan  optimis. Tak lupa ia terus berdoa, mohon kesembuhan pada Yang Kuasa.

Tak terasa, tiga pekan sudah berlalu. Berkat pengobatan dan latihan fisioterapi, ia mulai  mampu melangkahkan kaki, walau tertatih-tatih. Sebelumnya, ia tekun melatih anggota tubuhnya. Ia harus belajar bangun, menggerak-gerakkan tangan dan kaki, juga memegang sendok serta menyuapkan makanan ke mulut.

“Pada minggu kedua saya mulai belajar jalan,” ceritanya.

Bila mengenang saat-saat mengalami kelumpuhan itu, Tini selalu tercenung. Ia bersyukur, betapa banyak kerabat dan teman yang ternyata betul-betul menyayanginya.

“Saya sudah dicuci darah oleh Allah. Bayangkan ketika itu saya adalah manusia tanpa daya,” ujarnya perlahan.

Ia dulu berniat akan menyantuni anak-anak yatim piatu, bila berhasil sembuh. Dan itulah yang kini dibuktikannya, karena telah mengalami kesembuhan.

“Nazar berupa beberapa ekor kambing sepertinya tidak cukup untuk menyatakan rasa syukur saya,” ucapnya penuh kebahagiaan. Syukurlah

Apa itu Guillain Barre Syndrome?

  • Guillain Barre Syndrome (GBS) adalah penyakit akibat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem sarung saraf. Pada umumnya penyakit ini didahului oleh infeksi influenza, saluran pernapasan, atau diare.

Kemudian di dalam tubuh terjadi reaksi autoimun, yakni sistem kekebalan tubuh sendiri menyerang bagian dari ujung sarung-sarung saraf. Tindakan bedah atau vaksinasi juga kadang bisa memicu sindroma ini.

“Gejala awal yang dirasakan pasien adalah kesemutan di ujung-ujung kaki dan tangan. Perusakan di ujung sarung saraf itu kemudian merembet naik ke tangan dan kaki. Proses perusakan ini bisa berlangsung selama 3 sampai 6 minggu. Pasien umumnya akan merasa kesemutan sampai akhirnya lumpuh dan tidak kuasa menggerakkan anggota tubuh lagi,” kata Dr. Andreas Harry, Sp.S, dokter spesialis saraf dari Prevento Andreaux International Clinic, di Jakarta.

Penyakit ini tidak bisa dipandang enteng karena dalam beberapa kasus bisa menimbulkan kematian. Itu karena GBS dapat mengancam organ pernapasan. Perusakan saraf pada tahap itu sudah mengenai akar saraf di leher, sehingga pasien kesulitan bernapas.
 
Bila sudah sampai pada tahap ini, pasien harus mendapat bantuan pernapasan. Juga harus terus dipantau, agar tidak terjadi masalah lain, seperti detak jantung, infeksi, tekanan darah tinggi maupun rendah.
 
Nyeri yang muncul pada kasus ini disebut nyeri neuropatik. Dalam kasus Ny. Sutini, ia menggambarkan nyerinya lebih sakit daripada nyeri saat melahirkan.

Meski kasusnya tergolong jarang, sindroma ini tidak mengenal diskriminasi. Satu dari seratus ribu orang dari semua jenis kelamin dan ras bisa terkena GBS. Demikian juga orang yang punya sistem kekebalan tubuh bagus. Namun, penyakit ini tidak bersifat menurun dan tidak menular.

Dengan penanganan yang akurat, GBS bisa sembuh sempurn dalam waktu enam bulan. Meski demikian, sekitar 15 persen pasien GBS tetap mempunyai gejala sisa kelumpuhan dan nyeri. Dasar penyakit ini adalah reaksi antigen terhadap antibodi yang terjadi dalam plasma darah. Karena itu, terapi yang terbaik adalah cuci plasma atau pemberian imunoglobulin. @ Diyah Triarsari

SUMBER: KOMPAS CIBERMEDIA function WindowOpen1(url) { myWin1=open(url,”displayWindow”,”width=400,height=400,toolbar=no,menubar=no”); return false; }

5 Balasan ke TESTIMONI PENDERITA GUILLAIN BARRE SINDROM

  1. end mengatakan:

    dulu sewaktu saya magang di jogya, pernah nemui pasien GBS ini. walau dulu saya belum paham apa itu GBS.

  2. oktavianus mulyadi mengatakan:

    WAH SAMA banget seperti yg pernah saya alami bu. saya jg mengalami hal yg mirip bgt gejalanya. tapi syukurnya saya sudah sembuh total dan dokter yg merawat saya tdk mendiagnosa gbs tetapi kekurangan zat2 elektrolit. tapi bener bgt itu pas ketika sampe ke kepala kesemutan yg naek itu menyebabkna kepala kita seperti bergetar ada gempa x ya hehehe tapi sama bgt pas dari kaki naek k atas k tangan sampe tangan saya kaku dan mencengkram lalu pas sampe ke dada susah napas jadi sesak gt. syukurlah saya sudah sembuh puji syukur atas dalam nama tuhan yesus amin.

    saya akan berbagi cerita saya disini klo tdk mengganggu terima kasih

  3. oktavianus mulyadi mengatakan:

    baik saya critakan pengalaman saya seorg pria berumur 27 tahun, saya belum pernah masuk RS dan hampir tidak pernah kena penyakit yg berat saya pernah kena DB tapi tidak sampe dirawat masuk RS krn saya masih dapat minum dan makan kebetulan saya memang kuat dlm minum air putih dan ketika pd tgl 16 januari 2009 kmrn saya plg badminton rutin seperti biasa. dan tiba2 ketika pulang dan cuci muka wajah & kaki terasa dingin sekali dan bnr2 terasa berbeda ketika kena air dingin tapi wajar saat itu sedang musim hujan dan cuaca memang agak dingin. setelah cuci muka saya coba bersantai sejenak sblm tidur. tapi kepala saya tidak enak dan merasa tdk enak bdn saya langgsung tidur. swaktu tidur saya gelisah krn pusing2 dan panas dingin. akhirnya mual2 dan sampe muntah lalu saya makan obat antangin krn saya pikir saya masuk angin. lalu tidur kembali panas dingin masih ada dan mual2 lagi lalu saya muntah tapi sudah tidak ada isinya hanya air yg saya minum. akhirnya saya baru bs tidur ketika jam 4 pagi setelah itu. tiba hari sabtu krn kepala saya masih panas dan kebetulan musim hujan dan banyak yg terkena Db saat itu org tua saya khawatir dan membawa saya ke UGD RS d dpn rmh saya(saat itu hari sabtu jam 9an mlm, mao tidak mao hanya bs ke ugd krn tidak ada internist yg praktek). setelah sampe sana diagnosa dokter tsb adalah infeksi radang tenggorokan krn dia melihat tenggorokan sperti itu. dan dari hasil tes darah trombosit saya masih 180.000 jadi masih diats normal sedikit akan tetapi bsk mesti cek darah lg. karena dia takut ini gejala DB awal. dia memberikan saya antibiotik crafit dan obat penurun panas, obat kunyah utk maag(saya tidak pernah punya penyakit maag tapi krn takut reaksi dari obat antibiotik saya diberikan). crafitnya kabel farma dikasih minum 2 x sehari wow 500mg diminum 2 x sehari. akhirna keesokan malamnya adalah hari minggu krn saya merasa tidak panas lagi bdn saya jadi saya tidak mengecek drh dan memilih menunggu apabila saya masih kurang sehat hari senin saja utk mengecek ke dokter spesialis. ya puncaknya di hari minggu malam tsb perut saya bnr2 sakit seperti diremas atau diperas ini terjadi pada bagian perut kiri dan kanan dan diikuti kesemutan dari kaki dan badan. awalnya kmrnyya jg sudah ada gejala seperti ini tapi masih ringan dan masih dapat saya atasi. akan tetapi di mlm itu bnr2 sakit sekali perut saya dan kesemutan itu terus menjalar. dan ketika sekitar jam 03.00-an itu tiba2 kesemutan itu sudah menjalar kepala saya dan wajah dan membuat mulut saya kaku atau otot2nya kaku rada sulit saya gerakan mulut saya. orang tua saya melihat seperti ini panik dan lgsg memutuskan membawa saya ke RS. saat itu saya lemes sekali seluruh tubuh saya sudah sangat lemas dan dibantu papa saya dan pembantu saya ditopang masuk mobil krn bener2 sudah tidak ada tenaga. orangtua saya memutuskan ke RS d dpn rmh saya krn itu yg paling terdekat dari rmh saya krn takut terlambat terjadi sesuatu yg tdk diinginkan. alhasil sampe di UGD sekitar jam 03.30 pintu RS UGD yg tulisannya 24 jam sudah tertutup dan kita mengetuk2 pintu sesaat baru dpt dibuka dan saya berbaring di ranjang UGD. dokter jaganya pun kelihatan bgt baru bangun dari tidur dan bbrp suster jg. sampe dsana yg ada dokter jaganya marah dan berkata mengapa baru jam segini dateng lg dan kenapa tidak mao dirawat di RS kmrnnya. orang tua saya pun hanya pasrah dan bersabar tidak dapat memprotes kpd pihak RS krn tulisannya 24 jam akan tetapi ketika penyakit menyerang kan tidak tahu kapan dan tiba2 menyerangnya alhasil dokter jaga tidak melihat kondisi saya dan memeriksa saya sedikitpun hanya menyuruh suster mengambil darah utk dilihat trombosit saya dan pergi begitu saja. saya saat itu masih menderita kesemutan akan tetapi otot wajah saya krn saya paksakan utk bergerak menjadi normal akan tetapi kesemutan itu masih ada dan perut saya yg melilit sudah hilang. setelah 1 jam menunggu hasil tes darah sambil kecewa dan kesal orangtua saya dgn sikap RS yg bertuliskan UGD 24jam memiliki pelayanan seperti ini. setelah dilihat ternyata trombosit saya meningkat akan tetapi lekosit saya jg meningkat. dan syukurnya dokter jaga tsb masih memberanikan kluar dan menemui kami tiba2 saya bangun dari ranjang (krn saya merasa sudah tidak kesemutan parah lg hanya tinggal sdikit) dan menghampiri orang tua saya utk mendengarkan penjelasan dari dokter krn dokter itu sama sekali tdk menghampiri saya. dokter menjelaskan situasinya krn saya ada infeksi kecil atau ringan menganjurkan crafit(antibiotik yg sdh diberikan kmrn) agar diteruskan dan reaksi perut yg melilit itu adalah penyakit maag saya yg tersembunyi krn saya sering telat makan. dicap saya punya penyakit maag saya tidak terima walaupun saya ada telat makan tapi selama ini seumur hidup saya tdk pernah merasakan sakit seperti tadi ataupun sakit maag. dia menjelaskan reaksi tsb akibat antibiotiknya dan ngotot penyakit maag saya yg tersembunyi. dan diganti obat penyakit maag yg sblmnya dgn yg lebih berat. setelah itu saya pulang dan kembali istirahat di rumah dan pagi harinya adalah hari senin tgl 19 jan 2009 kondisi saya saat itu panas badan saya tdk kambuh lagi, kesemutan di tangan dan sampe kepala masih tetap ada tapi datangnya tiba2 dan suka hilang dgn sndirinya, badan masih terasa blum fit lemes. sore harinya orangtua saya memutuskan membawa saya ke RS yg laen dan menemui internist. setelah itu saya ke internist dan dokter mendengarkan keluhan2 saya sehingga memutuskan tes darah lagi dan melakukan foto abdomen 3 posisi(ini saya keluhkan krn punggung dkt tulang blkg saya ada sedikit tidak enak ketika saya berbaring lurus ketika tidur). hasilnya trombosit saya 244.000 meningkat lagi akan tetapi lekosit jg meningkat lagi dan ada salah 1 dari 3 dengue yg menyatakan positif adalah Dengue Ig. G saya positif yg laennya negatif. jadi dokter tsb memutuskan diagnosa saya ad DB yg positif dan infeksi yg blum jelas dan menyarankan dirawat di RS krn saya blum pernah masuk RS dan orangtua saya jg takut biaya rawat inap RS besar jadi saya meminta dirawat di rmh dahulu akan tetapi bsk paginya harus diperiksa kembali untuk melakukan tes darah lagi. akhirnya malam itu senin saya pulang dan istirhatat akan tetapi mlm itu sampe pagi saya tidak dpt tidur krn kesemutan itu trus menyerang bdn saya dan perut saya jg melilit trus akan tetapi tidak sehebat mlm sblmnya yg menyerang perut saya. dan di pagi harinya kesemutan itu makin hebat membuat perut saya makin mual dgn hebat pada situasi sebelum2nya saya selalu menahan ketika mao muntah tapi di pagi hari itu hari selasa saya tidak dpt menahan lagi itu terjadi ketika saya sudah meminum antibiotik dan obat2 laennya saya muntah dgn hebat sampe kantong plastik besar itu penuh. melihat kondisi saya semakin buruk krn obat sudah tidak dpt menerima obat pagi itu buru2 saya menemui dr internist trakhir. setelah muntah hebat itu perut saya yg diingiri sembab tidak terlihat lagi hanya saya kesemutan2 itu masih ada dan sering terjadi. melihat kondisi seperti itu dan melihat hasil tes darah lagi di hari selasa pagi trombosit saya meningkat dokter menyarankan agar saya dirawat d RS supaya bs lebih dpt di observasi. akhirnya saya setuju karena sya pikir saya d rmh pun sulit tidur dan kondisi bdn saya semakin memburuk. akhirnya saya masuk RS akan tetapi seiring proses mencari kamar rawat inap kondisi saya membaik atau pulih perlahan2 kesemutan itu hilang dgn sndirinya dan mual2 saya hilang total setelah muntah hebat pagi td. saya menjadi pasien yg paling sehat yg dirawat di kamar tsb. krn dpt berjalan sendiri ke kamar rawat inap tanpa butuh bantuan dorongan d atas ranjang ataupun kursi roda. saat itu bnr2 kondisi bdn saya pulih hanya masih lemas. saya diinfus utk yg pertama kalinya seumur hidup saya. saya melakukan tes usg krn saya mengeluhkan sakit pada bagian perut saya kemarinnya dan uniknya itu hanya terjadi ketika pada kesemutan itu berlangsung dan setelah kesemutan itu hilang dlm beberapa waktu itu akan hilang dgn sndirinya sakit2 pada bagian perut saya tsb dan krn merasa saya sehat dan saya masih kuat untuk makan dan minum maka 2 hari saja saya dirawat tanpa ada keluhan sama sekali saya meminta dokter pulang dan dokter memberikan perjanjian utk saya tanda tangani. krn dokter khawatir pd mlm pertama saya dirawat tensi saya naik sampe 160 per berapa saya lupa. dan berhubung pada tes tensi saya normal seterusnya hanya 1 x yg tdk normal sisanya tdk ada keluhan yg berarti kesemutan itu sama sekali tidak timbul ketika 2malam dirawat di RS. dan pada hari rabu mlm dan saya sudah memutuskan besok pagi kluar mlm itu saya minta infus saya dicabut krn saya merasa sudah sehat dan tidak perlu infus krn saya masih dapat minum dan makan obat. hari kamis saya kluar dari RS tsb dan pulang ke rmh untuk mengerjakan pekerjaan saya yg sudah tidak terurus hampir seminggu, dan setelah itu saya harus memberikan pekerjaan saya hari itu dan ketika dalam waktu 3-4 jam kluar dari RS tsb saya mulai lagi merasa kesemutan pada jari2 tangan saya dan naik ke kepala krn merasa tidak sehat saya tidak berani utk pergi menyetir sendiri utk menyerahkan hasil kerjaan saya. maka saya meminta papa saya untuk mengantarkan saya. ketika dlm perjalanan kesemutan tsb semakin hebat dan membuat jari2 saya kaku dan berbentuk aneh atau meringkel seperti mencengkram tapi dengan bentuk yg sangat aneh. dan kesemutan tsb naek menjalar terus sehingga membuat mulut saya mengunci dan membuat saya sulit nafas krn dada saya dipenuhi dgn kesemutan yg luar biasa. saya menjadi agak sulit berbicara dan sulit bernafas saat itu saya cm bisa menangis melihat kondisi saya yg sudah agak sulit menggerakan anggota jari tangan saya dan sulit bernafas. syukurnya ada papa saya di samping saya untuk menemani saya mengantarkan pekerjaan saat itu jg langsung saya dibawa ke RS terdekat dan lgsg di bawa ke UGD. tiba di UGD saat itu tangan saya sudah kaku semua dan sulit bernafas saya diberikan oksigen dlm hidung dan ketika mao diinfus dan diambil darah saya jarumnya pengok krn otot2 di tangan saya kaku dgn susah payah akhirnya diganti lokasi infus tsb dan baru bisa diambil drh. hasil tes darah tsb lekosit 21.300,hemoglobin 12.1, hematokrit 36, trombosit 315.000, kalium 3.0, calsium total 7.75, natrium 137, clorida 101. dokter UGD memutuskan saya harus dirawat RS saya jg sudah pasrah bernafas saja saat itu saya menggunakan oksigen itu pertama kalinya saya menggunakan oksigen biasanya hanya melihat di film-film saja. dokter memutuskan saya harus MRICP keesokan harinya krn lekosit yg sampe 21.300 adalah infeksi yg besar yg mana apabila usus buntu saja itu sudah bernanah apabila lekosit sebesar itu. dan dokter jaga memberikan diagnosa kejadian saya susah bernafas sperti itu adalah imbalance atau dehidrasi kurang cairan elektrolit. mlm harinya saya di USG ulang karena saya mengeluhkan sakit di beberapa bagian perut saya. hasil usg masih tetap sama yg laennya wajar2 saja dan hanya pada ginjal bagian kanan saya ada titik hitam entah apa itu. yg mestinya bersih dibilang batu tapi tidak ada batunya. maka hari jumat sore datang dr urologi untuk memeriksa saya lebih lanjut di usg kembali dan dia mengatakan tulang belakang saya tidak normal krn bawaan dari lahir dan ini menyebabkan otot2 kencing saya kurang kuat sehingga sore itu saya dipasangkan kateter utk melatih otot2 kencing saya. sakitnya sungguh bukan main ketika kateter sudah dipasangkan bagaimana tidak saya seorang pria dipasang kateter sungguh sakit luar biasa saya hanya dapat terbaring trus di ranjang setelah itu dgn kesemutan2 yg kadang timbul. malam itu kesemutannya semakin dtg kembali dan menyebabkan saya jari tangan saya kembali kaku dan sulit bernafas kembali ketika kesemutan itu sudah menjalar ke bagian dada sehingga saya memerlukan oksigen kembali untuk bernafas. karena keadaan seperti itu saya diberikan beberapa suntikan2 kalsium untuk tidak seperti itu lagi. malam itu saya harus puasa makan dan minum karena keesokan paginya saya hrs melakukan MRICP, malam itu benar2 malam yg berat krn sakit dari kateter dan kesemutan itu kembali dan malam itu juga saya memerlukan oksigen kembali utk bernafas dan kesakitan itu sungguh membuat saya gelisah dan sulit tidur sampe saya harus dibantu dgn obat tidur baru dpt beristrirahat. jadi total hari jumat itu saya kesemutan dan sulit bernafas sampe 2 x di RS. hari sabtu stlh proses MRI CP saya kembali ke kamar rawat. dan terjadi kembali kesemutan itu hingga sulit bernafas kembali lagi2 saya diberikan suntikan lagi di infus saya utk membantu hal ini tdk terjadi lagi. setelah kesemutan itu hilang saya mao buang air besar krn sudah diberikan obat pencuci perut krn sudah 2 hari saya blum buang air besar dan pas sampe di WC ketika saya duduk kaki saya keram benar2 seperti sulit digerakkan saat itu masih kesemutan dan saya masih menggunakan oksigen utk bernafas dlm kamar mandi. beberapa kali di hari itu bolak balik ke WC karena saya diberikan pencuci perut untuk membuang kotoran2 saya. dan setiap kali duduk di WC kaki saya lemah lunglai dan keram dlm beberapa saat yang bs hilang dengan sndirinya. di sabtu sore itu saya kembali sulit bernafas padahal sudah menggunakan oksigen ksemutan itu kembali dgn daya yg hebat. setelah bbrp jam bisa bernafas kembali dgn normal tanpa ada rasa sesak di dada. jam 6-7 saat itu saya harus melakukan proses BNOP utk melihat lebih jauh ginjal saya karena sumber infeksinya blom ditemukan sebabnya lekosit saya masih 14.000-an. benar2 sungguh sulit hidup saya saat itu karena setiap hari darah saya diambil dan blom ada diagnosa yg jelas utk sumber lekosit saya saat itu. saya benar2 stress saat itu. bagaimana tidak saya ada infeksi tapi blom dpt ditemukan sumbernya dan diagnosa dokter hanya kekurangan kalsium atau zat2 elektrolit yg menyebabkan kesemutan itu. ketika saya mao di proses BNOP dan sudah disuntik dan tgl proses fotonya saya kembali kesemutan yg hebat krn sebelum di BNOP saya masih kesemutan tapi hanya skala kecil tidak hebat. tapi di ruangan tsb sungguh hebat kesemutan itu terjadi dan membuat proses tsb batal krn saya tdk dpt melanjutakan proses itu. buru2 saya dilarikan ke kamar dan diperiksa oleh dokter. dokter mengatakan respirasi saya bagus dan saya harus tetap berusaha untuk bernafas. mlm itu merupakan puncak titik sakit saya karena selama berjam2 kesemutan itu tidaklah hilang2 dan semakin menjalar trus sehingga kaki2 saya sudah agak sulit digerakkan. mulut saya mengunci sulit utk berbicara dan saya paksakan berbicara bahasa saya terdengar agak aneh sampe2 dokter bertanya apakah pasien cadel. sungguh hebat kesemutan itu sampe2 dada saya terasa kaku dan ketika turun ke perut organ2 badan sya terasa seperti kehilangan fungsinya saya hanya bs menangis dan berkata dokter saya masih mao hidup tolong saya. saat itu dokter jaganya sungguh2 baik hati dia merawat saya tanpa perasaan takut atau ragu2 mendekati saya memberikan saya semangat utk tetap bernafas dari hidung ataupun dari mulut. saya mencoba trus bernafas dari mulut krn hidung saya sudah sangat sulit menarik nafas. dari smua yg saya alami proses trakhir tsb adl yg paling sulit krn kaki saya sudah benar2 kaku sudah benar2 sulit bergerak walaupun saya ingingkan. jari2 tangan saya meringkel ketika jari2 saya dipaksakan untuk lurus ketika dilepas tetap bgitu lagi kembali meringkel. saat itu saya benar2 takut untuk kehilangan nyawa saya bagaimana tidak ketika anda sudah sangat sulit bernafas, sulit menggerakan organ tubuh seperti kaki dan tangan, sulit utk berbicara krn mulut terasa terkunci saya hanya bisa menangis dan bertanya kepada tuhan apabila ia menghendaki tubuh saya malam itu ambilah tetapi jgn memberikan pencobaan yg lebih yg tidak saya sanggup melewati. malam itu keluarga saya berkumpul smua terasa sekali duka mereka saya hanya bisa menangis dan merasa senang sekali mereka dpt menemani saya. adik sayapun yg dari luarkota bergegas ke jakarta datang melihat kondisi saya saat itu. setelah itu berjam2 saya masih sulit bernafas dokter kepala lgsg mengambil tindakan karena suntikan2 yg lwat infus tangan sudah tidak mempan dan takut menyebabkan pembuluh darah pecah. maka dokter memutuskan untuk memasang infus lewat pembuluh nadi besar yg di dada saya lgsg ke jantung. biayanya utk memasang infus tsb 1jt lbh blom termasuk ongkos dokter anesthesianya. sambil kesemutan2 hebat saya dibius dan sambil dibantu respirasi lewat kantung plastik krn oksigennya tidak mampu lagi membantu saya bernafas saya mesti bernafas lewat mulut. setelah dibius dan dipasang infus tsb dan diberikan obat2an mlm itu lancar saya tidur. hari minggu kondisi saya sudah membaik sudah tidak ada kesemutan yg sangat menggangu itu timbul lagi. saya melewati hari imlek di RS terbaring dgn lemas tapi keluarga menjenguk dan teman dtg menjenguk sungguh sebuah hadiah yg berarti buat saya. akhirnya setelah pada tgl 28 jan 2009 kmrn saya keluar dari RS dgn catatan lekosit masih 11.300 dan sampe skrg saya masih berobat untuk melihat perkembangan kesehatan saya. tgl 30 jan 2009 saya check up plus check drh lekosit saya bertambah kembali di angka 14.300. loh koq setelah keluar dari RS dan tanpa ada keluhan lekosit saya masih tinggi. dokter mengatakan mungkin lekosit itu merupakan reaksi2 obat2an kmrn dan menyuruh saya menghabiskan antibiotiknya dan check up kembali dlm 1 bln kemudian dgn cek darah lengkap plus urine dan faeces pd akhir februari 2009 ini. karena saya penasaran dan takut lekosit saya masih aktif akhirnya 2 hari yg lalu saya cek darah kembali ternyata lekosit saya sudah di angka 6900 sudah sangat lega saya melihat kondisi itu. tetapi hematokrit dan hemoglobin saya masih dalam tahap di bawah rata2. semoga pada jadwal pemeriksaan saya ke dokter nanti pd akhir feb ini tidak ada apa2. alhasil sampe saat ini saya sehat2 saja 100% organ tubuhpun juga hanya masih lemas2 pada organ tubuh blom pulih 100% layaknya ketika saya sehat. dan saya sunggu bersyukur krn tidak ada anggota tubuh saya yg lumpuh atau cacat akibat sakit tsb. sakit saya tsb sampe 2 hari yg lalu masih saya anggap saya kurang zat2 elektrolit kmrnnya seperti diagnosa dokter trakhir. sampe ketika tmn saya menyuruh saya membaca sebuah artikel di majalah good housekeeping edisi februari 2009 ini. artikel yg menceritakan lumpuh karena sakit flu. saat itu saya terkejut krn ciri2nya mirip sekali dgn sakit yg pernah saya alami kmrnnya. contohnya adalah mual2,kesemutan yg menjalar, sulit bernafas, perut yg terasa seperti diperas, lekosit yg meninggi. sampe akhirnya saya googling utk mencari tau tentang GBS lebih lanjut seperti hari ini saya juga blom tau apakah sakit saya kemarin itu adl GBS krn saya blom bertemu dokter kembali untuk menanyakan ttg GBS lebih lanjut. silahkan utk teman2 yg punya gejala sama dpt menghubungi saya di email love_and_racing@yahoo.com utk berbagi pengalaman mengenai ini. terima kasih bagi internet yg sudah sangat berkembang luas di tanah air kita sehingga saya dapat menemukan banyak artikel tentang GBS. syukurlah saya tidak ada cacat yg saya alami pada tubuh saya saat ini TERIMA KASIH DAN PUJI TUHAN atas segalanya.

  4. Yosua mengatakan:

    saya sedang mencari info berhubungan dengan penyakit ini, dan menurut saya, kesaksian ini sangat bagus dan sangat membantu saya.. saudara sepupu saya saat ini sedang dirawat di rumah sakit sejak hari minggu dini hari. 2 hari sebelumnya, ia merasakan tidak enak badan dan flu. dia mengira hanya kecapekan (karena dia baru pulang dari luar kota). esoknya ia merasakan kesemutan di kaki dan tangan. hingga akhirnya pada hari minggu pukul 00.00 ia di bawa ke rumah sakit, dan pukul 1.30 diputuskan oleh dokter untuk mondok di rumah sakit hingga saat ini.. saat ini dia telah diperiksa oleh 2 dokter. yang 1 mengatakan ia mengidap SGB, yang 1 mengatakan itu bukan SGB. saya sendiri kurang jelas penyakit apa itu. karena saya tidak berada 1 kota dengan saudara saya ini..

    tetapi setelah saya membaca kesaksian Bu Tini, saya menjadi sedikit tenang, dan optimis kalau saudara saya bisa sembuh..

    mohon doa untuk kesembuhan saudara saya ya..
    terima kasih..

  5. wulan mengatakan:

    apakah penyakit ini bisa kambuh lagi???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: